AdaApaDG-MU

AdaApaDG-MU

Belajarlah pada Sejarah

Al-Qur’an menjelaskan keterkaitan antar waktu dalam konteks perilaku yang saling menentukan. Surat al-Hasyr ayat ke-18 mengingatkan, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) …”

Melihat masa lalu dalam konteks ayat tersebut dimaksudkan sebagai ikhtiar mengaca diri untuk mempersiapkan hari esok yang lebih baik. Jadi bukan untuk meluapkan emosi kebahagiaan karena perubahan angka yang menjadi simbol pergantian tahun. Bahkan dalam ayat yang lain al-Quir’an menegaskan bahwa perjalanan waktu itu merupakan ruang-ruang kehidupan yang tidak boleh kosong dari amal perbuatan.

“Faidza faraghta fanshab”. Jika telah menyelesaikan satu pekerjaan, maka mulailah dengan pekerjaan yang lainnya.Berkarya sendiri adalah ciri manusia berbudaya. Oleh karena kebudayaan selalu terkait dengan dimensi waktu, maka karya manusia pun akan selalu diwarnai oleh waktu. Wajar apabila nuansa peristiwa yang terjadi pada suatu zaman berbeda dari zaman yang lainnya. Sebab suatu peristiwa pada dasarnya merupakan ekspresi manusia yang dikendalikan oleh hasrat-hasrat personal dan lingkungan sosial yang mengitarinya. Hasrat-hasrat personal ini pula yang membedakan interpretasi atas gejala-gejala yang terjadi di seputar lingkungan sosialnya. Perbedaan kepentingan politik, misalnya, akan membedakan cara pandang seseorang ketika melihat ruang sosial yang disebut dengan Indonesia ini.Kita dapat menelaah ulang ekspresi-ekspresi kebudayaan yang diperankan bangsa kita sepanjang tahun 2002.

Di satu sisi, sejarah 2002 merupakan kumpulan peristiwa yang sarat dengan tindak kekerasan. Konflik-konflik sosial yang mengatasnamakan agama, etnik, ataupun cita-cita politik terjadi di mana-mana. Kebersamaan dan solidaritas sosial yang telah terbangun menjadi identitas masyarakat selama ratusan tahun tiba-tiba berubah menjadi persaingan dan perpecahan. Kenyataan ini diperparah lagi dengan daya tahan masyarakat yang semakin lemah karena keterpurukan ekonomi yang hingga berakhirnya tahun ini tak kunjung reda.Banyak usaha telah dilakukan untuk mencari jalan keluar dari kemelut seperti itu. Tapi hingga tahun 2002 berakhir, solusi itu masih sulit dirumuskan. Mungkin karena usaha itu masih belum menyentuh pesan-pesan moral yang pernah disampaikan Nabi.

Di samping ikhtiar rasional berdasarkan gejala-gejala yang tampak ke permukaan, Nabi pun mengingatkan untuk tidak lupa menebarkan keselamatan, memelihara semangat persaudaraan, tidak lupa berbagi dengan mereka yang membutuhkan, dan senantiasa berusaha tidak menunda bangun malam.Inilah nasihat Rasulullah terutama untuk melunakkan kesadaran sosial sekaligus menghindari kekerasan. Kekerasan bukan penyelesaian.

Terlalu banyak bukti-bukti sejarah yang menggambarkan betapa rapuhnya ketahanan masyarakat yang menempuh jalan kekerasan. Al-Qur’an sendiri sengaja banyak mengungkap kisah-kisah tentang kegagalan yang diderita umat manusia terdahulu. Bercerminlah UNTUK menata masa depan sejarah.

MOMENTUM MAWAS DIRI

Agama memberikan dua solusi sebagai jalan untuk mengenal kekurangan diri kita.

Pertama, kita melakukan “muhasabah” (introspeksi) dengan jujur dan sportif. Kita mengenal dan menyadari kekurangan diri kita.

 Kedua, agama memerintahkan untuk membangun budaya tausyiah yaitu saling wasiat mewasiati, saling menyadarkan tentang kekurangan dan kesalahan diri kita. Apalagi kalau kita mengingat apa yang diajarkan oleh agama kita, bahwa kesulitan, kepahitan dan penderitaan yang sempat kita alami dan kita rasakan pada tahun-tahun yang lalu, itu adalah tidak lepas daripada apa yang kita lakukan. Qur’an mengisyaratkan, “wamaa ashoobaka min sayyatin famin nafsih”. Musibah derita dan kepahitan yang kamu rasakan itu tidak lepas daripada ulahmu juga atau kesalahan kita sendiri.                

 Ketika Allah Swt menerangkan tentang kerusakan di daratan dan di lautan sebagaimana juga yang kita rasakan sekarang, al-Qur’an langsung menyatakan, ini adalah karena tangan-tangan manusia, “zhoharol fasaadu fil barri wal bahri bimaa kasabat aidinnaas”. Terjadinya kesalahan, kerusakan di daratan dan lautan, itu semua diakibatkan oleh karena tangan-tangan manusia. Jangan salahkan alam dan musim, apalagi menyalahkan Tuhan. Tetapi harus menyalahkan manusia. Karena itu tidak lepas dari ulah manusia.      

       Begitu pula ketika kita melakukan evaluasi, kita menyadari akan sejumlah kegagalan, kelemahan, dan mungkin juga kepahitan yang sempat kita alami. Kita wajib melakukan introspeksi, mungkin karena kesalahan, kealpaan dan kebodohan kita. Karena itu, Rasulullah Saw menyampaikan sebuah pesan yang indah sekali, yaitu beliau menyatakan, “Seorang mukmin itu kalau dia terlanjur terperosok pada sebuah lubang, maka cukup sekali. Itu boleh dikatakan karena musibah dan takdir Allah. Tetapi kalau terperosok di lubang yang sama, berkali-kali dia harus menyatakan bahwa didalamnya ada muatan kebodohan, ketololan atau mungkin kekurang hati-hatian. Artinya kita tidak bisa mengambil pelajaran dari kegagalan masa silam. Baik sekali untuk direnungkan, apa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw itu. Kesulitan, kepahitan, krisis yang menimpa kepada bangsa kita, itu adalah tidak lepas dari kesalahan kita sebagai umat manusia.          

   Setelah kita menyadari akan kekurangan diri, jangan pula diratapi atau ditangisi. Sebab itu tidak akan memberikan arti. Begitu juga kesuksesan dan kenikmatan yang kita dapatkan, janganlah menyebabkan kita menjadi sombong. Larut di dalam kejayaan masa silam. Akan tetapi dikatakan oleh ayat tadi, semuanya itu harus dijadikan bekal di masa akan datang (lighod). Semuanya itu harus menjadi guru bagi diri kita. Seorang mukmin yang baik adalah mereka yang pandai mengambil pelajaran dari apa yang sempat dialami di masa silam, untuk kejayaan di masa akan datang.         

    Selanjutnya al-Qur’an memberikan panduan kepada kita yaitu apabila kita telah mengakhiri satu periode kehidupan, maka janganlah kita habiskan waktu untuk menyesali kesulitan yang telah berlalu dan kemudian melahirkan sebuah sikap dendam terhadap perilaku masa yang lalu. Tetapi langkah yang paling baik adalah dengan bersegera berdiri tegak untuk melaksanakan tugas yang baru. Kita akan memperoleh kejayaan, kebangkitan dan juga kemenangan, kalau kita banyak berfikir apa yang harus kita lakukan sekarang dan akan datang. Sebuah bangsa tidak akan mengalami kemajuan, apabila selalu disibukan dengan fikiran masa silam. Tidak memiliki alternatif renungan untuk masa yang akan datang.        

     Al-Qur’an memberikan amanat, apabila kamu menyelesaikan satu periode kehidupan atau mungkin juga suatu masa tugas, segera berdiri kembali melaksanakan tugas yang baru. Ayat ini oleh Allah dinyatakan dengan statement yang Maha Kuasa, yang diulang dua kali, “Inna ma’al ‘ushri yusro, inna ma’al ‘ushri yusro”. Sesungguhnya beserta kesulitan itu, selalu ada kemudahan. Betul-betul, beserta kesulitan itu ada kemudahan. Ayat ini mestinya memberikan optimisme kepada kita. Tidak ada kesulitan dan penderitaan yang abadi.

Semua yang terjadi di dunia ini, pasti fana dan ada akhirnya.Ada sebuah nasehat. Ketika kita mengalami kesulitan, kepahitan dan penderitaan, maka cobalah senyum sejenak. Sebab ini pertanda bahwa kita akan masuk kepada suasana yang baru.  Yakni kesuksesan dan kemenangan. Sebaliknya, pada saat kita memperoleh kesuksesan serta kemenangan, maka cobalah untuk merenung sejenak. Sebab ini pertanda bahwa kita akan menghadapi situasi yang sebaliknya. Karena itu adalah bagian dari sunnatullah.

Kesulitan, kepahitan,  kemudahan dan kegembiraan itu, diciptakan Allah Swt berputar sedemikian rupa, silih berganti menimpa kepada setiap manusia.

Rumah Seribu Cermin

Di sebuah desa kecil, ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama “Rumah Seribu Cermin”. Suatu hari seekor kucing kecil sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi “Rumah Seribu Cermin”. Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya.

Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi, ekornya bergerak-gerak secepat mungkin. Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seribu wajah ceria kucing-kucing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia tersenyum lebar, dan seribu wajah kucing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangat dan bersahabat. Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, “Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat saya akan kembali mengunjunginya sesering mungkin.”

Sesaat setelah kucing itu pergi, datanglah kucing kecil yang lain. Namun, kucing yang satu ini tidak seceria kucing yang sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu. Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu. Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah kucing kecil yang muram dan tidak bersahabat. Segera saja ia mengeong keras-keras, dan dibalas juga dengan seribu suara kucing yang menyeramkan. Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya sendiri, “Tempat ini sungguh menakutkan, saya takkan pernah mau kembali ke sini lagi.”

Seringkali gambaran atau kesan tentang wajah yang ada di dunia ini, yang kita lihat adalah cermin gambaran dan kesan dari wajah kita sendiri. Kalau kita mengesankan keramahan, maka dunia akan tampak ramah. Kalau dunia terasa suram, mungkin itu karena kesan yang kita berikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *