ChikGU

ChikGU

GURU ; DI MATA  MURIDNYA

GURU,  yang konon sarat dengan jasa  hari ini mengalami sebuah perubahan yang semakin hari semakin nampak yang merupakan “couloring of life” di tangah-tengah masyarakat dewasa ini.

Hingga syair lagu pada himne guru yang dulu “engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa” sudah dirubah / diperbaiki menjadi “ engkau patriot pahlawan bangsa, membangun insan cendekia”.

Apalagi mereka yang sudah lulus “sertifikasi” gaya dan sudut bicaranya sudah sedikit jaim dibanding sebelumnya, hingga masyarakat, khususnya masyarakat sekolah memberikan pelbagai penilaian terhadap profesi yang kini sedikit naik daun, sebagai insan yang konon membangun segudang insan cendekia di negeri ini.

            Mulai pejabat tinggi di negeri ini sampai pejabat yang terendah tidak lepas dari jamahan seorang guru, bahkan mulai kiyai, politisi, ekonom, birokrat sampai kebanyakan masyarakat pada umumnya tidak lepas dari tangan dingin seorang guru.

Demikian juga berbagai penilaian terhadap guru, mulai individual sampai  lembaga, ada yang memuji dan bahkan ada juga yang mencela, bahkan ada juga yang ragu yakni enggan memuji dan tidak juga mencela, sebuah kenistapaan.

            Guru yang mengkader manusia menjadi insan yang pripurna ini kadang tergilas dengan nuansa dan dinamikanya, apalagi hari ini, mereka disanjung mencetak gudangnya cendekiawan ini cukup dilematis, di satu segi dipuji dan diberi insentif di segi lain dituntut untuk menjadi manusia robot dengan segudang silabus dengan perangkat ajarnya di segi lain ruang lingkup mendidik anak dengan segudang keterbatasan dan peraturan yang njelimat untuk diselesaikan “dengan cara seksama dan dalam tempoe yang sesingkat-singkatnya”.   

            Hanya ada satu  orang yang dapat memberikan penilaian terhadap guru yakni muridnya. Apa yang keluar dari mulut seorang murid terhadap guru, polos, murni, apa adanya. Kenapa hanya murid? Tidak boleh orang lain yang bisa memberikan penilaian. Silahkan anda hitung sendiri berapa jam, berapa hari, berapa minggu, berapa bulan, dan berapa tahun seorang guru berhadapan dengan murid. Hanya murid yang tidak memiliki nurani  yang tidak mengingat dan mengenang gurunya. Sekecil apapun yang dipersembahkan oleh murid terhadap gurunya tetap di ingat dan dikenang sepanjang hayat. Demikian juga sebaliknya, sekecil apapun ilmu dan kebaikan yang diberikan oleh guru adalah harta yang dijaga dan dilestarikan.

            Guru adalah orang tua. Sebagai orang tua tidak ada seorang guru pun yang berniat mencelakakan murid, dan menyia-nyiakan murid untuk berbuat sesukanya dan mencelakakan dirinya. Sebab guru sangat sadar pendidikan adalah masa depan. Lebih  sadar lagi bahwa eksistensi guru adalah untuk mendesain dan merancang agar anak memiliki masa depan yang lebih baik.

            Untuk menciptakan anak lebih baik, bisa menata masa depannya dengan baik, seorang guru harus memberikan yang terbaik dari kebaikan yang dimilikinya. Memberikan ilmu yang bermanfaat adalah keharusan. Bermanfaat dalam konteks, mampu dimanfaatkan sesuai tuntunan perkembangan dan kondisi real di masyarakat.

            Adakah pendidikan yang menyimpang dari kebutuhan masyarakat? Adakah ilmu yang tidak bermanfaat? Gurulah yang memaknai dan menyikapinya. Secara konsepsional pendidikan berlandaskan konsep keilmuan yang jelas, berdasarkan pengalaman di lapangan pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya.  Karena memiliki keterkaitan pendidikan milik semua orang dan diperuntukkan kepada semua orang. Oleh sebab itu pendidikan merupakan pola kerja dan hasil karya yang dipertanggungjawabkan. Menurut Muhammad Surya, seluruh unujuk kerja kegiatan para guru berlandaskan legalitasw yang bersumber dari produk hukum yang berlaku, sehingga tidak digolongkan dari kegiatan yang menyimpang dari hukum.

            Pendidikan merupakan harta dan cita-cita, bagi guru disikapi secara professional yang diwujudkan melalaui:

  1. Percaya diri yang cukup tinggi
  2. Rasa tanggung jawab
  3. Keahlian yang memadai

Harta yang paling berharga ilmu yang selalu diamalkan pada murid. Oleh sebab itu, seorang guru perlu menambah wawasan dan pengetahuan sesuai bidang tugas. Dasar pemikirannya adalah perubahan selalu menuntut perkembangan dan ilmu selalu berkembang sesuai tuntutan dan perkembangan tehnologi.  

            Kemuliaan seorang guru adalah cita-citanya “Mencerdaskan Bangsa”,. Kemuliaan hati seorang guru karena kesederhanaannya, karena kehidupan yang pas-pasan, tetapi tetap mimiliki semangat. Lebih bersemangat lagi, sebagian guru mendapat sertifikasi. Dan yang menjadi cita-cita seorang guru adalah bagaimana anak memperoleh ilmu pengetahuan, memanfaatkan, yang dilandasi oleh moral agama, berguna bagi dirinya, keluarga, masyarakat, agama dan bangsanya.

            Upaya guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa diawali komitmen, setiap warga sekolah mendapat pelayanan dan perlakuan yang sama. Siswa adalah anaknya, siswa adalah tanggung jawabnya. Dalam konteks itulah, tanggung jawab guru adalah dunia akhirat.

            Oleh sebab itu tugas dan profesi guru bukan tugas main-main, bukan tugas selingan dan tidak boleh dicoba-coba atau dipaksakan. Sebab menyangkut hati nurani dan pada saatnya dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan. Ada seorang guru yang berkata pada saya, “Ternyata tugas guru berat dan kompleks. Kenapa berat, tanya saya, dijawab, menjadi guru tidak sekedar mengajar, tetapi perlu keseimbangan antara mengajar dan mendidik.

            Filosofi pernyataan guru tersebut adalah antara mengajar dan mendidik tidak boleh dipisahkan. Persoalannya adalah mengajar memerlukan kompetensi dan sikap professional, sedangkan mendidik memerlukan contoh dan panutan. Ada guru pintar mengajar tapi tidak pintar mendidik. Ada guru pintar mendidik, tetapi  kurang pintar mengajar. Idealnya, melalui komitmen moral yang tinggi, sikap professional dan kemampuan mengajar yang memadai serta selalu digugu dan ditiru. Dengan sikap seperti ini akan lahir guru yang dikagumi dan selalau diidolakan.

            Ada satu kebanggaan guru yaitu “kesuksesan” siswanya. Lebih bangga lagi ketika melihat siswanya berhasil menjadi orang besar, pemimpin, pengusaha sukses. Ada satu kekecewaan yaitu ketika mendengar dan melihat siswanya “tidak bermoral dan tidak berguna dalam kehidupan bermasyarakat”. Komitmen guru pendidikan adlah perubahan dari tidak tau menjadi tau, dari tidak baik menjadi baik, dari tidak ada menjadi ada. Tidak ada guru yang ingin mencelakakan siswanya. Tidak ada guru yang ingin mencelakakan siswanya. Tidak ada guru yang ingin siswanya tidak sukses. Pertanyaannya adalah  “             SUDAHKAH GURU MELAKSANAKAN TUGAS PROFESIONALNYA DENGAN BAIK”.

            GURU MEMAKNAI PROFESINYA, judul kecil ini mengandung karya. Apakah masih ada guru yang belum memaknai profesinya. Filosofi dari kata memaknai adalah memberikan arti, melaksanakan atau berbuat sesuatu sesuai profesi guru. Artinya, hakikat memaknai profesi adalah mengisi, memberikan arti memanfaatkan potensi dan memberdayakan. Profesi guru bukan profesi yang statis dan menunggu perintah. Profesi dinamis yang selalu menuntut kreatif dan inovatif. Oleh sebab itu, dalam diri guru itu harus ada semangat dan kemauan untuk maju. Ada pendapat bahwa sebagian guru di Indonesia tidak layak untuk mengajar dikelas. Pendapat ini alasannya, karena menyangkut rendahnya kompetensi guru. Pertanyaannya adalah kenapa sebagian guru memiliki kompetensi rendah? Jawabannya sederhana yaitu guru kurang memaknai profesinya, tidak berusaha dan belajar.

            Rendahnya mutu pendidikan akibat rendahnya mutu guru. Ini pendapat yang harus direspon dengan lapang dada dan tangan terbuka oleh guru. Pak Wardiman Djojonegoro pernah diwawancarai oleh Televisi Swasta, hanya 43% guru yang memenuhi syarat, sedangkan 57% bukan memenuhi syarat atau tidak kompeten dan professional dalam menjalankan tugas. Pernyataan pak Wardiman Djojonegoro tersebut kita tidak perlu malu dan merasa rendah diri. Hal penting buat kita guru adalah perenungan kembali terhadap kelalaian. Dari mana harus mulai merubah citra guru tentunya kuncinya ada pada guru itu sendiri. Bagaimana cara seorang guru lebih professional, bermutu, dalam diri guru perlu ada perubahan makna. Perubahan dimulai dari pola piker, komitmen dan tanggung jawab. Untuk menjadi lebih baik tidak mungkin guru hanya berpuas dengan membanggakan profesi, tanpa upaya. Musuh besar  guru malas menambah wawasan, malas membaca, pura-pura tau, padahal belum tau. Enggan bertanya, enggan belajar adalah kendala orang yang paling besar.

            Tidak ada orang lain yang dapat merubah citra dan meningkatkan kompetensi guru, kalau bukan guru itu sendiri. Memaknai profesi melalui kesadaran diri. Saya ditugaskan sebagai guru karena dorongan murni, bukan terpaksa. Diri guru itu terpanggil untuk mendidik manusia. Oleh sebab itu, guru tetap harus belajar dan belajar. Menjadi guru bukan sekedar memenuhi tuntutan profesi, karena untuk mendapatkan sertifikasi, penghargaan, atau kebutuhan, tetapi profesi hati. Artinya siramilah hatimu dengan kesadaran yang hakiki. Siramilah hatimu dengan penuh tanggung jawab. Paling tidak ada 3 hal penting dalam diri guru itu yaitu:

  1. Kreatif
  2. Motivator
  3. Selalu menyenangkan

            Kreatif wujudnya adalah hasil nyata yang dirasakan, dimanfaatkan dan mampu memotifasi minat siswa. Dalam konteks pengembangan materi, seorang  guru harus mampu memilih dan memilah materi yang diajarkan. Lalu kreatif menyampaikan, sehingga sampai keapda siswa bukan selesai tatap muka, selesai juga materi. Artinya materi yang disampaikan difahami dengan baik oleh siswa.

            Guru sebagai motivator. Maksudnya mengarahkan siswa untuk selalu ingin tau, selalu mencari, yang pada gilirannya memahami dan mencintai materi yang diajarkan. Kenapa siswa kurang berminat pada mata pelajaran tertentu? Hal ini h arus kembali pada guru. Cara penyampaian yang kurang berkenan, penggunaan metode, pengembangan materi atau hal lain, perlu dievaluasi oleh guru.

            Memotivasi siswa dalam mengajar penting dilakukan oleh guru. Sebab, apabila siswa kurang bersemangat, kurang respon terhadap materi yang disampaikan guru, ibarat makan tanpa gizi. Memotivasi siswa membutuhkan cara, perubahan paradigm dari guru.  Seperti kata Dale Carnegie “Hendaklah pikiran anda selalu terbuka perubahan, sambutlah danrangkulah perubahan itu, hanya dengan memperhitungkan dan mempertimbangkan ulang pendapat dan pikiran anda, Anda dapat maju”.

            Tuntutlah motivasi adalah perubahan. Di hati guru perlu ada perubahan. Dan kondisi sekarang mengharamkan kita berubah. Perubahan untuk meraih kemajuan. Untuk apa perubahan kalau tidak maju, untuk apa motivasi diri kalau tidak maju. Kalau mau berubah, rubah paradigm pikiran guru, rubah tabiat dan tingkah laku guru. Guru harus sadar, sekarang berada pada era kompetitif, era ICT, era penguasaan bahasa asing. Guru tidak perlu bertanya tentang cara merubah paradigma mengajar, tetapi perlu mengajar melalui membaca dan mencermati perkembangan dan perubahan yang terjadi di hadapan anda. Pada gilirannya, anda akan memperoleh jawaban “Perubahan Adalah Tuntutan”.

            Mengajar yang menyenangkan, bukan harapan, tapi tuntutan. Sebab, kesenangan dan menyenangkan adalah bibit motivasi diri untuk membuahkan hasil yang maksimal. Sepakat, guru mengajar dengan materi tertentu, harapannya adalah “dipahami oleh siswa”, dapat di implementasikan dalam kehidupan nyata. Membuat siswa senang dalam mengajar bukan hal mudah dan sepele. Butuh cara, butuh kecermatan, kesabaran dan kiat-kiat tertentu. Dasarnya adalah seorang guru harus mencurahkan rasa kasih sayang  pada siswa. Menganggap siswa sebagai anaknya sendiri. Mudahnya, mengajarlah dengan hati nurani. Bahasa yang enak didengar, suara yang jelas, penampilan yang menarik memberikan kesempatan siswa untuk bebas bertanya, keharmonisan komunikasi, metode yang sesuai. Materi  yang disampaikan mudah dicerna oleh siswa. Hal tersebut hanya dapat dilakukan apabila guru memahami profesi dan kompetensinya.

            Profesi guru tidak beda jauh dengan profesi hakim, jasa, polisi atau dokter dan lain-lainnya. Tanggung jawab yang utama adalah memperhatikan perkembangan siswa. Peran tersebut tidak dapat diwujudkan dengan baik, tanpa pengetahuan dan keterampilan. Guru professional memiliki hal-hal seperti:

  1. Penguasaan terhadap pengetahuan dan keterampilan
  2. Memiliki kemampuan professional di atas rata-rata
  3. Memiliki pengabdian yang tinggi
  4. Menjadi panutan (Drs. Anton Sunarto, Membangun Citra Guru Menuju Sekolah Efektif, 9 Oktober 2008)

Cara meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru dapat dilakukan melalui:

  1. Workshop, diklat, diskusi, seminar sesuai mata pelajaran masing-masing
  2. Banyak membaca
  3. Selalu  mengikuti perkembangan
  4. Selalu menyadari kekurangan sehingga termotivasi untuk belajar

Kekurangan guru yang perlu disikapi adalah:

  1. Enggan menulis, gairah baca kurang
  2. Memperkaya diri dengan pengetahuan tambahan yang sesuai dengan kompetensi dan mata pelajaranan yang diajarkan, sebagian guru sangat kurang.
  3. Sebagian besar memiliki kekurangan terhadap penggunaan ICT dan bahasa asing
  4. Penelitian dan pengembangan profesi sangat kurang
  5. Pengembangan kompetensi melalui penjabaran SK, KD, penilaian, evaluasi dan tindak lanjut perlu ditingkatkan.

Orang lain hanya melihat guru sebagai pengajar, belum melihat sebagai pendidik. Orang lain tidak melihat pancaran hati guru, hanya melihat apa yang dihasilkan guru. Sesungguhnya dalam hati guru terpancar sinar, hanya Allah yang mengetahui yaitu “Keikhlasan Hatinya dan Harapannya, Semoga Anak Didiknya Berguna”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *