ManUsiA

ManUsiA

Manusia Organik (Al-Basyar) dan Manusia Sempurna (Al-Insan)

Di dalam Al-Kitab, istilah al-basyar muncul untuk menggambarkan wujud fisikologis bagi entitas hidup yang mempunyai ciri kehidupan, sebagaimana makhluk-makhluk hidup lainnya. Kemunculan manusia organik sebagai entitas hidup yang independen dibedakan dari cara kemunculan binatang:

“Dia menciptakan kalian dari diri yang satu kemudian Dia jadikan darinya pasangannya dan Dia menurunkan untuk kalian delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kalian dalam perut ibu kalian kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (membuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kalian, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia, maka bagaimana mungkin kalian mau dipalingkan?” (Al-Zumar: 6)

Pada ayat ini kita melihat bahwa adanya manusia organik satu masa dengan kemunculan binatang. Dan bagaimana manusia di dalam rahim ibunya melewati semua tahapan evolusi yang mencakup tiga kegelapan yaitu, fase al-bahriyyah, fase al-hayawâniyyah—bahriyyah—al-barriyyah, dan fase al-hayawâniyyah—al-barriyyah. Ketika Al-Kitab menjelaskan salah satu dari fase penciptaan manusia dalam pengertian umum, maka yang demikian itu adalah dengan membandingkannya dengan jin. Dia berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (Al-Hijr: 26), “Dan Kami telah menciptakan jin sebelumnya dari api yang sangat panas.” (Al-Hijr: 27)

Sedangkan ketika Dia memberikan penjelasan secara detail Dia mengikutkannya dengan, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.’” (Al-Hijr: 28). “Maka ketika Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya rûh-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.” (Al-Hijr: 29).

Setelah peniupan rûh, Allah memerintahkan iblîs untuk bersujud, akan tetapi ia menjawab, “Iblîs berkata, ‘Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada basyar yang Engkau ciptakan dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk’” (Al-Hijr: 33). Di dalam surah Shâd, Allah juga berfirman, “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan basyar dari tanah.’” (Shâd: 71). “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan kepadanya rûh-Ku, tunduklah kalian kepadannya dengan bersujud.” (Shâd: 72).

Telah kami katakan bahwa al-khalq adalah menentukan ukuran sebelum direalisasikan. Oleh sebab itulah ketika Dia berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan basyar”, maka yang dimaksudkan adalah bahwa basyar belum ada. Oleh sebab itulah Dia berfirman, “dan Aku tiupkan rûh-Ku”. Antara perancangan (al-khalq) dan penyempurnaan (al-taswiyyah) terdapat kata idzâ yang merupakan huruf yang menunjukkan keterangan waktu untuk waktu yang akan datang. Oleh sebab itulah Dia berfirman:

“Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah yang mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).” (Al-Rûm: 20)

Lalu digunakannya dua huruf ini (idzâ dan tsumma) secara bersamaan terdapat di dalam firman-Nya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan-Mu dari debu, lalu [tsumma] ketika [idzâ] kalian telah menjadi basyar yang tersebar”, adalah karena adanya perbedaan waktu yang panjang antara fase debu—yang merupakan materi-materi non-organik—dengan fase basyar. Fase ini menghabiskan ratusan juta tahun. Telah dijelaskan bahwa penyebaran di bumi terjadi pada fase basyar sebelum peniupan ruh dan bahwa manusia tersebar sebelum memasuki fase manusia sempurna. Al-basyar adalah bentuk material hewani fisikologis yang nampak bagi manusia, karena manusia adalah entitas manusiawi yang jinak dan tidak liar (“berciri sosial”).

Penciptaan manusia telah digeneralisasikan secara umum pada permualaan proses penurunan, “(Tuhan) yang telah menciptakan manusia dari ‘alaq.” (Al-‘Alaq: 2). Al-‘alaq berasal dari ‘a-la-qa yang dalam bahasa Arab dikatakan ‘allaqa bih dan ‘allaqa-hu yang artinya adalah mengangkat. Ini sebagaimana perkataan Jarîr ketika mencirikan sifat pemberani, “Ketika kukunya menggantung pada tanduk”, “Hati menjadi kecut atau tabir menjadi robek” (Al-Zamahsyarî, Asâs Al-Balâghah, hal. 311).
Di dalam kitabnya Ibnu Fâris, huruf ‘ain, lam dan qaf (‘a-la-qa) merupakan akar kata yang luas, yang sebenarnya menunjukkan kepada satu makna, yaitu ikutnya sesuatu dengan sesuatu yang lain. Lalu dalam penggunaannya secara kebahasaan kata tersebut berkembang yang kemudian salah satu maknanya adalah darah yang beku atau kental.

Para ahli tafsir memahami al-‘alaq dengan darah yang membeku. Ini adalah penakwilan yang samasekali tidak sesuai dengan kenyataan yang disebabkan karena ketidaktahuan mereka mengenai adanya sel sperma, ovum, dan pembuahan ovarium.

Al-‘alaq adalah menciptakan sesuatu dengan susuatu yang lain. Bentuk tunggalnya adalah ‘alaqah. Oleh sebab itulah Dia befirman, “Dari nuthfah lalu dari ‘alaqah”. ‘Alaqah ditempatkan setelah nuthfah yang merupakan bentuk tunggal. Yang dimaksdukan oleh ayat tersebut adalah, masuknya sel seperma ke ovarium (keterkaitan sesuatu dengan sesuatu yang lain). Inilah yang dinamakan dengan pembuahan yang dalam istilah modern kita sebut sebagai “relasi” (‘alaqah). ‘Alaq adalah bentuk jamak dari ‘alaqah yang maksudnya adalah banyak relasi (‘alâqât). Adapun firman-Nya, “(Tuhan) yang telah menciptakan manusia dari ‘alaq”, maksudnya adalah bahwa manusia diciptakan dari sekumpulan relasi-relasi. Relasi-relasi ini yang dalam istilah modern adalah relasi-relasi fisika, kimia, mineral, organik, biologis dan sebagainya.

Lalu kita perhatikan bahwa firman-Nya, “(Tuhan) yang telah menciptakan manusia dari ‘alaq” muncul pada permulaan wahyu untuk mengingatkan bahwa wujud material adalah akumulasi besar dari hubungan-hubungan yang saling memasuki. Dari hubungan-hubungan ini—bukan dari luar—sempurnalah penciptaan. Itu untuk menunjukkan bahwa wujud material di luar kesadaran manusia adalah akumulasi dari sekian banyak hubungan [relasi].

1. Ayat-ayat yang di dalamnya menyebutkan al-basyar
Yang dimaksudkan adalah al-basyar sebagai wujud fisikologis material. Yang demikian itu untuk menunjukkan spesiesnya sebagai al-basyar yang bukan malaikat ataupun dari jenis yang lain:

  1. “Maryam berkata, ‘Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, sedangkan aku belum pernah disentuh oleh basyar.’” (âli ‘Imrân: 47). “Maryam berkata, ‘Bagaimana aku mempunyai seorang anak laki-laki, padahal tidak pernah seorang basyar pun menyentuhku dan aku bukanlah seorang pezina!’” (Maryam: 20). “Lalu Kami mengutus rûh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya dalam citra basyar yang sempurna.” (Maryam: 17). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Maryam melihat rûh Tuhan dalam citra seorang basyar, bukan malaikat ataupun jin. Oleh sebab itu Dia berfirman, “[basyaran] sempurna [sawiyyâ].”
  2. “Tidak wajar bagi seseorang basyar yang Allah memberikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, ‘Hendaklah kalian menjadi hamba-hambaku dan bukan hamba Allah.’” (âli ‘Imrân: 79). “Dan tidak ada seorang basyar pun yang Allah berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan izin Allah apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Maha Bijaksana.” (Al-Syûrâ: 51). Di sini ditegaskan cara pewahyuan untuk jenis basyar [al-busyrâ]. Sebab jika ia adalah jenis lain, maka tentunya sangat mungkin adanya cara pewahyuan selain dari yang telah disebutkan, sebagaimana cara pewahyuan kepada lebah yang dalam hal ini lebah bukanlah basyar. “Dan (Dia) mewahyukan kepada lebah.” (Al-Nahl: 68). Ini artinya bahwa cara pewahyuan Allah kepada lebah tidak seperti pewahyuan untuk manusia. Akan tetapi untuk menegaskan bahwa Al-Masîh (Nabi ‘Isâ) adalah manusia, sedangkan manusia jika mendapatkan wahyu dari Allah Dia tidak akan mengatakan kepada mereka, “Wahai manusia jadilah hamba-hambaku”. Jika didapatkan seorang manusia berkata kepada orang-orang, “Jadilah hamba-hambaku”, maka ini artinya orang tersebut adalah seorang Dajjal pembohong yang sebenarnya tidak pernah mendapatkan wahyu sedikit pun.
  3. “Dan sesungguh Kami mengetahui bahwa mereka mengatakan bahwa Al-Kitâb itu diajarkan oleh seorang basyar (kepada Muhammad).” (Al-Nahl: 103). “Ini hanyalah perkataan al-basyar.” (Al-Mudatstsir: 25). Di sini Allah menegaskan bahwa yang berbicara kepada Nabi bukanlah manusia yang satu jenis dengan Nabi Saw. Dia diajarkan oleh Allah melalui media wahyu, dan bukan dari jenis manusia. Pernyataan Walîd Ibn Mughîrah bahwa wahyu yang diberikan kepada Nabi Saw adalah perkataan manusia, maksudnya ucapan yang juga “diciptakan” dari jenis kita.
    4. “(Orang) ini tidak lain hanyalah basyar seperti kalian, dia makan dari apa yang kalian makan.” (Al-Mu’min: 33). Di sini ditegaskan bahwa makan merupakan salah satu dari sifat manusia dan bahwa Rasul adalah dari jenis manusia yang diutus oleh Allah. Rasul-rasul tersebut makan sebagaimana manusia-manusia lain juga makan.
  4. “Tetapi kalian adalah basyar di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Mâ’idah: 18). “Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, ketika mereka berkata, ‘Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada basyar.’” (Al-An‘âm: 91). “Mereka berkata, ‘Kamu tidak lain hanyalah basyar seperti kami juga. Kamu hendak menghalang-halangi (membelokkan) kami. Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, ‘Kami tidak lain hanyalah basyar seperti kalian.” (Ibrâhîm: 10-11). “Katakanlah, ‘Bahwasanya saya adalah basyar seperti kalian yang diberikan wahyu kepadaku.’” (Al-Kahfi: 110). “Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab, ‘Orang ini tidak lain hanyalah basyar seperti kalian, yang bermaksud untuk menjadi seorang yang lebih tinggi dari kalian. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.’” (Al-Mu’minûn: 24). “Kamu tidak lain hanyalah seorang basyar seperti kami, maka datangkanlah sesuatu mu‘jizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar.” (Al-Syu‘arâ’: 154). “Dan kamu tidak lain hanyalah seorang basyar seperti kami, dan sesungguhnya kami yakin bahwa kamu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta.” (Al-Syu‘arâ’: 186). “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, ‘Kami tidak melihat kamu melainkan (sebagai) seorang basyar seperti kami.’” (Hûd: 27). “Mereka (para wanita-wanita tersebut) berkata, ‘Maha sempurna Allah, ini bukanlah basyar. Sesungguhnya ini tidak lain adalah malaikat yang mulia.’” (Yûsuf: 31). “Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya selain perkataan mereka, ‘Adakah Allah mengutus seorang basyar menjadi rasul?’” (Al-Isrâ’: 94). “Dan sesungguhnya jika kalian mentaati basyar seperti kalian, maka jika demikian kalian benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi.” (Al-Mukminûn: 34). “Maka mereka berkata, ‘Bagaimana kita akan mengikuti seorang basyar di antara kita? Sesungguhnya, jika kita seperti itu maka kita benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila.’” (Al-Qamar: 24). “Dan mereka berkata, ‘Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang basyar seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Banî Isrâ’îl) adalah orang-orang yang mengabdi pada kita?’” (Al-Mu’minûn: 47).  Kita perhatikan pada ayat-ayat di atas istilah basyar disebutkan untuk konteks fisikologis-material. Artinya bahwa ia adalah seperti manusia-manusia lainnya yang mempunyai tangan, perut, dan organ-organ yang lain. Mereka makan sebagaimana manusia lain juga makan, akan tetapi para rasul dibedakan dari mereka hanya dengan wahyu. Oleh sebab itulah dikatakan “basyar seperti kita” dan “kepada dua basyar seperti kita”. Manusia sebagai sebuah spesies tidak bisa dianalokan dengan malaikat berdasarkan firman-Nya ketika membuat pembanding dengan manusia, “Jika Allah berkehendak, Dia menurunkan malaikat.” (Al-Mu’minûn: 24). Malaikat bukanlah dari jenis basyar. Itu karena orang-orang menginginkan supaya Allah menurunkan malaikat sebelum Dia mengutus rasul dari jenis mereka dengan sifat kemanusiaan. Dengan dasar itu maka tuntutan tersebut adalah bentuk kejanggalan yang sangat besar.
  5. “Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kalian apa Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit basyar. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).” (Al-Muddatstsir: 26-30)
    Di sini dijelaskan bahwa azab bersifat fisik semata. Dia mengatakan bahwa Saqar akan membakar kulit basyar untuk menjelaskan bahwa penyebutan Saqar di dalam Al-Kitab adalah untuk spesies basyar.

2. Ayat-ayat yang terdapat di dalamnya istilah al-insân dalam pengertian sebagai entitas yang berakal

Kata al-insân dan al-nâs muncul pada beberapa ayat dengan pengertian sebagai entitas yang berakal. Akan tetapi kita harus membedakan akar kata dari al-insân, yaitu a-n-sa-na yang dalam bahasa Arab artinya kemunculan sesuatu dan segala sesuatu yang menyimpang dari “keliaran”. Dari akar kata tersebut muncul kata uns yaitu kejinakan manusia dengan sesuatu, yaitu jika ia tidak merasa terasing darinya. Dalam bahasa Arab insân adalah untuk satu orang manusia, insânân untuk dua manusia dan unâsî untuk banyak manusia. Insân adalah basyar yang mempunyai ciri sosial dan tidak liar, dalam artian mempunyai hubungan secara sosial dan mempunyai relasi dengan selainnya.
Adapun kata al-nâs berasal dari na-wa-sa yang dalam bahasa Arab merupakan akar kata yang maknanya adalah goncang dan fluktuatif. Setiap kali manusia bertemu dengan sesama manusia, maka perkumpulan ini menyebabkan terjadinya kegoncangan dan fluktuasi pada kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Artinya, kehidupan manusia tidak berjalan dengan formula yang teratur atau konsisten, sebagaimana dalam kehidupan makhluk-makhluk lain seperti lebah dan makhluk lainnya. Manusia mengalami kegoncangan dan fluktuasi, dalam artian bahwa mereka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain secara sadar. Setiap kali kemajuan manusia bertambah, maka setiap kali itu juga bertambah sisi kemanusiaannya.

Jika kita mengeksplorasi ayat-ayat Al-Kitab yang terkandung di dalamnya kata al-insân dan kata al-nâs, kita bisa melihat ia berkisar pada topik-topik berikut:

  1. Wa min al-nâs man-yaqûl… (“Di antara manusia ada yang berkata….”) (Al-Baqarah: 8). Wa idzâ qîla la-hum âminû kamâ âman al-nâs… (“Jika dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah sebagaimana manusia telah beriman….’”) (Al-Baqarah: 13). Yâ ayyuh al-nâs-u‘budû rabba-kum… (“Wahai manusia, sembahlah Tuhan kalian….”) (Al-Baqarah: 21). Wa qûlû li-l-nâs…. (“Katakanlah kepada manusia….”) (Al-Baqarah: 83). Ata’murûn al-nâs…. (“Apakah kalian memerintahkan manusia….”) (Al-Baqarah: 44). Wa latajidanna-hum ahrash al-nâs… (“Kamu akan menemukan mereka sebagai manusia yang paling ambisius….”) (Al-Baqarah: 96). Yaqûl ul-sufahâ’u min al-nâs….(Orang-orang bodoh dari kalangan manusia berkata…) (Al-Baqarah: 142). Bi-mâ yanfa‘ ul-nâs…. (“Dengan apa yang bermanfaat bagi manusia….”) (Al-Baqarah: 164). Zhahar al-fasâdu fi-l-barri wa-l-bahri bi-mâ kasabat aid il-nâs…. (“Telah nampak kerusakan di laut dan di bumi disebabkan karena tangan-tangan manusia….”) (Al-Rûm: 41). Syahru ramadhân al-ladzî unzila fîh il-qur’ân…. (“Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya Al-Quran….”) (Al-Baqarah: 185). Yâ ayyuh al-nâsu qad jâ’a-kum burhânun min rabbi-kum….” (“Wahai manusia, telah datang bukti dari Tuhan kalian….”)(Al-Nisâ’: 174). Falâ takhsyaw ul-nâs…. (“Janganlah kalian takut kepada manusia….”) (Al-Mâ’idah: 44). Wa inna katsîran min al-nâsi la-fâsiqûn…. (“Sesunggguhnya banyak manusia yang fasik….”) (Al-Mâ’idah: 49). “Al-ladzî yuwaswisu fî shudûr il-nâs…. (“(Syaithan) yang membisikkan pada hati manusia…”) (Al-Nâs: 5). Wa lâkinna katsîran min al-nâsi lâ ya‘lamûn. (“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”) (Saba’: 28). Li-ta’kulû farîqan min amwâl il-nâs…. (“Agar kalian makan sebagian dari harta-harta manusia….”) (Al-Baqarah: 188). Dzâlika yaumun majmû’un lah ul-nâs…. (“Itu adalah hari-hari yang manusia dikumpulkan kepada-Nya….”) (Hûd: 103). Wa-mâ aktsar ul-nâsi wa lau harashta bi-mu’minîn…. (“Dan tidak juga mayoritas manusia sekalipun kamu (Muhammad) sangat ingin agar mereka beriman….”) (Yûsuf: 103). Kita perhatikan bahwa bentuk-bentuk kalimat ini semuanya adalah untuk sesuatu yang berakal. Di dalam Al-Kitab, khitab selalu dengan kalimat “Yâ ayyuh al-nâs” dan tidak pernah ada yang dikatakan “Yâ ayyuh al-basyar”.
  2. Inn al-insâna la-zhalûmun kaffâr… (“Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari [nikmat Allah]”) (Ibrâhîm: 34). Wa yad‘ ul-insân bi-l-syarri du‘â’ahû bi-l-khair…. (“Dan manusia mengajak kepada kejahatan sebagaimana ia mengajak kepada kebaikan….”) (Al-Isra’: 11). Inn al-insâna la kafûrun mubîn…. (“Sesungguhnya manusia benar-benar ingkar secara nyata….”) (Al-Zukhruf: 15). Inn al-insâna khuliqa halû‘â. (“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah.”) (Ma‘ârij: 19). Yaqûl ul-insâna yaumaidzin ain al-mafarr. (“Pada hari itu manusia berkata, ‘Ke mana tempat lari?’”) (Al-Qiyâmah: 10). Wa washshain al-insâna bi wâlidai-hi ihsânâ…. (“Dan kami wasiatkan kepada manusia untuk berbakti kepada orang tuanya….”) (Al-Ahqâf: 15). Semua sifat-sifat yang disebutkan pada ayat-ayat tersebut adalah untuk makhluk yang berakal.
  3. Ketika menyebutkan bagaimana penciptaan al-insân, Allah Swt menyebutkannya secara garis besar sebagaimana fiman-Nya, Khalaq al-insân min ‘alaq (“Dia menciptakan insan dari ‘alaq”. Sedangkan ketika Dia memberikan perincian dan menyebutkan cara penciptaan, Dia menggunakan istilah al-basyar seperti dalam firman-Nya, Innî khâliqun basyaran…. (“Sesungguhnya Aku menciptakan basyar…”).

Kita perhatikan perbedaan yang jelas antara al-basyar dengan al-insân. Al-basyar adalah wujud fisikologis material manusia sebagai entitas yang hidup dalam kumpulan makhluk-makhluk hidup. Kera-kera adalah entitas hidup, demikian juga binatang lainnya. Oleh sebab itulah ketika kita mempelajari anatomi tubuh manusia di universitas, yang manusia dipelajari sebagai entitas yang hidup semata, dalam bahasa Arab kita mengatakan kulliyyat ul-tibb il-basyarî dan kita tidak mengatakan kulliyyat ul-tibb il-insânî. Al-basyar menyatu dengan permulaan manusia sempurna (al-insân), karena bagaimanapun segala sesuatu pasti menyatu dengan permulaannya. Permulaan dari segala sesuatu adalah awalnya.

Ketika kita mengatakan ulûm ul-insâniyyah [ilmu-ilmu humaniora], maka yang kita maksudkan adalah ilmu bahasa, sejarah, filsafat, hukum, syari‘ah, politik, ekonomi, psikologi, dan ilmu seni dengan semua cabang-cabangnya yang merupakan disiplin keilmuan yang berhubungan dengan manusia sebagai entitas hidup yang berakal dan berperilaku sadar.

Baca lebih lanjut buku Epistimologi Qurani: Tafsir Kontemporer Ayat-ayat Al-Quran Berbasis Materialisme-Dialektika-Historis karya Muhammad Syahrur (Penerbit Marja, Cetakan II, 2015)

KONSEP MANUSIA DALAM SEBUTAN BASYAR

              
Basyar adalah nama lain dari manusia. Basyar secara bahasa artinya kulit. Timbul pertanyaan kenapa Allah memberi nama manusia dengan Basyar ? Jika kita pikirkan lebih dalam, perbedaan manusia dengan makhluk lain adalah pada kulitnya, jika makhluk selain manusia hampir seluruh tubuhnya tertutupi oleh bulu, maka kulitnya tidak terlihat, sedang manusia, tubuhnya tidak tertutupi oleh bulu, sehingga kulitnya terlihat, karena manusia itu makhluk yang terlihat kulitnya maka Allah menamai manusia dengan basyar.

 Tetapi bukan masalah itu yang jadi perhatian kita, yang menjadi perhatian kita adalah bagaimana konsep manusia menurut al-Quran dalam sebutan Basyar.
Dalam al-Quran kata basyar diantaranya terdapat pada surat al Kahfi ayat 110 :
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (110).           Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.
Ayat di atas diturunkan oleh Allah sebagai bantahan terhadap golongan yang bertanya kepada Nabi Muhammad tentang Ashabul Kahfi, Dzul Qornain dan Ruh. Kemudian Nabi menjawab dua pertanyaan pertama, dan menyerahkan masalah ruh kepada Allah. Karena itulah ayat ini diawali dengan kata perintah Qul! yang artinya katakanlah !. Katakanlah kepada orang-orang musyrik yang mendustakan kerasulanmu bahwa sesungguhnya aku ini adalah manusia biasa seperti kamu, barang siapa menyangka bahwa aku ini berbohong, ceritakanlah kepadaku tentang apa yang telah aku ceritakan kepadamu. Sesungguhnya aku tidak akan mengetahui hal-hal gaib (Ashabul Kahfi dan Dzul Qornain) sebagaimana yang aku ceritakan kepadamu sebelumnya, seandainya saja Allah tidak memperlihatkan hal tersebut kepadaku. Karena itulah aku kabarkan kepadamu bahwa “Sesungguhnya Tuhanmu adalah tuhan yang satu, tidak ada sekutu baginya. Barang siapa yang menginginkan untuk bertemu dengan Allah, atau pahala dari Allah (surga), maka hendaklah ia beramal shaleh yang sesuai dengan syariat Islam dan jangan menyekutukan Allah dalam beribadah kepadanya”.
Memperhatikan referensi ayat di atas, kita akan mengetahui bahwa Nabi Muhammad secara fisik sama dengan orang-orang kafir, tetapi dalam masalah keimanan keduanya berbeda, karena itulah Allah menggunakan istilah basyar untuk mempersamakan Nabi Muhammad dengan orang-orang kafir, karena istilah basyar itu lebih cenderung kepada pengertian fisik sebagaimana basyar itu sendiri yang artinya kulit dan kulit itu merupakan bagian dari tubuh manusia yang bersifat fisik karena dapat diketui oleh panca indera. Seandainya saja Allah menggunakan istilah lain selain basyar tentu tidak sesuai lagi dengan konteks dan itu tidak akan terjadi karena al-Quran merupakan kitab suci dengan tingkat balaghah yang tinggi.
Sifat manusia dalam sebutan basyar hanya meliputi hal-hal fisik saja, tidak mencakup pada hal-hal non fisik seperti keimanan kepada Allah. Sifat-sifat tersebut seperti suka makan, suka minum, menikah, bergaul dengan isteri, sakit, memiliki anak, dan sifat-sifat lain yang ada pada diri manusia pada umumnya. Hanya saja Allah memberikan wahyu kepada Nabi Muhammad sehingga beliau terlihat unggul dibanding manusia pada umumnya sehingga orang-orang kafir pada saat itu menganggap Nabi Muhammad lebih dari sekedar manusia biasa, bahkan ada yang menyebutnya sebagai ahli sihir dan ayat ini merupakan bantahan bagi mereka.
Selain menjelaskan tentang konsep manusia dalam sebutan basyar ayat di atas juga menjelaskan tentang syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang memiliki keinginan untuk bertemu dengan Allah. Pertemuan dengan Allah merupakan hal yang mungkin, tetapi kemungkinan terjadinya di dunia bagi yang bukan nabi dan rasul adalah sangat kecil. Pertemuan dengan Allah hanya di alami oleh seorang manusia sempurna yaitu Nabi Muhammad saw pada saat isra mi’raj. Adapun pertemuan dengan Allah di surga adalah hal yang bisa terjadi, sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran surat al-Qiyamah [75] ayat 22-23 :
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (22) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (23)
(22) Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. (23) Kepada Tuhannyalah mereka Melihat. (QS. al-Qiyamah [75] ayat 22-23).
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yarju liqa’a rabbih bukan hanya harapan melihat Allah tetapi termasuk di dalamnya adalah harapan untuk mendapatkan pahala dan balasan yang baik dari Allah yakni surga. Hal ini bisa dimengerti karena bagaimana mungkin seseorang bisa melihat Allah sementara ia tidak mendapatkan pahala dan balasan yang baik dari Allah dalam kata lain dia masuk neraka, tentu dia telah menyalahi surat al-Qiyamah ayat 22-23 di atas, karenanya dia tidak akan bisa melihat Allah. Alasan lain adalah bahwa melihat Allah merupakan pahala yang paling besar di antara pahala yang besar (surga) sebagaimana hal tersebut dijelaskan dalam hadits, jadi secara logika tidak mungkin orang yang tidak masuk surga bisa melihat Allah karena melihat Allah merupakan pahala bagi orang-orang yang masuk surga, jadi bagaimana mungkin Allah memberikan pahala/balasan yang baik kepada orang yang masuk neraka.
Adapun syarat tersebut adalah :
1. Hendaklah ia melakukan amal shaleh sesuai dengan syariat Allah swt. Di sini ada dua domain yang harus diperhatikan, yakni melakukan amal shaleh dan sesuai dengan syariat. Oleh karena itu sebelum kita melakukan amal shaleh hendaknya kita mengkaji dulu ilmu-ilmu yang menjelaskan tentang amal shaleh tersebut, jika tidak maka setiap amal yang tidak berdasar kepada ilmu itu adalah ditolak tidak diterima. Hal ini cukup jelas karena amal yang tidak didasarkan kepada ilmunya tentu saja amal tersebut besar kemungkinan jauh melenceng dari tatacara yang disyariatkan, andaipun amal itu sama dengan yang disyariatkan maka orang tersebut melakukannya bukan sebagai kesengajaan tetapi sebuah kebetulan saja, sedang hadits Umar bin Khatab mengatakan bahwa ”sesungguhnya jadinya amal itu adalah berdasarkan niat”, itu artinya amal itu harus dilakukan dengan niat dan niat itu sendiri menunjukkan bahwa dia melakukannya atas dasar kesengajaan bukan kebetulan, dengan demikian amal yang dilakukan secara kebetulan dan tidak memiliki unsur kesengajaan maka itu tidak diterima.
2. Hendaklah ia melakukan amal (ibadahnya) hanya karena Allah swt, dan tidak menyekutukannya dengan apapun. Ini memberi isyarat bahwa amal yang kita lakukan hendaknya dilakukan dengan ikhlas, hanya mengharap ridla Allah swt, bukan ridla yang lain termasuk ingin dipuji oleh orang lain (riya, syirik khofi).
Ayat ini memiliki korelasi yang kuat dengan surat al-Bayyinah [98] ayat 5 :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (5)
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus (QS. al-Bayyinah [98] ayat 5).
Memurnikan ketaatan adalah ikhlas dan menjalankan agama yang lurus adalah beribadah sesuai dengan syariat Allah. Jika kedua syarat ini dilakukan maka manusia akan mendapat pahala yang besar dari Allah, diantara pahala tersebut adalah bisa melihat Allah di surga. Wallahu a’lam.

Dibagian lain mufassir mengelompokkan tentang MANUSIA yaitu ;

  • Al-Insan # manusia dalam perspektif PSIKOLOGI
  • Al-Basyar # manusia dalam perspektif BIOLOGIS
  • Bani Adam # manusia dalam perspektif GENETIKA
  • An-Nas # manusia dalam perspektif SOSIOLOGIS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *