taFAkkur

taFAkkur

“TAFAKKUR adalah memikirkan atau mengamati. Dan tadabbur adalah mencermati.

Adapun perbedaannya, tadabbur adalah berfikir dengan melihat akhirnya. Sementara tafakkur adalah kekuatan dalam berfikir terhadap apa yang dilihat.

Allah ‘Azza wa Jalla befirman,
“Maka, bertanyalah kepada ahli dzikr jika kalian tidak tahu.”
(QS. An Nahl: 43)

Dan Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
(QS. Al-Imron: 190-191)

Maka tafakkur dan tadabbur ini, kita perlukan.

Alloh azza wa jalla berfirman,
“Demikianlah Allah menerangkan ayat ayat-Nya kepada kalian supaya kalian berfikir.”
(QS Al-Baqarah: 219)

Banyak ayat-ayat dalam al-Quran yang memerintahkan kita untuk bertafakkur dan tadabbur, diantaranya:

Allah azza wa jalla juga berfirman,
“Tiada sama penghuni-penghuni Neraka dengan penghuni-penghuni Surga, penghuni- penghuni Surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr: 20)

Sebagian salaf berkata,
“Biasakan mata kalian dengan menangis dan biasakan hati kalian dengan bertafakkur.”

Dalam tafakkur, terdapat banyak kebaikan,

Ibnu Hibban rohimahloh berkata,
“Berpikir sesaat lebih utama daripada ibadah setahun (tanpa tafakkur).”

Umar berkata,
“Berfikir dari nikmat-nikmat (Alloh) itu lebih afdol.”

Inilah keadaan para salaf.

Ibnu Mubarok rohimahulloh pernah ditanya temannya, “Sudah sampai dimana kamu berfakkur?”

Ia menjawab, “Saya sudah sampai as-Siroth.”

Lihatkah mereka sudah sampai di as-Siroth (jembatan yang lebih tipis dari rambut, dia tajam, dan licin.)

Bertafakkur bisa mengubah dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari hal-hal yang dibenci Allah menuju hal hal yang dicintai-Nya, dari ambisi dan keserakahan menuju zuhud dan qana’ah, dari penjara dunia menuju keluasan akhirat, dari kesempitan kejahilan menuju bentangan ilmu pengetahuan, dari penyakit syahwat dan cinta kepada dunia menuju kesembuhan batin dan pendekatan diri kepada Allah, dari bencana buta, tuli, dan bisu menuju nikmat penglihatan, pendengaran, dan pemahaman tentang Allah, dan dari berbagai penyakit syubhat menuju keyakinan yang menyejukkan hati dan keimanan yang menentramkan.
(Miftah Daris Sa’adah : 226)

Adapun tadabbur, kita diperintah tadabbur kepada al-Quran.

Alloh azza wa jalla berfirman,
“Maka tidakkah mereka mentadabburi al-Quran ataukah hati mereka sudah terkunci?”
(Muhammad: 24)

Alloh azza wa jalla berfirman,
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, agar mereka merenungi ayat ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.”
(QS. Shaad: 29)

Maka ini perintah tegas agar kita tadabbur al-Quran.

Yang jelas, tafakkur dan tadabbur adalah hal yg dituntut dalam kehidupan seorang muslim. Dan dari bentuk meninggalkan al-Quran adalah tidak tadabbur kepadanya.

Alloh azza wa jalla befirman,
“Dan seorang rasul (Nabi Muhammad shollallohu alayhi wasallam) berkata, ‘Wahai Robbku, sesungguhnya kaumku
telah meninggalkan Al-Qur’an ini’.”
(QS. Al-Furqan 25 : 30)

Yang jelas, bertafakkur tidak pada kaifiyat sifat-sifat Alloh azza wa jalla.

Bertafakkur yang diperintahkan pada 4 hal:
1. Pada hal yang ada maslahatnya.
2. Pada jalan yang ada maslahatnya.
3. Pada hal yang bisa merusak maslahat.
4. Menghindari yang bisa merusak.

Imam Qoyyim al-Jauziyyah rohimulloh berkata,
“Pokok (seorang hamba ialah) dia tafakkur pada nikmat Alloh, mengenal nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya.”

Dan juga hendaknya kita bertafakkur pada penciptaan diri, aib diri, dan masih banyak hal pada diri kita yang perlu ditafakkuri.

Hatim rohimahulloh berkata,
“Dengan merenungi perumpamaan, bertambahlah ilmu pengetahuan; dengan mengingat-ingat nikmat Allah, bertambahlah kecintaan kepadaNya; dan dengan bertafakur, bertambahlah ketakwaan kepada-Nya.”

Dan termasuk hal yang membantu kita bertafakkur, yaitu dengan membaca ta’audz saat membaca al-Quran, menjauhi maksiat, berziarah ke kuburan, dan lain sebagainya.

Dalam sebuah riwayat, Nabi shollallohu alayhi wasallam pernah solat dengan 1 ayat diulang-ulang namun beliau bertafakkur dengannya.

Ibnu Abbas rodiyallohu anhu berkata,
“Tafakkur dalam kebaikan menjaga seseorang untuk beramal kebaikan dan meninggalan kejelekan.”

Hatim al Asom rohimahulloh berkata,
“Dianatar dzikir ada yang menambah rasa takut.”

Sebagian salaf berkata,
“Berfikir itu menghindari kelalaian.”

Diantara manfaat tafakkur dan tadabbur ini adalah:

-Menambah keimanan,
-Memperbaiki keadaan jiwa,
-Memikirkan keadaan diri, keluarga dan umat,
-Menambah ilmu,
-Akan diberikan kebaikan,
-Iman semakin kokoh, dan
-Menambah kedewasaan cara berfikir.”

Semoga Alloh azza wa jalla memberi taufik kepada kita semua…[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *