OaSeKEhidupAN

OaSeKEhidupAN

Dalam ilmu geografioasis atau oase adalah suatu daerah subur terpencil yang berada di tengah gurun, umumnya mengelilingi suatu mata air atau sumber air lainnya. Oasis juga dapat menjadi habitat bagi hewan dan bahkan manusia jika memiliki area yang cukup luas. Lokasi oasis sangatlah penting dalam rute perdagangan dan transportasi di daerah gurun. Para kafilah harus melintasi oasis sehingga persediaan air dan makanan dapat diisi kembali. Dengan demikian, kendali politik maupun militer terhadap suatu oasis pada umumnya terjadi untuk mengendalikan rute perdagangan tertentu. Sebagai contoh, oasis AwjilaGhadames dan Kufra, terletak di daerah Libya, menjadi bagian vital dalam rute perdagangan lintas Sahara.Oasis Huacachina di IcaPeru

Oasis dibentuk dari sungai bawah tanah atau akuifer seperti akuifer artesis, di mana air dapat mencapi ke permukaan melalui tekanan secara alami maupun melalui sumur buatan manusia. Hujan dan badai sesaat yang kadang kala terjadi menyediakan air bawah tanah yang mempertahankan keberadaan oasis, seperti Tuat. Lapisan bawah dari batuan tak berpori menjebak air dan menahannya di suatu kantong; atau penyimpanan bawah tanah yang lama di punggung bukit atau tanggul gunung dapat terkumpul dan menapis ke permukaan. Munculnya air kemudian digunakan oleh burung yang bermigrasi yang juga menjatuhkan bibit-bibit tanaman di pinggiran air membentuk sebuah oasis.

Etimologi

Kata oasis muncul melalui bahasa Latinoasis dari bahasa Yunani Kunoὄασις oasis, yang diambil secara langsung dari bahasa Mesir Demotik. Istilah untuk oasis dalam bahasa Koptik, keturunan Mesir Demotik, adalah wahe atau ouahe yang berarti ‘tempat tinggal’.

OASE ORANG CERDAS

Dalam salah satu kitabnya yang terkenal, al-I’thisham (hlm 206), Imam asy-Syatibhi (w 790 H) mengutip sebuah riwayat yang juga disampaikan oleh Imam as-Suyuthi dalam kitabnya, ad-Dur al-Mantsur (jilid 6, hlm 177). ”Dari Ibnu Mas’ud RA, katanya, ‘Rasulullah SAW telah bersabda kepadaku, tahukah kamu, siapakah orang yang paling cerdas itu?’ Maka kujawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Kemudian Rasul menjelaskan, ‘Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling awas melihat kebenaran di kala manusia gemar berselisih paham, meskipun amal perbuatannya minim, meskipun ia hanya bisa merangkak di atas kedua tumit kakinya. Masyarakat bani Israil terpecah ke dalam 72 kelompok. Tiga dari sekian banyak kelompok itu akan selamat, sedangkan sisanya akan celaka’.”

Nabi SAW lalu menjelaskan tiga kelompok tersebut. Pertama, orang yang giat menentang (oposan) raja (penguasa) dan melawannya dengan dasar keyakinan agama Allah dan agama Nabi Isa Ibn Maryam, sehingga mereka semua terbunuh.

Kedua, mereka yang tidak mempunyai nyali untuk menentang dan melawan penguasa waktu itu, namun mereka menegakkan agama Allah di tengah para pemuka masyarakatnya. Kemudian mereka menyeru masyarakatnya agar berpegang pada agama Allah yang dibawa oleh Isa Ibnu Maryam (Islam), sehingga mereka kemudian diciduk penguasa dan dibunuh serta dipotong-potong tubuh mereka dengan gergaji.

Terakhir, kelompok ketiga, adalah mereka yang tidak punya kekuatan melawan raja (penguasa waktu itu) dan tidak juga punya kemampuan untuk mengajak masyarakat dan kaumnya pada agama Allah yang dibawa Isa Ibnu Maryam, sehingga mereka hanya bisa mengembara di pegunungan dan menjadi paderi di sekitarnya.

Mereka inilah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya, ”Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah (tidak menikah dan mengurung diri di dalam biara), padahal Kami tidak pernah mewajibkannya kepada mereka, namun (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) guna mencari keridlaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik.” (al-Hadid: 27).

Karena itu, orang-orang mukmin, kata Nabi SAW, adalah orang-orang yang beriman kepadaku dan membenarkan semua yang kubawa, sedangkan orang fasik adalah orang-orang yang membohongkanku dan menentangku.

Dari kisah dan pelajaran yang disampaikan oleh Nabi SAW tentang Bani Israil itu bisa disimpulkan, bahwa orang cerdas adalah orang yang masih mau menggunakan hati nuraninya, di saat kezaliman mendominasi kehidupan manusia. Orang yang cerdas adalah orang yang memiliki nalar dan sikap kritis terhadap OASE segala bentuk ketimpangan dan kezaliman sosial.

OASE KEHIDUPAN

Dalam sebuah kelas pelatihan, saya mengambil selembar kertas polos kemudian menggunting-guntingnya menjadi beberapa bagian. Ada guntingan besar, ada juga yang kecil. Tapi jumlahnya sengaja saya buat tak sama dengan jumlah peserta dalam kelas itu, dua puluh orang.

Kemudian saya meminta kepada peserta untuk mengambil masing-masing satu guntingan kertas yang tersedia di meja depan. “Silahkan ambil satu!” demikian instruksi yang saya berikan.

Dapat diduga, ada yang antusias maju dengan gerak cepat dan mengambil bagiannya, ada yang berjalan santai, ada juga yang meminta bantuan temannya untuk mengambilkan. Dua tiga orang bahkan terlihat bermalasan untuk mengambil, mereka berpikir toh semuanya kebagian guntingan kertas tersebut.

Hasilnya? Empat orang terakhir tak mendapatkan guntingan kertas. Delapan orang pertama ke depan mendapatkan guntingan besar-besar, yang berjalan santai dan yang meminta diambilkan harus rela mendapatkan yang kecil.

Lalu saya katakan kepada mereka, “Inilah hidup. Anda ambil kesempatan yang tersedia atau Anda akan kehilangan kesempatan itu. Anda tak melakukannya, akan banyak orang lain yang melakukannya”.

Pagi ini di kereta saya mendapati seorang wanita hamil yang berdiri agak jauh. Saya sempat berpikir bahwa orang yang paling dekat lah yang ‘wajib’ memberinya tempat duduk. Tapi sedetik kemudian saya bangun dan segera memanggil ibu itu untuk duduk. Ini perbuatan baik, jika saya tak mengambil kesempatan ini, orang lain lah yang melakukannya. Dan belum tentu esok hari saya masih memiliki kesempatan seperti ini.

Soal rezeki misalnya, saya percaya ia tak pernah datang sendiri menghampiri orang-orang yang lelap tertidur meski matahari sudah terik. “Bangun pagi, rezekinya dipatok ayam tuh!” Orang tua dulu sering berucap seperti itu. Dan entah kenapa hingga detik ini saya tak pernah bisa menyanggah ucapan orangtua perihal rezeki itu. Saya percaya bahwa orang-orang yang lebih cepat berupaya meraihnya lah yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Sementara mereka yang bersantai-santai atau bahkan bermalas-malasan, terdapat kemungkinan kehabisan rezeki.

Contoh kecil, datanglah terlambat dari jam kantor Anda yang semestinya. Perusahaan tidak hanya akan mengurangi gaji Anda akibat keterlambatan Anda, bahkan kinerja Anda dianggap minus dan itu mempengaruhi penilaian perusahaan terhadap Anda. Bisa jadi Anda tidak mendapatkan promosi tahun ini, sementara rekan Anda yang tak pernah terlambat lebih berpeluang.

Saya sering mendengar teman saya berkomentar negatif tentang apa yang dikerjakan orang lain, “Ah, kalau cuma tulisan begini sih saya juga bisa melakukannya” atau “Saya bisa melakukan yang lebih baik dari orang itu”. Kepadanya saya katakan, saya yakin Anda bisa melakukannya. Masalahnya, sejak tadi saya hanya melihat Anda terus berbicara dan tak melakukan apa pun. Sementara orang-orang di luar sana langsung berbuat tanpa perlu banyak bicara. Buktikan, jika Anda sanggup! Terus berbicara dan mengomentari hasil kerja orang lain tidak akan membuat Anda diakui keberadaannya. Hanya orang-orang yang berbuatlah yang diakui keberadaannya.

Kepada peserta di kelas pelatihan tersebut saya jelaskan, simulasi tadi juga berlaku untuk urusan ibadah. Saya tidak berhak mengatakan bahwa orang yang lebih tepat waktu akan mendapatkan pahala lebih besar, karena itu hak Allah dan juga tergantung dengan kualitas ibadahnya itu sendiri. Tapi bukankah setiap orang tua akan lebih menyukai anaknya yang tanggap dan cepat menghampiri ketika dipanggil ketimbang anak lainnya yang menunda-nunda? Jika demikian, buatlah Allah suka kepada Anda. Karena suka mungkin saja awal dari cinta. Semoga.

MUTIARA YANG BERNODA

Ada seorang tua yang sangat beruntung.

Dia menemukan sebutir mutiara yg besar dan sangat indah, namun kebahagiaannya segera berganti menjadi kekecewaan begitu dia mengetahui ada sebuah titik noda hitam kecil di atas mutiara tersebut.

Hatinya terus bergumam, kalaulah tidak ada titik noda hitam, mutiara ini akan menjadi yang tercantik dan paling sempurna di dunia!

Semakin dia pikirkan, semakin kecewa hatinya.

Akhirnya, dia memutuskan utk menghilangkan titik noda dengan menguliti lapisan permukaan mutiara.

Tetapi setelah dia menguliti lapisan pertama, noda tersebut masih tetap ada.

Dia pun segera menguliti lapisan kedua dengan keyakinan titik noda itu akan hilang.

Tapi kenyataannya noda tersebut masih tetap ada.

Lalu dgn tidak sabar, dia mengkuliti selapis demi selapis, sampai lapisan terakhir.

Benar juga noda telah hilang, tapi mutiara tersebut pun ikut hilang!

Begitulah dgn kehidupan nyata,
kita selalu suka mempermasalahkan hal yg kecil, yg tidak penting shg akhirnya merusak nilai yg besar.

Persahabatan yg indah puluhan tahun berubah menjadi permusuhan yg hebat hanya krn sepatah kata pedas yg tidak disengaja.

Keluarga yg rukun dan harmonispun jd hancur hanya krn perdebatan2 kecil yg tak penting .
Yg remeh kerap di permasalahkan,
Yg lebih penting dan berharga lupa dan terabaikan
Seribu kebaikan sering tak berarti,
Tapi setitik kekurangan diingat seumur hidup …

Mari belajar menerima kekurangan apapun yg ada dlm kehidupan kita
Bukankah tak ada yg sempurna di dunia ini …?

SEHATI bukan krn Memberi, tapi sehati krn saling Memahami

CINTA bukan krn Terpesona, tapi cinta krn saling Terbuka

BETAH bukan krn Mewah, tapi betah krn saling Mengalah

BERSAMA bukan krn Dunia, tapi bersama krn SALING MENGISI…

INDAH bukan krn selalu Mudah, tetapi indah krn dihadapi bersama setiap Kesusahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *