TAjdID

TAjdID

Tajdid

Rasulullah SAW bersabda, ”Perbaruilah imanmu.” Ada yang bertanya, ”Wahai Rasulullah, bagaimana caranya memperbarui iman kami?” Beliau menjawab, ”Perbanyaklah dengan mengucapkan laa ilaha illallah (tiada tuhan selain Allah).” (HR Ahmad).

Di hadis lain, Nabi menyatakan iman seseorang bisa usang, sebagaimana pakaian. ”Maka, mohonlah kepada Allah Taala untuk memperbarui iman yang ada di hatimu.” (HR Thabraani dan Al Hakiim).

Demikianlah, seperangkat panduan pembaruan (tajdid). Bahwa, kekuatan iman dapat naik-turun sehingga kita kadang gagal menghadapi ujian, apakah berupa kenikmatan atau kesulitan. Relasi iman dengan sikap dan tindakan sehari-hari juga bisa tak jernih lagi sehingga tidak konsisten menjalani kehidupan dengan berbasis petunjuk Allah semata. Kecemerlangan iman juga bisa memudar hingga kian sulit mencerahkan kehidupan, apalagi menyebarkan rahmat ke seantero alam. Ketika iman memudar, apalagi rusak dan sesat, mustahil mampu mencerahkan umat dan semua manusia.

Pembaruan iman memang disebutkan dengan memperbanyak dzikir (tahlil). Namun, yang dimaksud tidaklah sebatas menggerakkan bibir menggemakan keyakinan dan kenyataan bahwa tiada yang disembah dan patut disembah, selain Allah. Memperbanyak tahlil bermakna memperbanyak perenungan dan pemahaman bahwa tiada tuhan selain Allah dalam soal ibadah, pemikiran dan perasaan, hubungan pribadi, keluarga, makanan dan minuman, akhlak, pemerintahan, perekonomian, pendidikan, kesehatan, dan semua aspek kehidupan lainnya.

Bagaimanapun, tanpa memperkuat pemahaman akan sumber-sumber Islam, maka kondisi keimanan dan pengamalan kita akan stagnan, bahkan bisa jadi hari ini lebih buruk dari kemarin. Hanya dengan terus menambah ilmu-ilmu keislaman, maka iman akan menguat. Semangat beramal pun meningkat, selain juga karena lebih memahami mana-mana yang harus dilakukan dan ditinggalkan. Memperbanyak tahlil juga berarti memperbanyak amalan-amalan yang sepenuhnya didasari tauhid. Sebab, ucapan berelasi erat dengan amalan, sebagaimana firman-Nya, ”Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaff, 61: 3).

Adalah tidak pantas, bahkan disebut munafik, bila rajin bertahlil, namun tidak menghindarkan diri dari perbuatan syirik atau bid’ah dalam ibadah. Tajdid baru terjadi jika jumlah dan kualitas amal kita yang lurus dan ikhlas bertambah setiap hari. Selain itu, mencegah menghambakan diri dan mengikuti segala hal dari orang dan sistem apa pun selain yang diturunkan Allah, apakah itu kapitalisme, liberalisme, sekularisme, sosialisme-komunisme, dan segala turunannya.

Bagaimanapun, orang-orang yang mengikuti apa pun kehendak selain Allah pada hakikatnya telah menuhankannya, sebagaimana orang Yahudi dan Nasrani disebut menyembah pemuka dan rahib mereka karena mematuhi ajarannya meski mengajak kemaksiatan (lihat tafsir QS At-Taubah, 9: 31).

Akhirnya, tanpa berdoa dan ridha Allah, mustahil melakukan tajdid setiap hari di setiap detik kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *