nihauDUNIA

nihauDUNIA

1. INTERMEZO   DUNIA

Sejak virus corona / Covid -19 mewabah secara misterius di kota Wuhan di provinsi Hubei, China pada Desember 2019 lalu, hingga kini jumlah korban Covid-19 terus bertambah di seluruh dunia. Dalam penelitian terbaru, tingkat keparahan dalam beberapa kasus Covid-19, meniru kasus SARS-CoV yang mewabah beberapa tahun lalu di China. Seperti dilansir New England Journal of Medicine (NEJM), Jumat (3/4/2020), para peneliti mencoba menentukan analisis terbaru dari kasus yang ada di seluruh daratan China. Para peneliti mengekstraksi data dari 1.099 pasien Covid-19 yang dikonfirmasi dari 552 laboratorium rumah sakit di 30 provinsi di China, hingga 29 Januari 2020

. Para peneliti menyeleksi riwayat paparan virus corona terbaru, gejala klinis dan temuan di laboratorium tentang catatan medis elektronik. Tingkat keparahan Covid-19 berdasarkan data yang dianalisis, para peneliti mendefinisikan tingkat keparahan Covid-19 dengan menggunakan pedoman American Thoracic Society untuk pneumonia yang diperoleh dari masyarakat. Para peneliti dalam makalah ini menyimpulkan tingkat keparahan Covid-19 dikategorikan menjadi dua, yakni non-severe (tidak parah) dan parah. Pasien non-servere ada 926 pasien dan kasus infeksi virus corona dengan tingkat keparahan tinggi ada 173 pasien. Pasien dengan penyakit parah, sebagian besar berusia lebih tua. Selain itu, sekitar 38,7 persen pasien Covid-19 memiliki penyakit penyerta dengan penyakit parah. Sedangkan pasien dengan penyakit ringan atau tidak parah ada sekitar 21 persen. Selama fase awal wabah Covid-19, diagnosis penyakit dipersulit dengan keragaman gejala, hasil pencitraan radiologi serta keparahan penyakit penyerta itu sendiri.

 Demam diidentifikasi pada 43,8 persen pasien pada saat deteksi awal, namun kemudian berkembang menjadi 88,7 persen setelah mereka dirawat di rumah sakit. Penyakit parah terjadi pada 15,7 persen pasien Covid-19 setelah masuk ke rumah sakit. Sedangkan pada pemeriksaan awal, sebanyak 2,9 persen pasien dengan penyakit parah dan 17,9 persen pasien dengan penyakit non-severe, tidak menunjukkan adanya kelainan radiologis yang dicatat.

Inilah intermezo dunia yang ditakuti semua orang.

Top of Form

Infeksi virus ini disebut COVID-19 dan  Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah lain di Cina dan ke beberapa negara, termasuk Indonesia.

Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia), Middle-East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Gejala Virus Corona

Gejala awal infeksi virus Corona atau COVID-19 bisa berupa gejala flu, seperti demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Setelah itu, gejala bisa memberat. Pasien bisa mengalam demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. Gejala-gejala tersebut muncul ketika tubuh bereaksi melawan virus Corona.

Namun, secara umum ada 3 gejala umum yang bisa menandakan seseorang terinfeksi virus Corona, yaitu:

Menurut penelitian, gejala COVID-19 muncul dalam waktu 2 hari sampai 2 minggu setelah terpapar virus Corona.

Kapan harus ke dokter

Segera ke dokter bila Anda mengalami gejala infeksi virus Corona (COVID-19) seperti yang disebutkan di atas, terutama jika gejala muncul 2 minggu setelah kembali dari daerah yang memiliki kasus COVID-19 atau berinteraksi dengan penderita infeksi virus Corona.

Bila Anda mungkin terpapar virus Corona namun tidak mengalami gejala apa pun, Anda tidak perlu memeriksakan diri ke rumah sakit, cukup tinggal di rumah selama 14 hari dan membatasi kontak dengan orang lain.

Penyebab Virus Corona

Infeksi virus Corona atau COVID-19 disebabkan oleh coronavirus, yaitu kelompok virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Pada sebagian besar kasus, coronavirus hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan sampai sedang, seperti flu. Akan tetapi, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti pneumonia, Middle-East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Ada dugaan bahwa virus Corona awalnya ditularkan dari hewan ke manusia. Namun, kemudian diketahui bahwa virus Corona juga menular dari manusia ke manusia.

Seseorang dapat tertular COVID-19 melalui berbagai cara, yaitu:

  • Tidak sengaja menghirup percikan ludah dari bersin atau batuk penderita COVID-19
  • Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dulu setelah menyentuh benda yang terkena cipratan air liur penderita COVID-19
  • Kontak jarak dekat dengan penderita COVID-19, misalnya bersentuhan atau berjabat tangan

Virus Corona dapat menginfeksi siapa saja, tetapi efeknya akan lebih berbahaya atau bahkan fatal bila terjadi pada orang lanjut usia, ibu hamil, orang yang sedang sakit, atau orang yang daya tahan tubuhnya lemah.

Diagnosis Virus Corona

Untuk menentukan apakah pasien terinfeksi virus Corona, dokter akan menanyakan gejala yang dialami pasien. Dokter juga akan bertanya apakah pasien bepergian atau tinggal di daerah yang memiliki kasus infeksi virus Corona sebelum gejala muncul.

Guna memastikan diagnosis COVID-19, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan berikut:

Pengobatan Virus Corona

Infeksi virus Corona atau COVID-19 belum bisa diobati, tetapi ada beberapa langkah yang dapat dilakukan dokter untuk meredakan gejalanya dan mencegah penyebaran virus, yaitu:

  • Merujuk penderita COVID-19 untuk menjalani perawatan dan karatina di rumah sakit yang ditunjuk
  • Memberikan obat pereda demam dan nyeri yang aman dan sesuai kondisi penderita
  • Menganjurkan penderita COVID-19 untuk melakukan isolasi mandiri dan istirahat yang cukup
  • Menganjurkan penderita COVID-19 untuk banyak minum air putih untuk menjaga kadar cairan tubuh.

Komplikasi Virus Corona

Pada kasus yang parah, infeksi virus Corona bisa menyebabkan beberapa komplikasi serius berikut ini:

Pencegahan Virus Corona

Sampai saat ini, belum ada vaksin untuk mencegah infeksi virus Corona atau COVID-19. Oleh sebab itu, cara pencegahan yang terbaik adalah dengan menghindari faktor-faktor yang bisa menyebabkan Anda terinfeksi virus ini, yaitu:

  • Hindari bepergian ke tempat-tempat umum yang ramai pengunjung (social distancing).
  • Gunakan masker saat beraktivitas di tempat umum atau keramaian.
  • Rutin mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol minimal 60% setelah beraktivitas di luar rumah atau di tempat umum.
  • Meningkatkan daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat.
  • Jangan menyentuh mata, mulut, dan hidung sebelum mencuci tangan.
  • Hindari kontak dengan hewan, terutama hewan liar. Bila terjadi kontak dengan hewan, cuci tangan setelahnya.
  • Masak daging sampai benar-benar matang sebelum dikonsumsi.
  • Tutup mulut dan hidung dengan tisu saat batuk atau bersin, kemudian buang tisu ke tempat sampah.
  • Hindari berdekatan dengan orang yang sedang sakit demam, batuk, atau pilek.
  • Jaga kebersihan benda yang sering disentuh dan kebersihan lingkungan.

Untuk orang yang diduga terkena COVID-19 atau termasuk kategori ODP (orang dalam pemantauan), ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar virus Corona tidak menular ke orang lain, yaitu:

  • Jangan keluar rumah, kecuali untuk mendapatkan pengobatan.
  • Periksakan diri ke dokter hanya bila Anda mengalami gejala gangguan pernapasan yang disertai demam atau memenuhi kriteria PDP (pasien dalam pengawasan).
  • Usahakan untuk tinggal terpisah dari orang lain untuk sementara waktu. Bila tidak memungkinkan, gunakan kamar tidur dan kamar mandi yang berbeda dengan yang digunakan orang lain.
  • Larang dan cegah orang lain untuk mengunjungi atau menjenguk Anda sampai Anda benar-benar sembuh.
  • Sebisa mungkin jangan melakukan pertemuan dengan orang yang sedang  sakit.
  • Hindari berbagi penggunaan alat makan dan minum, alat mandi, serta perlengkapan tidur dengan orang lain.
  • Pakai masker dan sarung tangan bila sedang berada di tempat umum atau sedang bersama orang lain.
  • Gunakan tisu untuk menutup mulut dan hidung bila batuk atau bersin, lalu segera buang tisu ke tempat sampah.

Penyakit covid -19 paling menakutkan penghuni dunia, laksana tamparan malaikat Izrail yang  sedikit menyadarkan setiap penghuni dunia atas sikap dan perbuatan untuk instrofeksi diri sebagai manifestasi imany kepada-Nya.

Sebuah intermezo yang dikirimkan Tuhan kepada penduduk alam, penghuninya sudah setengah gila menyikapi dan setengah mati berlutut di hadapan-Nya, malaikatpun tersenyum simpul melihat kelakuan dan kezaliman penduduk dunia dan mengacungkan jempul kepada Rabbnya seraya memberikan tahiyah kepada AHSANUL HAKIMIN,  biar penghuni dunia sadar atas kezalimannya, baik sesama mereka –manusia, maupun pada alam sekitar sebagai syahadah atas perbuatan mereka.

Intermezo dunia dengan skenario Tuhan Khaliqul alam, dunia laksana kota mati, sepi menghiba dan mengharapkan intermezo ini segera berakhir.

2.

    COVID -19  &  DUNIA19 DAN DUNIA

     Virus corona (covid-19) menghibuhkan tatanan penduduk dunia, tatkala virus ini lewat penghuni dunia laksana memasuki gerbang pintu kiamat, maka berbagai usaha / langkah mereka ambil agar tidak terjebak dalam rumus kemusnahan.

  1. Sikap Pemimpin Dunia

     Berbagai sikap dan kebijakan diambil demi keselamatan rakyat / warganya, berbagai info tentang virus dan perkembangannya.

Istilah-Istilah  yang diambil oleh pemimpin/stakeholders berkaitan dengan COVID-19

‘Social distancing’ hanyalah salah satu dari sekian banyak istilah terkait virus Corona yang bermunculan dalam pandemi COVID-19. Untuk lebih memahami istilah-istilah yang berhubungan dengan COVID-19 tersebut, simak ulasan berikut:

1. Social distancing

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), arti istilah ‘social distancing’ atau ‘pembatasan sosial’ adalah menghindari tempat umum, menjauhi keramaian, dan menjaga jarak optimal 2 meter dari orang lain. Dengan adanya jarak, penyebaran penyakit ini diharapkan dapat berkurang.

2. Isolasi dan karantina

Kedua istilah terkait virus Corona ini merujuk pada tindakan untuk mencegah penularan virus Corona dari orang yang sudah terpapar virus ini ke orang lain yang belum.

Perbedaannya, isolasi memisahkan orang yang sudah sakit dengan orang yang tidak sakit untuk mencegah penyebaran virus Corona, sedangkan karantina memisahkan dan membatasi kegiatan orang yang sudah terpapar virus Corona namun belum menunjukkan gejala.

Berbagai pakar menganjurkan untuk melakukan karantina di rumah atau isolasi mandiri selama setidaknya 14 hari. Selama karantina, Anda dianjurkan untuk tinggal di rumah sambil menjalani pola hidup bersih dan sehat, tidak bertemu orang lain, dan menjaga jarak setidaknya 2 meter dari orang-orang yang tinggal serumah.

3. Lockdown

Istilah ‘lockdown’ berarti karantina wilayah, yaitu pembatasan pergerakan penduduk dalam suatu wilayah, termasuk menutup akses masuk dan keluar wilayah. Penutupan jalur keluar masuk serta pembatasan pergerakan penduduk ini dilakukan untuk mengurangi kontaminasi dan penyebaran penyakit COVID-19.

4. Flattening the curve

‘Flattening the curve’ atau ‘pelandaian kurva’ merupakan istilah di bidang epidemiologi untuk upaya memperlambat penyebaran penyakit menular yang dalam hal ini adalah COVID-19, sehingga fasilitas kesehatan memiliki sumber daya yang memadai bagi para penderita. Pelandaian kurva ini dapat dilakukan dengan social distancing, karantina, dan isolasi.

Kurva menggambarkan prediksi jumlah orang yang terinfeksi virus Corona dalam rentang waktu tertentu. Jumlah penderita yang meningkat drastis dalam periode yang sangat singkat, misalnya hanya dalam waktu beberapa hari, digambarkan sebagai kurva tinggi yang sempit.

Jumlah penderita yang membeludak membuat penanganan tidak bisa dilakukan secara optimal. Hal ini karena jumlah penderita melampaui kemampuan dan kapasitas fasilitas kesehatan, misalnya jumlah tempat tidur dan alat yang tersedia di rumah sakit tidak cukup untuk menangani semua pasien.

Kondisi tersebut menyebabkan tingkat kematian menjadi sangat tinggi, tidak hanya pada pasien COVID-19, namun juga pada pasien penyakit lain yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Meskipun jumlah penderitanya sama, namun jika laju pertambahannya lebih lambat (digambarkan oleh kurva yang lebih panjang dan landai), fasilitas kesehatan memiliki kesempatan untuk menangani penderita dengan sarana dan prasarana yang memadai.

5. Pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP)

PDP dan ODP merupakan definisi yang digunakan untuk mengelompokkan individu berdasarkan:

  • Gejala demam dan/atau gangguan pernapasan
  • Riwayat perjalanan ke daerah pandemi infeksi virus Corona atau tinggal di daerah tersebut selama 14 hari terakhir sebelum gejala timbul
  • Riwayat kontak dengan orang yang terinfeksi atau diduga terinfeksi COVID-19 dalam 14 hari terakhir sebelum gejala timbul

Secara umum, ODP dan PDP bisa dibedakan dari gejala yang dialami. Pada ODP, gejala yang muncul hanya salah satu antara demam atau gangguan pernapasan, seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan sesak napas. Sedangkan pada PDP, sudah ada gejala demam maupun gangguan pernapasan.

Terhadap PDP, dilakukan rawat inap terisolasi di rumah sakit, pemeriksaan laboratorium, dan pemantauan pada orang lain yang memiliki kontak erat dengan PDP tersebut. Sementara ODP harus menjalani isolasi di rumah dan kondisinya akan dipantau setiap hari selama 2 minggu, menggunakan formulir khusus.

Jika kondisi ODP mengalami perburukan dan sudah memenuhi kriteria PDP atau hasil laboratoriumnya positif terinfeksi virus Corona, maka ODP tersebut harus dibawa ke rumah sakit.

6. Herd immunity

Secara harfiah, istilah ‘herd immunity’ berarti kekebalan kelompok. Herd immunity terhadap suatu penyakit bisa dicapai dengan pemberian vaksin secara meluas atau bila sudah terbentuk kekebalan alami pada sebagian besar orang dalam suatu kelompok setelah mereka terpapar dan sembuh dari penyakit tersebut.

Di tengah pandemi COVID-19, sebagian ahli percaya bahwa penularan virus Corona akan menurun atau bahkan berhenti sama sekali bila sudah ada banyak orang yang sembuh dan menjadi kebal terhadap infeksi ini.

Meski begitu, hingga saat ini belum ada vaksin untuk COVID-19 dan untuk menunggu hingga tercapai herd immunity secara alami pun sangat berisiko karena penyakit ini dapat berakibat fatal.

Nah, itu dia berbagai istilah terkait infeksi virus Corona atau COVID-19. Untuk meminimalkan risiko Anda terjangkit penyakit ini, patuhilah anjuran dokter dan pemerintah. Selain mencuci tangan, memakai masker, serta menjalani pola hidup bersih dan sehat, hindari tempat-tempat yang ramai atau berkumpul dengan banyak orang.

Pandemi COVID-19 memang mengkhawatirkan, tetapi setiap orang dapat membantu meringkankan kondisi ini dengan melakukan perannya masing-masing.

  • Sikap  ULAMA ;

Mulai Ulama Internasional, Nasional maupun lokal mengambil sikap :

MENYELAMATKAN UMAT/JAMAAH DEMI KEMASLAHATAN AMMAH

Berbagai fatwa mereka berikan sebagai kewajiban demi keselamatan, berbagai qaidah fiqhiyah dan nash mereka keluarkan, antara lain ;

FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Nomor 14  Tahun 2020

Tentang

PENYELENGGARAAN IBADAH DALAM SITUASI TERJADI WABAH COVID-19

1.         Setiap orang wajib melakukan ikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi setiap hal yang diyakini dapat menyebabkannya terpapar penyakit, karena hal itu merupakan bagian dari menjaga tujuan pokok beragama (al-Dharuriyat al-Khams).

2.         Orang yang telah terpapar virus Corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Baginya shalat Jumat dapat diganti dengan shalat zuhur di tempat kediaman, karena shalat jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal. Baginya haram melakukan aktifitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan, seperti jamaah shalat lima waktu/ rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan tabligh akbar. 

3.         Orang yang sehat dan yang belum diketahui atau diyakini tidak terpapar COVID-19, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

4.         Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu/rawatib, Tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya.

5.         Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadah sebagaimana biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar virus Corona, seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan),  membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun.

6.         Dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat masing-masing. Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktivitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran COVID-19, seperti jamaah shalat lima waktu/ rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim. 

7.         Dalam kondisi penyebaran COVID-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan shalat Jumat.

8.         Pemerintah menjadikan fatwa ini sebagai pedoman dalam upaya penanggulangan COVID-19 terkait dengan masalah keagamaan dan umat Islam wajib mentaatinya.

9.         Pengurusan jenazah (tajhiz janazah) terpapar COVID-19, terutama dalam memandikan dan mengkafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat. Sedangkan untuk menshalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar COVID-19.

10.       Umat Islam agar semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah, taubat, istighfar, dzikir, membaca Qunut Nazilah di setiap shalat fardhu, memperbanyak shalawat, memperbanyak sedekah, dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari musibah dan marabahaya (doa daf’u al-bala’), khususnya dari wabah COVID-19.

11.       Tindakan yang menimbulkan kepanikan dan/atau menyebabkan kerugian publik, seperti memborong dan menimbun bahan kebutuhan pokok dan menimbun masker hukumnya haram.

Rekomendasi

1.         Pemerintah wajib  melakukan pembatasan super ketat terhadap keluar-masuknya orang dan barang ke dan dari  Indonesia kecuali petugas medis dan import barang kebutuhan pokok serta keperluan emergency.

2.         Umat Islam wajib mendukung dan mentaati kebijakan pemerintah yang melakukan isolasi dan pengobatan terhadap orang yang terpapar COVID-19, agar penyebaran virus tersebut dapat dicegah.

3.         Masyarakat hendaknya proporsional dalam menyikapi penyebaran COVID-19 dan orang yang terpapar COVID-19 sesuai kaidah kesehatan. Oleh karena itu masyarakat diharapkan menerima kembali orang yang dinyatakan negatif dan/atau dinyatakan sembuh.

Ketentuan Penutup

1.         Fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata dibutuhkan perbaikan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

2.         Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, semua pihak dihimbau untuk menyebarluaskan fatwa ini.

                                                                         Ditetapkan di   :  Jakarta

                        Pada tanggal     :    21 Rajab 1441

                                                                                                                            16 Maret 2020 M

MAJELIS ULAMA INDONESIA

KOMISI FATWA

PROF. DR. H. HASANUDDIN AF    

Ketua 

DR. HM. ASRORUN NI’AM SHOLEH, MA

Sekretaris

3.

SERBA-SERBI COVID-19BA-SERBI COVID -19

  1. PUISI

BUBARNYA AGAMA

by Ahmad Mustofa Bisri

Makkah sepi

Madinah sunyi

Kakbah dipagari

Masjid tutup

Jamaah bubar

Jumat batal

Umrah di stop

Haji tak pasti

Lafadz adzan berubah

Salaman dihindari

Corona datang

Seolah-olah membawa pesan

Ritual itu rapuh!

Ketika Corona datang

Engkau dipaksa mencari Tuhan

Bukan di tembok Kakbah

Bukan di dalam masjid

Bukan di mimbar khutbah

Bukan dalam thawaf

Bukan pada panggilan azan

Bukan dalam shalat jamaah

Bukan dengan jabat tangan

Melainkan,

Pada keterisolasianmu

Pada mulutmu yang terkunci

Pada hakikat yang tersembunyi

Corona mengajarimu,

Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian

Tuhan itu bukan (melulu) pada syariat

Tuhan itu ada pada jalan keterputusanmu

Dengan dunia yang berpenyakit

Corona memurnikan agama

Bahwa tak ada yang boleh tersisa

Kecuali Tuhan itu sendiri!

Temukan Dia! Jangan hanya sibuk menyebarkan sisi buruk covid- 19 saja. Sisi positif virus corona: Tidak ada di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Semua ada Tujuan  dan Hikmahnya.

Inilah Hikmah di balik pandemik Corona.

  1. Corona menutup bar, klub malam, rumah bordil, kasino dan tempat orang berbuat maksiat.
  2. Corona menurunkan suku bunga bank yang mencekik leher.
  3. Corona membawa keluarga kembali ke dalam rumah dan melakukan aktivitas rumah bersama.
  4. Corona memindahkan alokasi anggaran militer menjadi anggaran perawatan kesehatan
  5. Corona melemahkan para diktator dunia yang selama ini sombong luar biasa.
  6. Corona membungkam kesombongan negara yang menganggap dirinya paling hebat dan tak terkalahkan.
  7. Corona membuat manusia banyak berdoa dan berharap pada-Nya dan tidak semata-mata mengandalkan sains dan teknologi.
  8. Corona memaksa negara memperhatikan rakyatnya.
  9. Corona mengajarkan cara bersin, menguap, dan batuk yang baik dan benar.
  10. Corona membuat kita tinggal di rumah dan hidup sederhana.
  11. Corona mengajarkan bagaimana virus kecil yang berukuran 150 nano bisa mengalahkan tujuh milyar manusia yang hidup di bumi yang luasnya ratusan juta hektar.
  12. Corona memberi kesempatan kepada kita untuk menyadari bahwa kematian itu nyata dan dekat dengan kita.
  13. Corona mengajari kita agar tidak jajan dan makan sembarangan di luar.
  14. Corona membangunkan kita pada kenyataan dan memberi kita kesempatan untuk meminta pengampunan dan pertolongan-Nya.
  15. Corona menyadarkan kita bahwa apa yang kita miliki adalah milik Tuhan yang bisa diambil kapan saja.

Percayalah, Tuhan menurunkan sesuatu dengan hikmah; ada pelajaran besar dalam hal ini bagi mereka yang arif dan bijaksana untuk melihat dan menyadari.

Apa yang mustahil bagi  manusia , Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Berharap hanya kepadaNya

sumber: WA Group PA Al Wasliyah P. Brayan

Talbiyah dalam Kesendirian

Tuhan,

Engkau sepikan tempat-tempat kesibukan kami Engkau sunyikan tempat kami membanggakan jumlah kelompok kami​​​​​​​ Bahkan Engkau senyapkan rumah-rumahMu yang selama ini kami ramaikan hanya untuk memuja diri-diri kami​​​​​​​ MengingatMu pun demi kepentingan kami sendiri.

Tuhan,

Bila ini bukan karena kemurkaanMu kami tidak peduli​​​​​​​ Bila ini karena cinta dan rinduMu kepada kami​​​​​​​ Bimbinglah kami​​​​​​​ untuk segera datang,

Tuhan,

memenuhi PanggilanMu

Terimalah.

LabbaiKa Allahumma labbaiKa labbaiKa lã syariika laKa labbaiKa Innal hamda wanni’mata laKa walmulk lã syarìika laKa.  

  23. 07. 1441 / 18. 03. 2020  

KH Ahmad Mustofa Bisri

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/117929/puisi-gus-mus–talbiyah-dalam-kesendirian

  • PENDAPAT BERBAGAI AHLI

DR. KH. Ahmad Musta’in Syafi’ie Al Hafidz Al hadist(Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang) MENYIKAPI ‘ULAMA YANG TIDAK PERLU SHOLAT JUM’AT DI MASJID DI GANTI SHOLAT DHUHUR SAJA DAN MENYIKAPI ‘ULAMA YANG TETAP SHOLAT JAMA’AH JUM’AT DI MASJID [25/3 06:05] +62 813-3161-7980: KORONA MEREBAK, IBADAH MALANG KADAK

 Tentang virus korona, fatwa sudah banyak dan dalil sudah numpuk-numpuk. Ada yang fiqih oriented, mengedepankan ikhtiar dan kehati-hatian, hingga tak jelas, apakah saking qadariahnya (free act) atau “ketakutan”. Ada juga yang pasrah opo jare Gusti Allah, sehingga tidak jelas juga, apa saking jabariahnya (fatalistik) atau “dungu”. Hikmahnya, umat menjadi makin berpengetahuan. Baik dari madzhab jaga-jaga maupun dari madzhab pasrah. Yang jaga-jaga mengikuti protokol pemerintah, sangat loyal sekali, hingga membolehkan, bahkan menganjurkan umat islam tidak shalat jum’ah, tidak shalat jama’ah di masjid Karena, yang dilarang menurut “madzhab korona” adalah “ngumpulnya”. Tak peduli ngumpul mubah, maksiat atau ngumpul ibadah. Masing-masing harus melakukan social distancing. Dalil mereka a.l. : Pertama, tidak boleh ada bahaya menimpa diri sendiri dan atau membahayakan orang lain. Kedua, Umar bin al-Khattab tidak mau masuk Damaskus yang sudah terpapar wabah akut. Ketika ditegur, Umar malah membentak : “min qadarillah ila qadarillah” (saya lari dari taqdir Allah, menuju taqdir Allah). Ketiga, katanya ada riwayat, bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mau berjabat tangan dengan pria terpapar penyakit kala prosesi bai’ah al-ridlwan. Keempat, katanya beliau juga melarang istrinya, A’isyah mengunjungi ayahnya, Abu Bakr yang sedang demam tinggi. Kelima, qaidah fiqiyah yang mengedepankan prefensi (dar’ al-mafasid) dll. Apa Nabi SAW dan Umar tidak ngerti taqdir?. Sementara madzhab yang tetap menyeru shalat jum’ah dan jamaa’ah maktubah berdasar : Pertama, dalam perang berkecamuk saja shalat berjama’ah masih disyari’atkan (al-Nisa’:102). Kedua, ada jaminan resmi dari Rasululah SAW, bahwa masjid adalah benteng perlindungan orang beriman dari wabah. Ahli masjid, pejama’ah aktif tidak akan terkena wabah. Ketiga, memang Rasulullah SAW dan Umar R.A. menghindari wabah, tapi kala itu jum’ahan dan berjama’ah jalan terus. Keempat, hukum dasar berobat adalah mubah (al-ashl fi al-tadawi al-ibahah). Segudang contoh orang-orang shalih yang tidak mau berobat. Memilih tidak jum’ahan, tidak berjama’ah memang benar, tapi nampak kurang percaya terhadap jaminan perlindungan keamaan yang diberikan Nabi Muhammad SAW. Kurang punya ghirah terhadap pahala-pahala yang diguyurkan Tuhan di dalam masjid. Ada pahala berlipat-lipat, ada rahmat dan ada keberkahan. Sebaliknya, memilih jum’ahan dan sok “lillahi ta’ala” juga tidak benar. Karena Tuhan mengajari kita agar menjaga diri. (Tanpa ikhtiyar, hanya pasrah, namanya TAWAKKAL. Ada alif setelah waw. Sedangkan Ikhtiar dulu, baru pasrah, namanya TAWAKKAL. Huruf waw ditasydid). Rasanya, di negeri ini lebih maslahah masjid-masjid tetap ramai dengan shalat jama’ah dan jum’ah, tadarus dan munajah dengan tetap usaha sesuai protokol pemerintah. Semua masjid, mushalla disemprot anti virus, disediakan sanitasi bersih, cairan anti septic di pintu, membawa sajadah sendiri-sendiri, shaff sedikit renggang tanpa jabat tangan usai shalat. Jangan samakan antara masjid dengan tempat umum. Masjid adalah tempat ibadah, tempat suci yang hanya dihadiri oleh orang-orang yang sudah bersuci lebih dahulu sebelum masuk masjid. Tempat berkomunikasi intensif dengan Tuhan yang menurunkan korona. Justeru dengan pendekatan dan lobi di tempat ini Tuhan lebih respon dan welas asih. Tidak sama dengan tempat lain. Dhuhur di Masjid Istiqlal (?) Aneh dan tidak dimengerti apa yang terjadi di masjid Istiqlal Jakarta jum’ah kemarin. Para jama’ah sudah ngumpul di masjid, shaff renggang, lho kok shalat Dhuhur dan tidak shalat jum’ah. Ini fiqih apa?. Konversi shalat jum’ah ke dhuhur itu karena alasan “udzur”, wabah dan lain-lain yang tidak memungkinkan ngumpul. Maka kaum muslimin mengisolasi diri dengan shalat dhuhur di rumah masing-masing. ” Shallu fi Rihalikum”, atau “Shallu fi buyutikum”. Lha wong sudah ngumpul semua di masjid kok tidak jum’ahan. Apa alasannya?, apa tidak dosa sengaja meninggalkan jum’ahan macam itu ? Ini namanya ibadah malang kadak. Kayak upaya pemerintah yang me-lockdown sebagian komunitas, sekolah, kampus, pondok pesantren termasuk masjid dan lain-lain. Padahal mereka orang-orang bersih dan terdidik. Sementara pasar dan tempat kumuh lainnya dibiarkan. Lockdown malang kadak! [25/3 06:05] +62 813-3161-7980:

CORONA MEREBAK, IBADAH MALANG KADAK (2) DR. Ahmad Musta’in Syafi’ie. (Pengasuh Madrasatul Qur’an Tebuireng) ——

Memang penyakit itu lintas agama. Tak pandang agamanya apa. Bila lemah, ya kena. Tapi kami yaqin, haqqul yaqin, bahwa islam lebih sempurna memberi panduan. Tidak hanya pakai kurikulum “puskesmas” saja, melainkan juga kurikulum “masjid”. Usulan tetap memakmurkan masjid di tengah corona bukan melawan kurikulum puskesmas, karena setelah lebih dahulu mematuhi kurikulum puskesmas. Seperti disteril, cuci tangan, jaga jarak dll. Tidak pula melawan fatwa pembolehan tidak jum’ahan atau berjamaah, justru membantu pemerintah dalam penanganan korona.

Pertama, masjid adalah tempat sujud, tempat mengadukan semua problem kepada Dzat yang maha kuasa. Apalagi dilakukan secara kolosal dan demonstratif (berjama’ah), maka Tuhan tak tega menolak. Jika Anda yakin ini, maka izinkan masjid membantu percepatan penyelesaian corona dengan caranya sendiri. Untuk itu, datanglah besopan-sopan ke Rumah-Nya, seperti anda beramai-ramai datang ke istana menuntut sesuatu. Di masjid, Tuhan telah lama menunggu kedatangan kalian. Saatnya berik’tikaf menyeluruh, muhasabah dan isftigfar, serta membuka pintu masjid di malam hari. Saatnya semua ber-QUNUT NAZILAH secara tadlarru’ wa khufyah. Simak salah satu penggalan kata dalam qunut nazilah. “.. Allahumm idfa’ ‘anna al-bala’ wa al-waba’ wa al-ghala’…”. (tangkislah kami dari bala, waba dan ghala). Ada keterkaitan antara ketiganya : al-bala’ (cobaan, belai : Jawa), al-waba’ (wabah, korona), al-ghala’ (harga mahal). Terbaca, bahwa Masjid tidak hanya memproyeksikan dihilangkannya corona saja, melainkan juga bala’ yang lain, bahkan memohon stabilitas ekonomi yang bisa terjadi akibat dampak wabah. Betapa banyak orang yang tega mengeruk untung dari sekedar penjualan masker, jahe dan temulawak. Belum lagi kalau “lock down”, maka kebutuhan pokok jadi rebutan. Sungguh hal yang tidak terjangkau oleh kurikulum puskesmas. Dan itu hanya bisa dilakukan bersama, di masjid. Dalam sejarah orang-orang shalih terdahulu, tidak ada qunut nazilah yang tidak efektif. Semua problem terselesaikan di luar nalar. Padahal zaman dulu, penanganan wabah secara medis tidak secanggih sekarang.

Kedua, benar-benar ada jaminan dari hadlrah Rasulillah SAW, bahwa Allah SWT tidak akan menimpakan wabah kepada ahli masjid, ‘ummar al-masjid. Jika anda percaya sabda Nabi ini, maka yakinlah bahwa Tuhan tidak mungkin menebar Covid-19 di rumah-Nya sendiri. Maka, bagi yang sudah positif terpapar, ya jangan ke masjid. Sekali lagi, karena ahli masjid adalah orang-orang bersih, lahir dan batin, ” fihi rijal yuhibbun an yatatahharu” (al-Taubah:108). Sementara kerumunan di luar masjid, mall, pasar, resepsi, wisuda, do’a bersama, dan tempat ibadah agama lain tidak ada jaminan.

Ketiga, corona ini bisa jadi sebagai tes keimanan bagi umat Islam terkait kepeduliannya dengan masjid. Bukankah, hanya orang yang beriman saja yang setia memakmurkan masjid (al-Taubah:18) ?. Bagi yang tidak pernah ke masjid memang tak ada beda, diwajibkan, apalagi dilarang. Tapi tidak bagi yang biasa ke (sobo : jawa) masjid. Rasanya ada yang hilang. Bukankah Tuhan juga welas asih kepada seseorang yang hatinya “gumantung” di masjid, “rajul qalbuhu mu’allaq fi al-masajid” (Hadis). Indah sekali, bila wakil presiden Kiai Makruf Amin mempelopori sisi masjid, sementara pak Jokowi sisi puskesmasnya. Tulisan ini sekedar mengimbangi pemikiran fiqih yang lebih fokus ke akliah dengan mengajak sedikit naik ke zona ilahiah.

KEHILANGAN SANDAL DI MASJID MEMANG KECEWA. SEHARUSNYA LEBIH KECEWA LAGI KETIKA SANDAL ANDA TIDAK PERNAH KELIHATAN DI MASJID. Hadaanallah… semoga Allah memberi hidayah kepada kita Aamiin….

Tidak Shalat Jumat Tiga Kali di Saat Wabah Covid-19 Apakah Tergolong Kafir? Galamedianews 2020/04/03 06:44 JUMAT (3/3/2020) ini merupakan Jumat ketiga setelah gencarnya pemberlakuan social distancing akibat mewabahnya Covid-19. Sejak itu juga sejumlah masjid memilih untuk tidak menggelar salat Jumat. Lalu bagaimana dengan hadist yang menyatakan jika seorang laki-laki meninggalkan salat Jumat sebanyak 3 kali berturut-turut maka dikategorikan kafir? Menurut Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh mengatakan pria muslim yang menggugurkan kewajiban salat Jumat tiga kali berturut-turut di kala wabah COVID-19 tidak digolongkan kafir asalkan dia menggantinya dengan melaksanakan salat zuhur di rumah. Sholeh menjelaskan, alasan pria muslim yang tidak salat Jumat itu untuk menghindari wabah penyakit. Karena itu, ia mengalami udzhur syar’i atau segala halangan sesuai kaidah syari’at Islam yang menyebabkan seseorang boleh untuk tidak melakukan kewajiban atau boleh menggantikan kewajiban itu dengan kewajiban lain. “Menurut pandangan para ulama fiqih (ilmu hukum agama) udzhur syar’i untuk tidak salat Jumat antara lain karena sakit atau karena khawatir mendapatkan sakit. Nah, dalam kondisi ketika berkumpul dan berkerumun itu diduga kuat akan terkena wabah atau menularkan penyakit, maka itu menjadi udzhur untuk tidak Jumatan (salat Jumat),” kata Sholeh berdasarkan keterangan persnya. Sementara, pria muslim yang meninggalkan salat Jumat karena meremehkan atau mengingkari kewajiban Jumat tiga kali berturut-turut, sebagaimana dinukil dari hadits Shahih, maka dia bisa dikategorikan kafir. “Perlu disampaikan bahwa hadits yang menyatakan kalau tidak salat Jumat selama tiga kali berturut-turut dihukumi kafir itu, jika mereka ingkar pada kewajiban Jumat,” kata Dosen Pascasarjana Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu. Sebagaimana riwayat hadits yang menyatakan: “Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa udzhur, maka Allah akan tutup hatinya.” Atau dalam redaksi hadits yang lain, meninggalkan Jumat dengan menggampangkan atau meremehkan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali dengan meremehkan, maka Allah tutup hatinya.” Sholeh mengatakan ada juga pria muslim yang tidak salat Jumat karena malas. Mungkin dia meyakini kewajiban Jumat tapi dia tidak salat Jumat karena kemalasan dan tanpa adanya udzhur syar’i, maka dia berdosa, atau ‘ashin (melakukan maksiat). “Jika tidak Jumatan tiga kali berturut tanpa udzhur, Allah juga mengunci mati hatinya,” kata Sholeh. MUI mengeluarkan fatwa bagi seseorang yang berada di kawasan yang potensi penularan wabah Covid-19 tinggi atau sangat tinggi, dibolehkan mengganti salat Jumat dengan salat zuhur di rumah. Fatwa itu mengingat hingga kini, wabah COVID-19 masih belum bisa dikendalikan dan diatasi karena potensi penularan dan penyebarannya masih tinggi. “Karena itu, udzhur untuk meninggalkan salat Jumat masih ada,” kata Sholeh. Ia mengutip kitab Asna al-Mathalib yang menyebutkan bahwa orang yang terjangkit wabah lepra dan penyakit menular lainnya dicegah untuk berjamaah ke Masjid dan sholat Jumat, juga bercampur dengan orang-orang (yang sehat). Ia juga menyebut dalam kitab al-Inshaf yang menyatakan jika udzhur yang dibolehkan meninggalkan shalat Jumat dan jamaah adalah orang yang sakit. “Hal itu tidak ada perbedaan pandangan di kalangan ulama. Termasuk udzhur juga, apabila yang dibolehkan meninggalkan salat Jumat dan jamaah karena takut terkena penyakit,” kata Sholeh berdasarkan kitab-kitab tersebut. Jadi, dapat disimpulkan jika kondisi wabah Covid-19 menjadikan udzhur bagi pria muslim untuk tidak Jumatan. Karena saat wabah itu, ada yang sakit, ada yang khawatir akan sakitnya dan khawatir menularkan penyakit ke orang lain, serta ada orang yang khawatir tertular penyakit dari orang lain. “Selama masih ada udzhur, maka masih tetap boleh tidak Jumatan. Dan baginya tidak dosa. Kewajibannya adalah mengganti dengan salat zuhur,” kata Sholeh. Selain sakit, ada beberapa udzhur syar’i lain yang dibolehkan meninggalkan Jumat, di antaranya hujan deras yang menghalangi menuju masjid, lalu karena adanya kekhawatiran akan keselamatan diri, keluarga, atau harta. Alasan-alasan tersebut juga membuat seseorang dibolehkan tidak salat Jumat asal mengganti kewajibannya dengan salat zuhur.

Info dari Brig.Jen. Dr. Mardjo Subiandono Eks. Kepala Team kedokteran Istana Kepresidenan

Sedikit lega setelah baca ini, makasih doktor Indro LITERASI COVID 19 Budayakan Baca sampai selesai, Berpikir Positif & Jangan Stress Penjelasan Ilmiah terkait COVID 19 oleh dr. Moh. Indro Cahyono (ahli virus)

 1. Virus (termasuk covid-19) adalah benda mati yang dapat hidup di media hidup.

Dia tidak bisa hidup menempel apalagi memproduksi markas virusnya di benda-benda mati. Namun ada catatannya. Kalao misalnya ada orang yang sudah terinfeksi mengeluarkan droplet (cairan flu atau luda) lalu kena di baju, kain, atau meja maka dia tetap hidup selama droplet itu belum mengering. Kalao baju dicuci atau setidak-tidaknya mengering sendiri karena pengaruh lingkungan misalnya karena panas atau hembusan angin, maka virusnya akan mati. Begitupun di meja, kursi, lantai, karpet dan sejenisnya. Kalao sudah mengering ya sudah virusnya akan mati.

 2. Virus ini tidak bisa hidup di udara. Dia hanya jadi butir-butir kristal saja. Semua jenis virus. Mau virus flu, TB, paru, dll. Bagaimana dengan berjabat tangan? Sama seperti penjelasan nomor satu. Walau tangan ini termasuk bagian hidup tapi selama dropletnya kering, dibersihkan maka virus pun akan mati. Karena virus hanya bisa masuk lewat tiga jalur yakni mata, hidung, dan mulut. Maka jika selesai berjabat tangan dianjurkan membasuhnya dengan antis, sabun, air panas, asing, atau cairan cuka/asam.

3. Virus tidak bisa hidup di air panas, air asing, cuka, atau cairan asam Maka jika sudah terinfeksi segera konsumsi vitamin E (brokoli, kelor) dan vitamin C (jeruk, mangga, dll).

4. Yang terinfeksi atau dinyatakan positif berpeluang sembuh total bagi mereka yang ketahanan tubuhnya kuat, tidak memiliki riwayat penyakit bawaan seperti paru, TB, hippertensi, asma, kanker, dan tumor.

 5. Bagi anak-anak muda atau yang ketahanan tubuhnya kuat yang sudah dinyatakan positif cukup treatment (perlakuan) mandiri di rumah Karena usia produktif antibodinya berproduksi 2-3 kali lipat dibandingkan dengan manula. Anti bodi pada hari ke 4-5 akan keluar untuk menyerang virus. Untuk menekan rasa stres bagi yang sudah positif cukup mengonsumsi vitamin, dan antibiotik. Jangan ke RS yang sudah ditentukan karena itu diperuntukan bagi mereka yang produksi antibodinya rendah.

6. Jangan stres dan panik. Karena jika stres dan panik maka antibodinya akan lambat berproduksi Dengan itulah kita mudah terserang. Apalagi stres itu hanya membuat psikosomatik (kondisi jiwa yang tersugesti) lalu membuat tubuh lemah.

7. Virus yang dikatakan bertahan hidup di tempat basah lebih dari 9 jam itu hoaks. Di panci, di kardus, di udara, di gagang pintu, di aluminium dan lainnya itu HOAKS. Sekali lagi virus tidak dapat hidup di benda-benda mati. Jika dicurigai ada droplet di sana maka cukup dibersihkan saja.

 8. Pasien yang terinfeksi berpeluang sembuh seperti orang yang kena flu karena status positif itu sementara.

9. Mantan pasien positif atau yang sudah sembuh berpeluang kecil untuk terinfeksi kembali. Asumsinya, di dalam tubuh kita ini ada yang namanya sel memori. Jika dia terinfeksi kembali maka masa inkubasinya tidak selama waktu awal terinfeksi. Hanya 24 jam  

(1 hari). Karena sel memorinya akan menampilkan data bawah orang ini pernah terinfeksi. Sehingga sehari kena besok atau paling lambat dua hari sudah sembuh lagi. Yang paling penting dengan adanya covid-19 ini semua orang jadi sadar sehat tumbuhkan rasa optimisme  dan pengetahuan tentang virus.

Jangan buat asumsi salah-salah yang membuat kepanikan.. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *