MetOO

MetOO

Mesin Waktu


Mesin waktu. Benda itu sering muncul dalam khayalanku tentang masa depan. Kita bisa memakai benda itu untuk menjelajah waktu, kembali ke masa lalu atau melompat jauh ke masa depan. Mungkin karena dipengaruhi oleh film-film fiksi ilmiah yang sering muncul di TV ataupun dari cerita- cerita novel dan cerpen yang pernah saya baca (contohnya, komik dan kartun Doraemon).

Ketika masih SMA, saya mempelajari teori Relativitas Einstein. Dan dari rumus-rumus yang ada itu saya berpikir (atau berkhayal?), ternyata untuk melakukan perjalan waktu itu hal yang tidak mustahil (artinya bisa kan?). Yang penting kita bisa melakukan perjalanan dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya maka kita bisa melangkah ke masa depan!

Tapi bagaimana untuk ke masa lalu?

Kemarin, seorang teman di Makassar menelepon kakaknya di Jakarta. Waktu itu ingatan tentang masin waktu itu tiba-tiba kembali lagi. Jakarta berada di bagian barat Indonesia dan juga masuk dalam wilayah Waktu Indonesia bagian Barat (WIB) sedangkan Makassar yang berada di bagian Timur Indonesia masuk ke wilayah Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA). Dan antara kedua wilayah waktu tersebut ada perbedaan. Makassar lebih cepat 1 jam dibandingkan Jakarta. Berarti pada saat berbicara, kakaknya sebenarnya mendengar suara adiknya dari masa lalu dan teman tadi mendengar suara kakaknya dari masa depan?

Bagaimana seandainya saya betul-betul bisa melangkah ke masa depan atau ke masa lalu?

Seandainya saya ke masa depan atau ke masa lalu ……., Ah, tidak, saya terlalu banyak berkhayal. Tentunya jika itu terjadi, sejarah akan kacau. Sekarang ini, realitas yang ada. Alhamdulillaah bumi masih berputar. Artinya aktifitas kita masih bisa berjalan seperti biasa. Apa yang telah saya perbuat/sumbangkan untuk dunia Islam?

Sekarang ini, kita bisa melihat masa lalu kita dalam rangkaian muhasabah harian. Dan dari situ kita bisa mengevaluasi diri kita untuk memperbaiki yang buruk dan berbuat lebih baik lagi untuk sesuatu yang sudah baik. Melihat masa lalu bisa dijadikan sarana belajar untuk mencapai tujuan kita, agar kita tidak lagi memulai sesuatu dari nol, tapi bisa melanjutkan yang sudah ada.

“Ummat ini tidak akan bisa bangkit kembali jika tidak mengambil nilai- nilai yang awal” – Umar bin Khattab -. Tapi terus menerus melihat masa lalu juga tidak terlalu baik. Karena di depan kita juga membentang jalan ke masa depan. Sama dengan pengendara bermotor, jika terus menerus melihat ke kaca spion, maka bisa saja akan tertabrak atau menabrak atau masuk got atau ….

Yup, kita juga harus melihat jalan luas masa depan yang membentang dihadapan kita. Bagaimana kita akan melewatinya. Sudah pasti banyak hambatan dan tantangan yang akan menghadang, tapi dengan pengalaman masa lalu dan kemampuan penguasaan medan yang kita miliki dan dengan pertolongan Allah SWT kita harus siap melewatinya. Masa depan adalah harapan.

“Maka bersiap dan berbuatlah, jangan menunggu datangnya hari esok, kita memang harus menunggu putaran waktu itu, tetapi kita tidak boleh berhenti, kita harus berbuat dan terus melangkah, karena kita tidak mengenal kata berhenti dalam jihad suci ini.” – Asy Syahid Hasan Al Banna -.

Dari teori Einstein tadi, hanya yang bergerak lebih cepat (dari kecepatan cahaya) yang akan lebih dulu ke mencapai masa depan. Maka hanya orang-orang yang mau begerak (bekerja?) lebih cepat (giat) yang bisa mencapai masa depan lebih dulu. Sudah tentu semua gerakan yang dilakukan harus sudah melewati perencanaan-perencanaan yang baik serta urutan-urutan yang benar. Dan jika yang orang-orang yang melakukan gerakan itu berada dalam struktur (organisasi?) yang kuat. Tentunya kebangkitan masa depan akan menjadi lebih cepat lagi.

Bagaimana menyiapkan orang-orang untuk mau bergerak untuk bisa menyongsong masa depan yang lebih baik?

Yang harus kita lakukan adalah membangunkan ruhiyahnya. Jangan membiarkan mereka tidur terus dan terbuai oleh mimpi-mimpi. Kita harus membangunkannya dan mengajaknya merealisasikan mimpinya. Kemudian membangkitkan pemikirannya. Kita harus membuat mereka berpikir bahwa kita adalah yang terbaik. Dan kemudian ada penguasaan konsepsional. Mereka yang akan bergerak itu harus tahu untuk apa mereka berbuat. Tidak asal bergerak. Dan gerakan yang dilakukan juga harus menyesuaikan dengan medan yang ada. Jadi ada juga penguasaan medan. Selain itu seperti disebutkan di atas, ada urutan yang benar dalam melangkah dan kemudian semua itu berada dalam gerakan yang terstruktur yang artinya memiliki sistem yang kuat.

Istiqamah dan kesinambungan gerak juga merupakan faktor penting yang akan mempercepat kebangkitan masa depan itu. Wallaahu’a’lam.


MEMULAI DARI NOL
Sikap menentukan sukses atau tidaknya kita. Menurut manajemen IBM kualitas manusia ditentukan oleh 90 persen sikapnya (attitude) dalam menghadapi masalah. Sedangkan sisanya 10 persen ditentukan oleh kemampuan ilmunya (knowledge). Artinya, kesuksesan itu seringkali diawali dari sikap hidup yang benar dan tepat dalam menghadapi suatu peristiwa.

Bukan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi bagaimana menyikapi apa yang terjadi. Bukan karena kita ditakdirkan bernasib jelek, tapi bagaimana kita menggunakan segala potensi terbaik yang dimiliki untuk merespon suatu kondisi yang buruk menjadi lebih baik.

Jadi jika saat ini kita masih dalam keadaan kekurangan harta, ilmu, atau apapun, maka tidak cukup dengan hanya meratapi dan menyesalinya, selamanya hal itu tidak akan mengubah nasib. Namun, ketika kita menyikapinya dengan terus menerus memikirkan peluang yang bisa dikerjakan dan terus menerus sekuat tenaga memperbaiki diri, maka kita akan mampu mengubah keadaannya. Jika nasi sudah jadi bubur, ya kita tambahkan kacang, kerupuk, bawang goreng dan ayam goreng. Maka bubur nasi bisa kita ubah menjadi bubur ayam yang nikmat. Jika terlanjur basah, ya sudah ambil sabun, sampo lalu kita mandi, biar bersih sekalian. Jadi sekali lagi bukan keadaan yang buruk yang harus disesali, tetapi bagaimana mengubah keadaan buruk menjadi keadaan yang baik.

Lantas timbul pertanyaan bagaimana seharusnya mulai membangun attitude? Kebanyakan orang adalah produk zaman alias cuma jadi pengekor apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang sebelumnya. Mereka memilih menjadi orang yang tidak melahirkan sikap yang asli. Apapun yang mereka pilih, pakaian, pekerjaan, makanan, pikiran, semuanya hanya mengikuti apa yang sudah lebih dahulu ada. Jadi mereka kehilangan diri yang sebenarnya.

Handphone yang dipakai, sepatu yang dibeli, gaya hidup yang dipilih bahkan sampai agama yang dianut bukan merupakan pilihan yang kontemplatif, tapi lebih dikarenakan orang lain telah memakainya terlebih dahulu. Singkatnya mereka menjadi orang-orang yang dipenjara oleh masa lalu, dan memilih menjadi manusia-manusia pengekor.

Akibatnya jika ada penilaian dengan kacamata lain terhadap nilai-nilai yang sudah dianut maka yang terjadi adalah penolakan. Pada saat seorang direktur eksekutif mengajukan suatu langkah yang tidak populer dalam menentukan kebijakan perusahaan, maka yang terjadi adalah penolakan bukan apresiasi terhadap langkahnya. Ini akibat mereka terbiasa membenarkan sesuatu yang sudah lazim.

Sikap penolakan yang timbul disebabkan orang tidak memandang sesuatu itu dengan bersih dan jernih. Sikap memandang sesuatu dengan bersih dan jernih hanya dimiliki oleh orang yang berhati bersih dan berpikiran jernih. Atau dengan kata lain dirinya terbebas dari nilai yang sudah umum dan dia memiliki cara pandang, berpikir, bertindak dan membuat pilihan dengan melihatnya dari akar dan dasar permasalahan. Dia memulainya dengan menempatkan dirinya pada titik nol sehingga pikiran menjadi lebih jernih dan baginya segala sesuatu menjadi mungkin.

Dan Ramadhan adalah bulan yang dipersiapkan oleh sang Khalik untuk membina kita umat-Nya agar bisa kembali ke titik nol. Nol bisa juga berarti kosong. Bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah milik-Nya. We have nothing, zero, nol, kosong, nggak ada apa-apanya. Perut kita diperintahkan untuk dikosongkan selama bulan ini, maksudnya agar kita jadi lebih mampu mengosongkan juga otak kita dari pikiran-pikiran kotor dan menahan keinginan duniawi kita sehingga makin mendekatkan diri kepada Allah. Kosong juga berarti khusyu, terbebas dari ikatan materi keduniaan, yang ada hanya Allah sang Maha.

Allah telah mempersiapkan kita semua umat Islam yang beriman untuk menjadi sukses melalui puasa Ramadhan sehingga dengannya kita menjadi bersih hati, jernih pikiran dan mampu mengubah keadaan kita menjadi lebih baik. Mari kita manfaatkan momentum Ramadhan sebagai media kontemplatif kita dan meraih kesuksesan dunia akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *