FYI BOSQUE

FYI BOSQUE

Hakikat Dunia

Sahabat yang mulia, Jabir bin Abdullah, mengabarkan bahwa Rasulullah pernah melewati sebuah pasar hingga kemudian banyak orang yang mengelilinginya. Sesaat kemudian beliau melihat bangkai anak kambing yang cacat telinganya. Beliau mengambil dan memegang telinga kambing itu seraya bersabda, ”Siapa di antara kalian yang mau memiliki anak kambing ini dengan harga satu dirham.” Para sahabat menjawab, ”Kami tidak mau anak kambing itu menjadi milik kami walau dengan harga murah, lagi pula apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Kemudian Rasulullah berkata lagi, ”Apakah kalian suka anak kambing ini menjadi milik kalian?” Mereka menjawab, ”Demi Allah, seandainya anak kambing ini hidup, maka ia cacat telinganya. Apalagi dalam keadaan mati.” Mendengar pernyataan mereka, Nabi bersabda, ”Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini untuk kalian.” (HR Muslim).

Pada suatu waktu, Rasulullah memegang pundak Abdullah bin Umar. Beliau berpesan, ”Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau orang yang sekadar melewati jalan (musafir).” Abdullah menyimak dengan khidmat pesan itu dan memberikan nasihat kepada sahabatnya yang lain. ”Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya, bila engkau berada di pagi hari, janganlah engkau menanti datangnya sore. Ambillah (manfaatkanlah) waktu sehatmu sebelum engkau terbaring sakit, dan gunakanlah masa hidupmu untuk beramal sebelum datangnya kematianmu.” (HR Bukhori).

Allah SWT berpesan pada pelbagai ayat tentang hakikat, kedudukan, dan sifat dunia yang memiliki nilai rendah, hina, dan bersifat fana. Dalam surat Faathir ayat 5, Allah menekankan bahwa janji-Nya adalah benar. Dan, setiap manusia janganlah sekali-kali teperdaya dengan kehidupan dunia dan tertipu oleh pekerjaan setan.

Di ayat lain dalam surat Al-Hadid ayat 20, Allah berfirman, ”Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

”Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Kahfi: 45).

Salam untuk Semua

Salah satu ajakan Allah SWT kepada semua umat manusia adalah ajakan untuk masuk ke dalam wilayah salam yang penuh dengan kenikmatan dan ketenteraman sejati. Firman-Nya, ”Allah mengundang kalian untuk masuk ke Darus-Salam, dan Dia akan memberikan petunjuk pada siapa yang Ia kehendaki.” (Yunus: 25).

Setiap manusia menginginkan kebahagiaan, kedamaian, ketenangan, kesentosaan, kesejahteraan, dan ketenteraman dalam hidup dan kehidupannya. Namun, tidak selamanya semua itu tercapai dengan sempurna dan mulus. Penyebabnya adalah karena masih adanya sikap-sikap sekelompok manusia lain yang justru membuat segala impian dan harapan itu menjadi lenyap sirna atau terhambat.

Dalam Alquran, kedamaian, ketenangan, kesentosaan, kesejahteraan, dan ketenteraman, diistilahkan dengan kata salam. Surga disebut dengan Darus-Salam karena orang yang masuk di dalamnya akan merasakan itu semua. Allah SWT menyifati diri-Nya dengan As-Salam karena Dia adalah Zat yang memberikan salam kepada makhluk-makhluk-Nya. Salam adalah tujuan akhir yang umat manusia mesti raih. Namun, meraih salam tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak tantangan yang mesti dilewati. Tantangan terberat dan utama sebenarnya ada pada diri manusia itu sendiri. Apakah kita berkeinginan kuat untuk menciptakan salam di dunia atau tidak.

Jika seseorang sudah berniat kuat untuk meraih salam, maka Allah SWT akan menunjukkan langkah-langkah yang mesti dilakukan sekaligus mempermudah untuk itu. Namun, jika ia enggan, malah melawan-Nya, maka Allah SWT akan meninggalkannya dalam kesesatan. Hidupnya akan terlunta-lunta karena tanpa pegangan dan tujuan. Akhirnya ia hanya menjadi penghambat orang dalam meraih salam.

Terkadang kita selalu memimpikan salam, namun dalam praktik sehari-hari kita, ternyata kita sering lupa, sehingga apa yang kita inginkan dan yang kita lakukan tidak sejalan. Orang menginginkan salam, tapi melalui cara-cara yang kotor dan tak terpuji. Niat menciptakan salam akhirnya menjadi terabaikan, bahkan terlupakan.

Untuk mengingatkan kembali akan tujuan umat manusia meraih salam, secara sederhana Nabi SAW sebenarnya telah mengajarkan, yaitu dengan selalu menyebarkan salam kepada setiap orang, baik itu yang dikenal maupun yang tidak, sebagai wahana untuk saling mengingatkan bahwa salam adalah tujuan manusia. ”Ucapkanlah salam kepada orang yang kau telah kenal dan tak kau kenal,” sabda Rasulullah SAW. (HR Bukhari). Beliau melanjutkan, ”Sesungguhnya Allah adalah As-Salam, dan menyuruh umat manusia untuk menciptakan salam itu di dunia, demi meraih salam abadi di akhirat kelak.” (HR Bukhari).

Dunia yang kosong dari salam akan terisi dengan kekerasan dan kekacauan. Salam adalah alternatif tunggal untuk menciptakan tatanan hidup dan kehidupan umat manusia yang harmonis, sesuai dengan yang Allah SWT ajarkan. Karena itu, salam mesti disebarkan pada setiap orang. Sehingga, kita mampu mewujudkan dunia dan akhirat yang salam. Wallahu a’lam.

Seni untuk Kebaikan

Cinta pada keindahan adalah kecenderungan tiap manusia. Ia adalah fitrah yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia. Dia memberi kebebasan kepada setiap manusia untuk mengekspresikan keindahan yang merupakan nalurinya. Manusia diperkenankan melakukan kreativitas yang mendukung fitrahnya.

Allah SWT membuktikan kepada manusia bahwa Dia adalah Sang Pencipta keindahan. Salah satu nama Allah SWT dalam al-Asma al-Husna adalah al-Badi’ yang berarti bahwa Dia adalah Tuhan yang selalu mendesain sesuatu dengan indah. Indahnya alam raya dengan segala isinya adalah bukti bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang Mahaindah. Rasululah SAW menegaskan, ”Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan mencintai keindahan.” (HR Muslim)

Dorongan fitrah manusia untuk mengekspresikan potensi keindahan telah melahirkan aktivitas yang disebut dengan seni. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Dengan seni berarti manusia telah mengembangkan salah satu potensi yang ada dalam dirinya. Seni juga telah mampu menumbuhkan kepekaan jiwa manusia terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Seni yang sesuai dengan fitrah manusia dan dikehendaki oleh agama adalah seni yang mendukung kesucian fitrah. Seni yang mampu memotivasi semangat hidup manusia, menajamkan nurani, meninggikan spiritualitas, dan menjadi tempat persemaian nilai-nilai luhur. Nilai seni tidak terletak pada bentuk atau aktivitasnya tetapi pada substansinya yang merefleksikan kesucian fitrah manusia. Dalam hal ini ulama berpengaruh dari Mesir, Muhammad Qutub, berpendapat seni yang Islami adalah seni yang dapat menggambarkan wujud alam, kehidupan, dan manusia dengan ‘bahasa’ yang indah serta sesuai dengan cetusan fitrah. Ia adalah ekspresi jiwa yang menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan.

Seni tidak boleh dijadikan alat untuk bebas beraktivitas dalam hal-hal yang jelas-jelas melanggar etika, norma, dan kesusilaan. Kebebasan mengekspresikan keindahan tidak serta-merta menolerir setiap orang untuk berbuat apa saja dengan mengatasnamakan seni. Seni bukan media eksploitasi keindahan tubuh manusia, erotisme, sensualitas, dan aspek lain yang hanya menyangkut sisi jasmaniah manusia. Jika itu yang terjadi, maka seni menjadi sebab terpuruknya manusia ke dalam jurang kehinaan dan kenistaan.

Muhammad Imarah, seorang pemikir Islam Mesir, menegaskan seni hendaknya membawa manfaat bagi manusia, mampu mengabadikan nilai-nilai luhur dan menyucikannya serta memperhalus dan mengembangkan rasa keindahan dalam jiwa manusia. Itulah seni yang merupakan nikmat Allah SWT kepada manusia. Tetapi, jika seni hanya menjadi media pembangkangan dan kekufuran manusia, maka seni akan berganti menjadi bencana bagi kehidupan manusia.

Allah SWT berfirman, ”Di antara manusia ada yang menggunakan kata-kata yang tidak bermanfaat untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan, dan menjadikan jalan Allah itu sebagai bahan olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh siksa yang menghinakan.” (Luqman: 6).

Karena itu, apa pun bentuk aktivitas seni, hendaknya berorientasi kepada pelestarian nilai-nilai luhur dan memberi manfaat bagi orang banyak. Wallahu a’lam.
ENTE MAU PERGI KEMANA ?
Fa Aina Tadzhabuun? فأين تذهبون

Tujuan hidup yang harus kita miliki dan jalani sangatlah kompleks.

Seorang sufi mendadak pingsan ketika sedang membaca al-Qur’an ayat 26 surat At-Takwir yang berbunyi: Fa aina tadzhabuun? (Ke mana kalian akan pergi?).

“Tentang tujuan, tak menjadi masalah bagiku, karena aku sudah tahu; yaitu hadirat Allah SWT. Dan untuk sampai ke sana, harus melalui tahapan-tahapan, mulai dari kematian, alam kubur, kebangkitan dan pengadilan. Yang menjadi masalah, apakah aku memiliki bekal untuk menyelesaikan tahapan-tahapan tersebut? Apakah aku memiliki sesuatu yang berharga untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT, kecuali diriku yang hina dina tanpa amal kebajikan sedikitpun.”
BOS, FA AINA TAZDHABUUN ?
SAHABAT SETAN

Setan dapat merusak, terutama jika kita terus mendengarkan mereka.

Menurut seorang ahli hikmah, setan mempunyai sahabat di kalangan manusia;
terdiri dari sepuluh jenis yaitu :
1. pemimpin yang menyeleweng,
2. orang yang sombong,
3. orang kaya yang tidak mempedulikan asal-usul kekayaannya serta
tidak peduli dalam membelanjakannya,
4. ulama yang mendukung penyelewengan penguasa,
5. pedagang yang curang,
6. penimbun makanan pokok,
7. pezina,
8. pemakan riba,
9. orang kikir dan
10. peminum alkohol.

HATI-HATI BOSQUE !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *