mETimE

mETimE

METIME ( الاوقات لى)

والعصر. ان الانسان لفى خسر. الاالذين امنوا وعملواالصالحات وتواصوابالحق وتواصوابالصبر

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran (QS. 103 : 1-3)

Di tengah segala rutinitas dan kesibukan, “me time” acap kali menjadi suatu kemewahan bagi sebagian orang. Me time adalah meluangkan waktu sejenak untuk diri sendiri. Memberikan waktu sejenak untuk diri sendiri atau me time penting untuk kesehatan dan kesejahteraan mental.

Manfaat me time untuk kesehatan mental Selama ini, ada salah kaprah bahwa menghabiskan waktu untuk diri sendiri diasosiasikan dengan kesepian, sedih, atau antisosial. Ada juga orang yang merasa bersalah karena meluangkan waktu sendirian, padahal dikelilingi orang terkasih. Padahal, me time sejenak penting bagi tubuh dan baik untuk menjaga kesehatan mental. Dilansir dari Psychology Today, psikolog Sherrie Bourg Carter, PsyD menyebut beberapa manfaat me time, di antaranya: Memberikan kesempatan otak untuk beristirahat, menjernihkan pikiran, mengurangi stres, sekaligus merevitalisasi tubuh Meningkatkan konsentrasi dan produktivitas karena pikiran jadi lebih jernih bisa mengetahui apa yang benar-benar diinginkan diri sendiri dan lebih mengenal diri sendiri dapat kesempatan untuk berpikir lebih mendalam sehingga bisa lebih efektif untuk memecahkan persoalan .

Setelah me time, orang jadi lebih menghargai hubungan dengan orang lain, sehingga kualitas hubungan dengan orang lain jadi meningkat setelah mengetahui sederet manfaat me time untuk kesehatan mental, saatnya meluangkan waktu untuk diri sendiri di tengah-tengah rutinitas sehari-hari.

Bagaimana cara melakukan me time? Lebih dari itu, sikap positif setelah me time juga meningkatkan kualitas hubungan dengan orang sekitar. Kendati manfaat me time sekilas cukup menjanjikan, beberapa orang barangkali masih bingung bagaimana untuk memulainya. Melansir Web/blog, berikut langkah memulai me time dan cara menjadikannya bagian dari keseharian Anda: Siapkan waktu khusus Amati kalender atau jadwal rutinitas sehari-hari. Lantas, cari waktu luang khusus. Tak perlu muluk-muluk ingin menghabiskan me time seharian. Anda bisa memulainya dari lima menit atau 15 menit. Ingat, hal yang paling penting bukan lama atau tidaknya durasi me time, melainkan konsistensi. Setelah menemukan waktu yang tepat, jangan gunakan waktu me time tersebut untuk membaca email pekerjaan atau merampungkan tugas rumah tangga. Saat awal memulainya, barangkali Anda akan merasa stres atau merasa bersalah karena ada pekerjaan yang ditinggalkan. Namun, rasakan manfaat me time setelah itu. Anda jadi punya lebih banyak energi setelah memberikan jeda pada diri sendiri.   Apabila menyiapkan waktu khusus tidak memungkinkan, me time juga bisa dilakukan dengan curi-curi waktu di tengah aktivitas keseharian, antara lain: Manfaatkan momentum anak-anak sedang bermain atau tidur siang Lakukan sebelum beraktivitas, bangun 10 menit lebih awal di pagi hari Saat pasangan atau anak membantu merampungkan pekerjaan di rumah.

Matikan telepon pintar selama beberapa saat untuk fokus pada diri sendiri, terlebih jika waktu me time cukup singkat. Anda bisa mulai memanfaatkan waktu lima menit untuk: Meditasi dengan bernapas panjang dan hanya menyadari napas Olahraga atau peregangan tubuh ringan Tidak melakukan apa-apa, hanya duduk diam dan berhenti memikirkan sesuatu.

Tingkatkan aktivitas dan waktu me time setelah menjalankan rutinitas me time setiap hari, saatnya untuk meningkatkan jenis aktivitas dan waktu me time. Sebulan sekali, jadwalkan me time setidaknya 30 menit atau satu jam untuk kegiatan favorit atau sesi memanjakan diri sendiri. Anda bisa jalan-jalan sendirian, merapikan rambut atau kuku ke salon, jalan ke museum, bersepeda, ngopi sendirian, atau membuat jurnal. Anda tidak perlu memberitahu teman atau keluarga mengenai detail me time yang sedang dikerjakan. Namun, sampaikan jika Anda sedang meluangkan waktu untuk diri sendiri.

Apabila jadwal me time terlalu sering diusik, rutinitas me time bisa terganggu. Seiring berjalannya waktu, konsistensi me time juga bisa saja kendur. Namun, sebelum rutinitas yang baik ini mandek di tengah jalan, pertimbangkan lagi sederet manfaat me time untuk kesehatan mental dan hubungan sosial dengan orang sekitar.

الوقت كا السيف (Waktu adalah pedang)

WAKTU ADALAH KEHIDUPAN

Waktu adalah Kehidupan
Tidak yang lebih berharga dalam kehidupan ini setelah iman selain “waktu”. Waktu adalah benda yang paling berharga dalam kehidupan seorang Muslim. Ia tidak dapat ditukar oleh apapun. Ia juga tidak dapat kembali jika sudah pergi. Sungguh sangat merugi orang yang menyia-nyiakan waktunya.

Saking mahalnya, Allah (sampai) bersumpah: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman, beramal saleh, (saling) nasehat-menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati dalam (menapaki) kesabaran” (Qs. Al-‘Ashr [103]: 1-3).

Dalam Islam, waktu bukan hanya sekadar lebih berharga dari pada emas. Atau seperti pepatah Inggris yang menyatakan time is money. Lebih dari itu, waktu dalam Islam adalah “kehidupan”, al-waqtu huwa al-hayah, demikian kata as-Syahid Hasan Al-Banna. Oleh karena itu, Rasulullah saw memerintahkan umatnya agar memanfaatkan waktu yang tersisa dengan lima hal.

Beliau bersabda: “Manfaatkanlah (oleh kalian) lima hal, sebelum datang lima hal: masa mudamu sebelum tiba masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum datang masa sibukmu dan hidupmu sebelum datang kematianmu” (HR. Hakim. Sanadnya shahih dari Ibnu Abbas).

Pertama, masa muda. Masa muda adalah masa keemasan seorang manusia. Ia merupakan masa ideal untuk melakukan apa saja: mengukir prestasi dan menggapai cita-cita. Bahkan, masa muda adalah masa yang harus “dipertanggungjawabkan” di hadapan Allah.

Hal ini dijelaskan oleh Nabi saw: “Tidak akan tergelincir dua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan dan tentang ilmunya apa yang diperbuatkan dengan ilmunya tersebut” (HR. Al-Bazzar dan Al-Thabrani).

Bayangkan, setelah Allah mempertanyakan “umur”, Ia mempertanyakan “masa muda” secara khusus. Dalam Islam, masa muda adalah bagian dari “umur”. Ia dianggap sebagai masa yang dinamis, energik, cekatan dan kuat, karena ia merupakan “kekuatan” di antara dua kelemahan: kelemahan anak-anak dan kelemahan masa tua.

Hal ini dijelaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya: “Allah, Dia-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban…” (Qs. Ar-Rum [30]: 54).

Oleh karenanya, Islam memiliki perhatian khusus kepada para pemuda. “Suatu ketika, khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu duduk dengan para sahabatnya. Ia berkata kepada mereka: “Berangan-anganlah kalian!” Salah seorang dari mereka berkata: “Aku berangan-angan, seandainya rumah ini dipenuhi oleh emas untuk aku infakkan di jalan Allah.” Umar lalu berkata: “Berangan-anganlah (lagi) kalian!” Salah seorang lagi berkata: “Aku berangan-angan sekiranya rumah ini dipenuhi dengan permata agar aku infakkan di jalan Allah dan bersedekah dengannya.” Lalu Umar berkata lagi: “Berangan-anganlah (lagi) kalian!” Mereka lalu berkata: “Kami tidak tahu lagi apa yang harus kami katakan wahai Amirul mukminin?” Umar berkata: “Aku justeru berangan-angan agar ada orang-orang seperti Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah, Mu’adz ibn Jabal dan Salim budak Abu Hudzaifah, agar aku dapat meninggikan “kalimat Allah” dengan bantuan mereka.”

Bayangkan, Umar malah menginginkan para pemuda. Bukankah Mu’adz ibn Jabal seorang faqih yang diutus oleh Rasul ke Yaman? Ketika itu usianya masih muda. Begitu juga dengan Salim: ia termasuk salah seorang perawi hadits. Usianya juga masih muda. Dalam sejarah Islam juga dikenal Muhammad Al-Fatih, pembebas kota Konstantinopel. Saat itu usianya tidak lebih dari 22 tahun.

Tidakkah kita lihat seorang Usamah ibn Zaid pergi ke medan perang ketika usianya masih 15 tahun. Padahal ketika usinya 14 tahun semangat jihadnya sudah berapi-api: ia ingin cepat berada di shaf para mujahid Allah. Namun Nabi saw melarangnya, karena masih teramat muda. Ia juga pernah menjadi pemimpin pasukan Rasul, padahal saat itu para sahabat senior seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq ada. Namun Rasul saw mempercayakan kepadanya.

Adalah hal yang ironis jika masa muda dihabiskan untuk “berfoya-foya”. Apalagi dihabiskan untuk melakukan hal-hal yang tidak produktif. Dan, na’udzubillah, jika sampai melakukan tindak kriminal yang tidak diridhai oleh Allah, seperti mengkonsumsi NAZA (Narkotika dan Zat Adiktif) dan hobi “mencekek leher botol” alias mabuk-mabukan. Ini sama artinya menghancurkan umat. Tidak dapat dibayangkan jika para pemuda justru tidak produktif. Apa yang akan dipersembahkan untuk Islam?

Kedua, masa sehat. Pepatah Arab menyatakan: “As-Shihhatu tajun ‘ala ru’us al-asiha’ laa yaraaha illa al-mardha” (Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang yang sehat dan tidak ada yang dapat melihatnya kecuali orang yang sakit). Itulah kesehatan. Kita terkadang lupa akan arti dan makna kesehatan, kecuali setelah kesehatan itu hilang dari kita. Ketika “sakit” datang menggantikannya, barulah kita sadar bahwa kesehatan itu mahal. Masa sehat sebaiknya kita gunakan untuk beramal saleh: membantu orang tua, menuntut ilmu, mengamalkan ilmu, sebelum kita kita tidak bisa berbuat banyak. Kalau masa sakit sudah tiba, kita tidak akan pernah sempurna melakukan apapun: ibadah terganggu, pekerjaan terbengkalai, semangat menurun, dsb. Maka manfaatkanlah “masa sehat” ini dengan sebaik-baiknya.

Ketiga, masa kaya. Kekayaan adalah “titipan Allah”. Maka, ia tidak layak untuk disombongkan dan dibanggakan. Selagi masih ada waktu dan kesempatan, pergunakanlah kekayaan itu untuk berbakti kepada Allah: membiayai edukasi anak, berinfak di jalan Allah (membangun masjid, rumah sakit, madrasah, dsb), membantu fakir miskin dan anak-anak terlantar, membiayai panti asuhan, dan lain-lain. Karena, jika sudah jatuh miskin, kesempatan untuk beramal saleh pun sirna. Maka, segeralah nafkahkan harta yang ada, sebelum semuanya sia-sia.

Utsman ibn Affan adalah contoh ideal dalam berinfak. Ia membeli sumur Maimunah untuk kepentingan kaum Muslimin. Begitu juga dengan Abdurrahman ibn ‘Auf. Ia adalah contoh konglomerat yang dermawan: orang kaya tapi takut harta. Lain lagi dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq: ia meninggalkan “seonggok batu” untuk keluarganya. Ia menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk keluarganya. Beliau bahkan berlomba dengan Umar ibn Khaththab. Akhirnya ia menang, karena Umar ibn Khaththab menafkahkan setengah dari hartanya, sedangkan ia menafkahkan seluruh hartanya di jalan Allah.

Keempat, masa luang. Waktu luang adalah kesempatan emas untuk menginventarisir kebajikan. Waktu luang ini akan sia-sia jika tidak dikontrol. Ia akan terbuang begitu saja jika tidak langsung dimanfaatkan. Oleh sebab itu makanya Nabi saw mengingatkan: “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang (kekosongan)” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas).

Waktu luang adalah “kekosongan”: kosong dari kegiatan yang positif. Jangan biarkan waktu itu kosong melompong dan berlalu tanpa makna. Tidakkah kita ingin waktu luang itu kita isi dengan membaca Alquran, shalat Dhuha, shalat Witir, shalat Tahajjud, dsb. Janganlah waktu luang itu dikhianati dengan “senda gurau” yang tak bermakna. Karena jumlah waktu itu sama di mana saja, 24 jam. Bagi tigalah ia: sebagian untuk kesehatan (istirahat, olah-raga, bercanda seperlunya), sebagian lagi untuk jasmani (makan dan minum) dan sepertiga terakhir untuk Allah.

Imam Ibnu Jarir al-Thabari menurut al-Khathib al-Baghadadi dari al-Samsiy, setiap harinya mampu menulis sekitar empat puluh lembar. Jangan berleha-leha dalam memburu kebaikan. Imporlah segala jenis kebaikan, lalu eksporlah ia ke akhirat sana. Al-Tu’adatu fi kulli syain khairun illa fi a’mal al-akhirah (Berlaku santai dalam setiap sesuatu itu baik, kecuali dalam amal akhirat), kata Umar ibn Khaththab.

Imam Nawawi ra memberikan nasehat yang sangat berharga: “Hendaklah bagi seorang penuntut ilmu untuk mengumpulkan ilmu di waktu luang dan semangat yang menggebu-gebu, masa muda dan ketika tubuh masih kuat, ketika keinginan masih menggunung dan kesibukan masih sedikit sebelum tiba hal-hal yang tanpa makna”.

Kelima, hidup. Kesempatan hidup hanya sekali. Umur begitu singkat. Kita mengira umur itu begitu panjang. Padahal ia hanya terdiri dari tiga helaan nafas: nafas yang lalu, yang sudah kita hempaskan; nafas yang sedang kita hirup dan akan kita hembuskan; dan terakhir nafas yang akan datang. Kita tidak tahu apakah nafas yang akan datang itu nafas kita yang terakhir atau tidak.

Nafas-nafas itu begitu cepat berlalu. Maka sangat merugi kalau nafas-nafas itu kita biarkan terhambur tanpa arti. Padahal dalam satu menit kita bisa membaca surat Al-Fatihan dan surat Al-Ikhlas. Kita juga bisa berdzikir: mengucapkan subhanallah, Al-hamdulillah dan Allahu Akbar, dsb.

Kita hidup di dunia laksana seorang musafir. Tidak ada yang berharga bagi seoang musafir selain “bekal”. Maka sejatinya, dunia ini adalah “pohon yang rindang”, tempat berteduh sang musafir. Jika ia tertipu dengan indahnya pohon tempatnya berteduh, ia tidak akan sampai pada tujuan. Mau tidak mau, kita semua akan menuju kepada pintu kematian.

Maka, sebelum pergi ke sana, kita berusaha untuk memanfaatkan hidup ini dengan sebaik-baiknya. Nilai seorang Muslim bukan dinilai dari panjang pendeknya umur yang diberikan oleh Allah. Tapi akan dinilai dari apa yang diperbuatnya untuk Allah, untuk Islam. Umur yang panjang bukan jaminan kebaikan. Bisa jadi umur yang panjang malah semakin membuka pintu-pintu maksiat. Bisa jadi umur yang singkat, jika di-manage dengan baik, malah menjadi sangat bermanfaat.

“Khairu al-naasi man thala ‘umruhu wa hasuna ‘amaluhu, wa syarr al-nasi man thala ‘umruhu wa sa’a ‘amaluhu” (Sebaik-baik manusia adalah yang panjang usianya dan baik amalnya. Dan sejelek-jelek manusia adalah yang umurnya panjang namun jelek amalnya) (HR. Ahmad dan al-Turmudzi dari Abu Bakrah).

Sebelum maut menjelang, mari kita hiasi hidup kita dengan amal saleh. Mudah-mudahan usia yang tersisa benar-benar menjadi lebih bermakan. Sehingga kita termasuk hamba Allah yang menghargai nikmat waktu yang diberikan. Ingatlah! Waktu adalah kehidupan.

Wallahu a’lamu bi al-shawab.

Tersenyumlah, Bukan Tertawa

Tersenyumlah, Bukan Tertawa
Menjelang perpisahannya dengan Nabi Musa as, Nabi Khidir as, memberi nasihat, “Hai Musa, janganlah terlalu banyak bicara, dan jangan pergi tanpa perlu, dan jangan banyak tertawa, juga jangan mentertawakan orang yang berbuat salah, dan tangisilah dosa-dosa yang telah kamu perbuat, hai putra Ali ‘Imran.” (Tanbighul Ghafilin: 192-193).

Tertawa, tentu saja, bukanlah sesuatu yang dilarang. Siapa saja boleh tertawa selagi ingin. Dengan tertawa menunjukkan, bahwa seseorang sedang dalam keadaan senang. Bahkan tertawa bisa menjadi ilham bagi seorang penulis untuk membuat sebuah buku.

Akan tetapi, tertawa dalam pengertian mengeluarkan suara meledak-ledak oleh sebab rasa suka, geli apalagi mengandung unsur menghina seseorang, ini akan lain ceritanya. Tertawa dengan cara seperti itu yang disuruh dihindari oleh Nabi Khidir as.

Subhanallah, tidak didapati dalam ajaran di luar Islam yang mengatur tata hidup sedemikian rupa, hingga masalah kecil seperti tertawa.

Allah swt berfirman, “Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah:82).

Dalam salah satu haditsnya Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa, ….” (HR.Abu Dzar ra).

Rasulullah SAW tidak pernah tertawa, kecuali hanya tersenyum, tidak menoleh kecuali dengan wajah penuh (maksudnya: tidak melirik). (Ja’far Auf, Mas’ud dari Auf Abdillah).

Berdasarkan hadits di atas, sebagian ulama berpendapat bahwa tersenyum itu hukumnya sunnah, sedang tertawa terbahak-bahak dihukumi makruh.

Maka bagi mereka yang tetap ingin sehat akalnya, seyogyanya menjauhi tertawa dengan cara demikian (terbahak-bahak atau meledak-ledak), kata Al-Faqih Abu Laits Samarqandi. Dengan kata lain, orang yang tidak bisa mengendalikan diri dan gemar tertawa-tawa, akan membuat fungsi akalnya terganggu, lengah dan lupa diri, yang berarti membuka pintu bagi syetan untuk masuknya godaan.

Dalam surat An-Najm (53): 59-61 Allah memperingatkan, “Apakah dengan ajaran ini, kalian ta’ajub (heran)? Kamu tertawa dan tidak menangis. Sedangkan kalian terlengah.”

Ibnu Abbas ra berkata, “Barangsiapa tertawa di saat berbuat maksiat, maka akan bercucuran tangis di neraka.”

Tertawa yang berlebihan, termasuk di antara 3 perkara yang menyebabkan hati seorang menjadi bebal dan membatu. Sedang dua penyebab yang lainnya yaitu: belum lapar sudah makan lagi dan gemar omong kosong (bicara ke sana kemari yang tak berguna).

Terkadang kita mendapati seseorang yang kesibukannya membuat orang tertawa-tawa, sehingga bukan semata menjadi hiburan hati, tapi sudah mengarah pada membuat orang menjadi lengah dan lupa. Kepada yang berbuat seperti ini Rasulullah SAW memberi peringatan, “Celakalah orang yang berdusta supaya ditertawakan orang lain. Celakalah dia, celakalah dia!” (HR. Tirmidzi)

Orang yang terbiasa tertawa-tawa mendapati suasana yang sepi menjadi sunyi, bila tidak kunjung diobati. Sedangkan menurut Yahya Mu’adz Razy sebagaimana dikutip al-Faqih ada empat hal yang dapat menjadi obat bagi mereka yang terkena “penyakit” seperti ini, yaitu: Ingat akan dosa-dosa yang telah diperbuat selama ini. Sibuk dengan bekerja (memenuhi nafkah) untuk diri dan keluarga. Ingat bahwa jatah umur yang ada tinggal sedikit, dan akan datang kehidupan baru diakhirat. Memperhatikan setiap musibah yang menimpa, baik diri keluarga maupun orang lain. Sementara itu, Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Ada tiga hal yang membuatku tertawa: Aku tertawa melihat orang yang berangan-angan panjang dengan dunia padahal maut tengah mengejarnya. Orang yang lengah sedang maut tak pernah lengah darinya. Serta orang yang tertawa dengan mulut yang terbuka penuh sementara ia tidak tahu apakah perbuatannya itu mengandung amarah Rabbnya atau Ridha-Nya. Semoga Allah swt membimbing kita ke arah hidup yang lebih baik. Amien

Ini 5 Alasan Kenapa ‘Me Time’ Penting Buat Kebahagiaanmu

Jangan mikirin kerjaan terus!

Pernah gak sih kamu ngerasain butuh waktu untuk menyendiri tanpa terganggu oleh orang lain? Ya, ini yang dinamakan me time, di mana kamu menghabiskan waktu sendirian melakukan hal yang kamu inginkan untuk rehat sejenak dari segala kesibukan.

Sehingga cara terbaik untuk menyeimbangkan segalanya adalah dengan me time.

Nah, hal sesederhana menyempatkan waktu tidur siang saja bisa membuat kamu lebih bahagia lho. Selain itu, masih banyak beragam manfaat lain yang bisa kamu dapat dengan me time, seperti:

1. Jadi lebih produktif

Ini 5 Alasan Kenapa ‘Me Time’ Penting Buat Kebahagiaanmubusinessinsider.com

Ketika kamu merasa dirimu tidak produktif dan pikiran terganggu oleh banyak hal, memaksakan diri untuk lanjut bekerja bukanlah jawaban yang ideal. Stop sekarang juga dan segera istirahat! Cari kegiatan yang kamu suka untuk bersantai, membaca buku, jalan-jalan ke mall, atau sekadar tidur. 

Ketika kamu membuang jauh-jauh segala gangguan, kamu akan lebih mudah untuk berkonsentrasi. Sehingga nantinya, kamu bisa kembali menyelesaikan pekerjaanmu lebih cepat tanpa gangguan.

2. Punya waktu untuk berkontemplasi

Ini 5 Alasan Kenapa ‘Me Time’ Penting Buat Kebahagiaanmuhealthy-magazine.co.uk

Coba deh pikirkan, kalau kamu sibuk, kamu tidak memiliki waktu untuk berpikir selain yang berhubungan dengan pekerjaan. Nah dengan menyisihkan waktu untuk diri sendiri, kamu jadi banyak berpikir tentang banyak hal lho. Hal ini dapat memicu kreativitas yang nantinya akan membuat kamu lebih produktif. Menarik ya!

3. Mempererat suatu hubungan

Ini 5 Alasan Kenapa ‘Me Time’ Penting Buat Kebahagiaanmureneemeggs.com

Buat kamu yang memiliki pasangan, me time ternyata justru bisa memperkuat hubungan kalian lho. Yang terpenting, jangan pernah merasa bersalah hanya karena kamu butuh waktu untuk menikmati diri sendiri. Ingat, peduli dengan kesehatan diri sendiri juga merupakan satu contoh bahwa perbuatan #BaikItuMudah, yang nantinya akan jadi kebaikan untuk kamu dan pasangan.

Sebaliknya, justru membagi waktu untuk diri sendiri adalah cara bagaimana kita bisa mengembangkan diri kita yang nantinya bisa bermanfaat untuk orang lain. Ketika Keke rehat sejenak dengan membaca buku, ia tidak hanya membuat dirinya lebih bahagia dan jadi ibu yang lebih baik, tapi juga mengajari anak-anaknya mengenai pentingnya memperhatikan kesehatan diri. Memang, perbuatan #BaikItuNyata adanya ya, guys!

4. Lebih menikmati hidup

Ini 5 Alasan Kenapa ‘Me Time’ Penting Buat Kebahagiaanmuhumanepursuits.com

Guys, kita hidup di dunia itu tujuannya untuk dinikmati. Jadi, percuma juga kalau kita kerja susah payah tapi kita tidak bisa menikmatinya. Nah, dengan menyisihkan waktu melakukan apa yang kamu suka, kamu jadi punya work-life balance dan memiliki sesuatu yang kamu tunggu-tunggu kedatangannya–misalnya untuk menuntaskan hobimu sehabis pulang kerja.

5. Melepas stres

Ini 5 Alasan Kenapa ‘Me Time’ Penting Buat Kebahagiaanmuunsplash.com

Menyisihkan waktu untuk diri sendiri itu ibarat seperti memencet tombol ‘reset’ pada otakmu. Pasalnya, setiap orang memang butuh waktu untuk rileks sesibuk apapun mereka. Coba deh, kamu istirahat dengan melakukan massage atau berendam air hangat. Dijamin bisa mengalihkan pikiranmu dari hal-hal yang bikin stres sehingga kamu merasa fresh kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *