JANTURbertutur

JANTURbertutur


BAGIAN (1).

PULANG KAMPUNG

Ketika pesawat Merpati MZ 5341 mendarat di bandara Internasional SEPINGGAN Balikpapan – Kaltim, tak terasa terucap kalimat thayyibah, alhamdulillah.

Terbayang Ayah-Ibu, terngiang sanak saudara, handai tolan dan sahabat semua, berkecamuk dalam pikiran, berbagai suasana dan perubahan. Lebih kurang 20 tahun aku tidak berlebaran di kampong-halaman, kali ini terasa syahdu dan menyenangkan, itu suatu fantastis. bayanganku !

Sambil menunggu bagasi/bawaanku, aku wencoba mencari taksi ke Samarinda (ibukota Kaltim), maklum masih suasana puasa, aku mencoba mencari driver/sopir yang baik, yakni rawah-berbudi bahasa dan puasa.

Setelah diadakan tawar-menawar, alhamdulillah aku beruntung dapat taksi di bawah harga pasaran resmi, 35%  dari harga semestinya.

Perjalanan Balikpapan – Samarinda, ditempuh dengan taksi (sedan) lebih kurang 2 jam, suatu perjalanan yang cukup melelahkan dan memakan banyak waktu tapi itu resiko, sebuah romantika perjalanan yang melahirkan pengalaman.

Terkadang terbayang di benakku, ingin rasanya aku pindah saja berkumpul dengan keluargaku (berdekat-dekatan) sebagaimana yang diungkapkan pepatah Jawa:

“MANGAN ORA MANGAN, WATON NGUMPUL” (lebih baik berkumpul/berdekatan, walaupun tidak ada yang dimakan).

Tapi aku langsung teringat dengan kawanku, mereka tinggal satu RT, rumah bersebelahan tapi tidak pernah akur yakni cekcok terus dengan keluarga sehingga melahirkan permusuhan.

Mungkin inikah persaingan tidak sehat ?

Aku tersenyum, dalam hatiku, lebih baik berjauhan menanggung rindu, dari pada berdekatan menimbulkan permusuhan ! (sebuah pelipur lara).

Sehingga sopir yang aku tumpangi, sedikit melirik dan menegurku, “sudah lawas kaadamulang” (sudah lama tidak pulang)? Dalam dialek bahasa daerah (Banjar) yang cukup kental.

Aku sedikit tersentak, sambil mengingat bahasa daerahku yang sudah lama aku jarang mempergunakannya.

Dengan sedikit anggukan dan darahku terkesima karena sopir yang aku tumpangi, menghisap rokok sambill berujar, maaf, aku tidak berpuasa, maklum sopir !

Sehingga di benakku, kalau setiap sopir seperti ini, maka selama ia menjadi sopir tak bekalan berpuasa, padahal puasa itu wajib, tapi mudah-mudahan tidak semua sopir seperti ini !

Tapi aku sedikit tenang, sebab sopirnya ramah dan mau bercerita tentang perkembangan dan dinamika catatan negeri ini.

la mulai bercerita tentang pemekaran wilayah, mulai Balikpapan hingga tanah hulu (sebutan untuk pedalaman Mahakam).

Kalimantan Timur ini adalah wilayah yang cukup kaya dengan potensi alamnya, ia mulai bercerita (seolah-olah aku bukan orang Kalimantan), di banding Riau, Kaltim sebenarnya lebih berpotensi dalam segala aspek, baik SDM maupun SDA-nya.

Cuma orang Kaltim ini lebih sedikit tolerans di banding orang Riau yang menuntut “RIAU MERDEKA” .

Sebab katanya, kalau Kaltim menuntut merdeka, kasihan wilayah propinsi lainnya yang ketergantungan dengan Kaltim, tutur driver ini dengan suatu kebanggaan.

Coba kita bayangkan, kekayaan apa yang tidak dipunyai Kaltim, mulai rotan, damar, ikan-udang, kayu, minyak, pupuk hingga LNG, semua kita punya, cuma kita tidak mempunyai SDM yang memadai, celetukku di tengah-tengah kebanggaannya itu.

Hus, siapa bilang ! Kita banyak mempunyai SDM yang handal, coba kita hitung, sudah berapa orang yang professor? Berapa buah Universitas ? Berapa banyak cendekiawan ? Berapa banyak Pengusaha ? Dan aku nyeletuk, berapa orang Ulama ? Hus. banyak ! Diapun menyebut beberapa Ulama kondang Kaltim yang kukenal. (maksudku nyindir-driver itu, tapi ia tidak mengerti).

Terus kubilang, okey kita punya potensi, coba kita lihat kembali, berapa orang yang tamat SMU yang tamat SLTP yang tamat SD dan yang tidak tamat samasekali, maksudku di bawah SD dan buta huruf ?

Driver itu menggaruk kepala, sambil menyalakan lagi rokoknya dan berkata, itu sich Kaltim gudangnya!

Nah di sinilah gudangnya, ujarku sembari senyum renyah, selihat polah driver itu.

Tapi kuakui, driver ini orangnya sangat kratif, maksudku suka mendebat, walaupun ia tidak berbuat. Kutanya lagi sempeyan tamatan apa? Dengan sedikit merendah ia menjawab, tamatan SMU. tapi aku tidak yakin, (dalam hatiku minimal ia pernah kuliah)!

Terus kucoba memancing suasana dengan berkelakar. kalau tamatan SMU saja pola pikirnya sudah seperti jebolan perguruan tinggi, seperti sempeyan ini, saya yakin lambat laun Kaltim akan merdeka. yach minimal lebih maju dari sekarang ini.

iapun tersenyum bangga dan mulai membuka sebuah tabir pribadinya dan berkata, lho kok Om tahu kalau saya pernah kuliah!

(oh rupanya dia pernah kuliah, pikirku), hanya satu semester lagi, saya akan menjadi sarjana, Om ! Tapi sayang ia keburu d.o, lantaran pernah menabrak orang (maksudku perempuan) sampai benjol dan hingga kini tetap menjadi teman setianya, sambil mengakak tertawa dan akupun turut tertawa, sehingga menambah suasana akrab.

Mobil terus melaju dan tah terasa sudah memasuki kawasan “Loe Janan” dan iapun nyeloteh kembali menceritakan kepadaku tentang lokalisasi Loa Janan.

Saya sering mengantarkan dan melihat para dedengkot = petinggi/orang terkemuka Kaltim ke sini, ujarnya mengawali orasi ilmiahnya di sore itu.

Nah, bagaimana pendapatmu, aku mulai memancing lagi suasana tentang lokalisasi? Ia menyalakan lagi rokoknya sambil menarik napas panjang ia berujar :

“Om, kita jangan bicara tentang sudut pandang agama ya”? pintanya sedikit lembut, maklum kalau dilihat dari sudut ini, kan sudah jelas haramnya, artinya tidak ada lagi pembicaraan kita.

Sambil tersenyum kecil, akupun mengangguk saja, tanda setuju !

Dan iapun terus bersemangat bercerita tentang eksistensi lokalisasi tersebut, bahkan sampai mengutip pendapat para sosiolog dan psikolog segala, luas juga sudut pandangnya.

Bahkan ia bercerita juga bagaimana manusia pertama. Adam bengong tanpa Hawa di syurga dan iapun mengatakan tanpa Hawa kita ini sebenarnya hampa. tapi ingat celetukku, gara-gara Hawa, Ada di usir dari syurga dan kamipun sama-sama tertawa.

Inilah dilematik kehidupan, dalan suasana dosa kadang-kadang orang galak tertawa hingga dapat menghalalkan cara.

Om, sekarang lagi hangat nich. Pemkot (Pemerintah kota) Samarinda sedang pusing mencarikan jalan keluar dari problem ini.

Mau dihapus orang perlu. tidak dihapus dibilang tak tahu malu!

Tapi Om. alhamdulillah di Banyu Biru Samarinda itu sudah tiada, semua sudah di sono (sambil menunjuk lokalisasi Loa Janan).

Bagaimana Om pendapat saya, iapun balik bertanya, dengan sedikit senyuman kuberkata you boleh menjadi penasehat Pemkot, kalau boleh kusarankan kepada Gubernur Kaltim untuk menjadi penasehat Gubernur.

Iapun kaget, ketika aku menyebut nama Gubernur, apakah Om kenal, katanya sedikit serius, ya ! kujawab seadanya, Cuma kenal nama dan kamipun Sama-sama tertawa.

Tak terasa kamipun sudah melintas di jembatan Mahakam, jembatan yang cukup megah melintang di atas sungai Mahakam.

Pemandangan yang cukup menawan, sepanjang Karang Asam, rumah-rumah di tepi sungai tempoe doeloe sudah direal-estate-kan.

Sehingga sepanjang sungai Mahakam. mulai Karang Asam hingga Kantor Gubernur sampai ke hilir Kampung Selili sudah bersih dari perumahan tepi Sungai, yach suatu kemajuan yang cukup berarti dalam master plant penataan kota.

Padahal dulu zaman aku masih SLTA, rumah-rumah sepanjang sungai, khususnya kawasan Pasar Pagi – Jalan Gajah Mada berjubel perumahan dan kapal-kapal sungai bersandar di pelataran rumah-rumah tersebut, itulah kenangan tempoe doeloe, sebuah nostalgia, mengukir kenangan masa, berintegritas antara dhuha dan senja, berpadu menunggu malam dan akupun sampai tujuan.

kalau mudik ke tanah hulu

Singgah sebentar di Muara

Muntai jangan disimpan hati yang rindu

ayolah pulang ke tanah Kutai

Hari-hari berikutnya, aku melanjutkan perjalanan pulang kampung, menyusuri jalan jalan panjang di sekitar sungai Mahakam, berbagai kenangan dan cerita lama berintegritas di kepala, kadang sedih, kadang gembira, semua itu merupakan hasanah pelipur lara.

Setiap kita pasti punya kenangan, dengan kenangan melahirkan nostalgia, dengan nostalgia melahirkan romantika dn dengan romantika menimbulkan hasanah pengalaman.

Semua itu berkecamuk, menetes laksana embun pagi. menunggu Sinar mentari, setelah itu lenyap lagi.

Lamunanku buyer, setelah bus yang aku tumpangi. Distop beberapa orang, rupanya ada demonstrasi para sopir angkot (angkotan kota) trayek Samarinda-Tenggarong.

Mereka menuntut perbaikan / penyempurnaan trayek kepada DLLAJ. Mereka obrak-abrik mobil dinas para petugas DLLAJ tersebut dengan cukup beringas tapi terkendali.

Dalam hatiku besar juga pengaruh reformasi dalam kehidupan masyarakat Kaltim ini. Mereka pasang poster, bawa spanduk juga mengadakan orasi ilmiah dan berbagai aktivitas lainnya, layaknya seperti demonstrasi mahasiswa tempo hari di Gedung DPR/MPR Jakarta.

Tak berapa lama, bus kami dipersilakan jalan kembali, sebab trayek kami Samarinda-Kota Bangun, sedangkan trayek Samarinda – Tenggarong, macet total.

Maka dalam hatiku, kuucapkan selamat berdemo, semoga tercapai apa yang diinginkan dalam membangun dan mengadakan perbaikan, sebagai konstruktivitas kehidupan.

Bus terus melintas melewati sungai Jembayan yang menurut benakku. Hampir tak ada perubahan. hanya yang berubah legenda tentang buaya putih sungai Jembayan tidak lagi ditakutkan orang, sebab kulihat sudah banyak anak-anak kecil berani mandi telanjang di sungai tersebut.

Kalau tempoe doeloe , mana ada anak yang berani mandi telanjang di sungai itu. sebab katanya sungai Jembayan banyak mengandung misteri yang memperkaya hasanah legenda kita.

Demikian juga Loa Kulu, yach masih seperti yang dulu, hampir tak ada perubahan yang berarti Kami pun hampir tiba ke Tenggarong pusat Kerajaan Kutai Kartanegara masa lalu, kapital kerajaan Rindu ­­­  400 tahun SM dan telah memiliki system pemerintahan kerajaan dengan rajanya yang terkenal MULAWARMAN.

Dan kamipun mengambil jalan kiri, yakni jalan menuju Kota Bangun, sebuah lintas kota kecamatan yang juga pesat dengan perubahan setelah dibukanya jalan lintas trans Samarinda – Kota Bangun.

Konon dengan adanya pemekaran wilayah, jalan darat terus dikembangkan sampai ke Melak, kalau ini terwujud insya Allah Kaltim akan diperhitungkan sebagai sebuah kota metropolis di masa yang akan datang.

Perjalanan Tenggarong – Kota Bangun lebih kurang dua jam, suatu perjalanan yang cukup melelahkan, apalagi di sana-sini wasih ada perbaikan jalan yang tentu cukup menjemukan.

Dan sampailah kami ke Kota Bangun, lalu melanjutkan kembali perjalanan dengan perahu Sungai yang cukup laju (cepat) dan sangat menyenangkan !

Suatu perjalanan yang cukup panjang, mulai Batam, transit Pontianak tiba di Balikpapan. wenuju Samarinda, kemudian Kota Bangun mampir di Muara Muntai untuk Istirahat sejenak, sambil bernostalgia yang merupakan refreshing dalam penatnya menyusuri pantai perjalanan.

Habis Ashar, kamipun tiba di tempat tujuan. Jantur sebuah desa yang cukup dibanggakan dalam mengangkat martabat di masa yang akan datang, Sebuah desa nelayan-kebanggaan. Dan tak lama mentari di ufuk barat mulai menurun menandakan waktu berbuka tiba, ditandai dengan azan Maghrib menggema, menandakan kita harus sujud kepala kepada-Nya, sebagai refleksi imani kita menuju nilai-nilai takwa dibentangkan dalam silabus amaliah Ramadhan, dibentangkan motivasi agar setiap Insan harus pandai bersyukur sekaligus bertafakkur terhadap kebesaran RABBIYAL AZDIM, mengatur alam kehidupan yang penuh dengan Suratan dalam gadha dan gadar-Nya. sebagai RabbiyalA’la di setiap kita.

ramadhan 1420

desember 1999

Bagian

(2)

TARAWIEH, TARAWIEH

Setelah tiba di rumah, istirahat sejenak sambil mengingat-ingat keponakan/keluarga yang setiap tahun selalu bertambah dan besar-besar, menunjukkan suatu dinamika keluarga besar dalam Simpai ukhuwah kekeluargaan.

Demikian ‘sunnatullah’ pergantian regenerasi terus bertumbuh sebagai refleksi tuntutan dan perkembangan zaman.

Maka dalam suasana puasa seperti ini, menjadikan kita harus banyak bertafakkur, sebagai koreksi diri dalam mereformasi pribadi, menunjukkan identitas diri sebagai cermin dan kacamata kehidupan.

Secara pisik, setiap kita bertumbuh, secara materi mungkin juga berubah, setiap zaman pasti ada tuntutan, bergeser laksana mentari yang tatkala pajar shadiq, mecoba memencarkan seberkas sinar, kemudian terbit, terus bergeser dari saat ke saat, tengah hari, hingga tenggelam sebagai istirahat, mengurai segumpal kegiatan dalam menyusuri aktivitas kehidupan.

Dan malam harinya, akupun Ingin bernostalgia shalat Tarawieh di satu-satunya Masjid kebanggaan desa ini.

Lama aku tidak tarawieh di Masjid ini, kalau doeloe waktu aku kecil, shalat tarawieh di masjid ini kebanggaanku, sebab shalatnya cukup banyak (maksudnya rakaatnya 20 tambah 3 witir).

Sebab akhir-akhir ini aku sudah jarang shalat tarawieh 20 rakaat, tapi biasanya diperkotaan rata-rata 8 rakaat tambah witir 3 rakaat. Dalan hatiku, apakah sudah bergeser tatanan shalat di masjid ini, maklum tokoh-tokoh tua, hampir semua tiada, sudah dimakan usia dan bahkan sudah menghadap Tuhan RabbiyalA’la.

Dulu tatkala aku kecil, aku senang shalat di sini sebab imannya cepat dan bacaannya nyaring nyaring, sekuat tenaga (baca: sekuat suara) hingga bacaannyapun kurang jelas. yach yang penting teriaknya dan itulah kesenangan anak-anak!

Setelah shalat tahiyat masjid tak lama azan lsyapun berkumandang, aku cukup terkesima sebab azannya Cukup merdu dan tidak kalah dengan muazin-muazin kota yang professional.

Shalat Isya seperti biasa tidak ada kejanggalan apalagi keluarbiasaan, persis seperti doeloe, wiridan yang cukup panjang dengan berbagai amaliah-amaliah lainnya dan itu biasa-biasa saja.

Tapi tatkala shalat Tarawieh didirikan, nach di sini terjadi sesuatu yang luar biasa, bacaannya masya Allah cepatnya, plus harakah/gerakan shalat hampir tidak ada thuma’ninah, semua serba-serbi, cepat sekali, sehingga aku cukup mengurut dada, sesak napas dibuatnya.

Ditambah lagi bacaan shalawat dan bacaan-bacaan lainnya sekuat tenaga hamper pecah mick dibuatnya. Dalam hatiku ini orang beribadah ? atau lomba teriak dan duluan cepat selesai ! Apakah ini ketidak-tahuan ? atau memang suatu kesengajaan ?!

Sebab shalat 20 rakaat plus 3 witir itu hanya diselesaikan berkisar 20 – 25 menit ! suatu kemasygulan yang mustahil.

Kukira dengan bergesernya generasi tua tempoe doeloe, dilanjutkan generasi sekarang sedikit eda perubahan. Dan perubahan itu semestinya diperlukan, sebab tanpa perubahan apalah arti nilai kehidupan. Bukankah dalam kehidupan ini. secara sunnatullah harus bergeser menuju kepada kedewasaan dan kesempurnaan.

Silakan shalat 23 rakaat, tapi yang wajar-wajar saja, secara sederhana (maksudnya tidak terlalu Cepar dam tidak terlalu lambat), itukan lebih beik, daripada shalat yang diibaratkan Rasul Saw seperti “ayam yang berebut makanan”. Keadaan seperti ini perlu kita reformasi, agar nilai daacatanan ibadah kita sesuai yang dikaehendakf Allah dan Rasul-Nya.

Belum ada tokoh yang mencoba sedikit mengadakan perbaikan di daerah ini, kalau itu suatu ketidaktahuan masih ada pintu perbaikan.

Rasul saw mengingatkan, diangkat pena atau tidak ditulis hanya 3 hal : (1). Orang tidur sampai bangun, (2). Anak kecil sampai baligh “atau sebahagian Ulama menafsirkan ‘orang yang belum tahu sampai dia tahu’ dan (3). Orang gila sampai sembuh.

maka disarankan, kalau shalat tarawieh mau cepat yach rakaatnya saja dipersingkat,jangan bacaannya dipercepat, gerakannya dipercepat, sehingga serba cepat !

Menurut riwayat, Rasul saw shalat tarawieh ini berbagai cara pernah beliau lakukan, sebagai gambaran dari aktivitas umatnya dikemudian !

antara lain :

  1. ada matsna-matsna (maksudnya) 2 rakaat2 rakaat, dengan rakaat tidak terbilang. bahkan diriwayatkan kaki beliau sampai bengkak dan selalu berurai air mata sebagai kekhusyukan menifestasi ibadahnya. Bahkan bacaannya sengat pelan dan cukup panjang. suatu riwayat mengatakan lebih kurang 30 ayat dari al-quran. Kalau kita tidak bisa meniru kaifiyah Rasul ini. yach minimal cara bacaannya yang pelan dan penuh penghayatan.

Kita kadang shalat tertawa, karena ada yang lucu atau keliru, sedangkan Rasul dalam shalatnya selalu berurai air mata, melambangkan kekhusyukan ibadahnya. Beribadah jangan mengikuti nafsu, tapi ikutilah kaifiyah dan aturannya.

  • Ada arba ‘a-arba’a yakni 4 rakaat – 4 rakaat dengan rakaat tertentu yakni 8 rakaat plus 3 witir, semua itu pernah beliau lakukan ! Silakan umatnya untuk menyesuaikan, yang penting, pelan, khusyuk dan penuh kesabaran !

Penulis sendiri tatkala berada di Syria yang di zaman Rasul dikenal dengan sebutan Syam atau Damsyiq, orang di sana shalatnya bukan 20 rakaat tapi lebih banyak lagi hingga 40 rakaat dan setiap dua rakaat mereka istirahat dan memang arti tarawieh itu artinya istirahat. Sedangkan kita mengertikan tarawieh itu ‘ngebut atau tancap gas’ sesuaikah dengan arti sebenarnya ? INI MENJADI RENUNGAN KITA !

Demikian juga dalam melafalkan shalawat, bagi yang mengerti mereka penuh harap dan cemas (raja’ dan khauf) untuk mendapatkan syafaat sedangkan kita berteriak membesarkan urat leher, memecahkan mick dengan penuh kebanggaan.

Pantaslah Rasul saw selalu mengingatkan : “JADDIDU IMANAKUM” reforwasilah imanmu, dengan melaksanakan ibadah yang khusyuk dan tawadhuk mencari mardhatillah dengan bersandar pengakuan sutlak tidak ada Tuhan selain Allah, inilah nilai kepasrahan yang mendasar bagi setiap insan.

Pantaslah Allah swt selalu mengingatkan kita :

…harus ada diantara kamu, sekelompok orang yang mengingatkan pada nilai kebajikan, yakni yang mengingatkan orang dalam menganjurkan pada kebaikan dan kebenaran dan mencegah kemungkaran (kesalahan) mereka itulah orang-orang yang beruntung ..

(OS. Ali Imran » 105).

Maka menjadi renungan kita, apakah amaliah/ibadah kita sesuai dengan tuntunan ? atau sekedar tontonan ? maka kitalah yang memilah!

Dan tentu akhirnya kita hanyalah pasrah. nilai akhir memang di tangan Malik azd-Zdahir, Rabbiyal Azdim, Malikulqadim, pengatur alam Rabbul Alamin yang kita harus mau tunduk kepadanya.

Dan akhir paling akhir, MAKA RENUNGKANLAH !

Bagian

(3)

ZAKAT, ZAKAT

Masih dalam suasana puasa Ramadhan, di desa ini aktivitas keagamaan seperti biasa, namun perlu direformasi/diperbaiki, mulai kaifiyat/tatanan pelaksanaan hingga nawa /niat di setiap kita.

Bukankah Rasul saw mengingatkan kita, bahwa setiap kegiatan/aktivitas kita sesuai dengan nawa (niat)nya.

Dahulu, ketika aku masih kecil. hampir dipastikan selalu membayar zakat (maksudnya zakat fitrah) dengan Guru Mengaji! atau lebih luas Guru (Guru Agama = guru non formal).

Semakin banyak murid guru itu, maka semakin panenlah dia.

Padahal yang benar kita harus membayar zakat (fitrah) itu kepada fakir-miskin, ini yang lebih utama, atau paling tidak sebagaimana yang tercantum dalam al-qur’an surat at-Taubah ayat 60 : yakni 8 asnaf, mereka ialah : fakir -miskin —amil — muallaf — budak — gharim (orang yang berhutang) — fisabilillah – wabnis sabil (musafir) yang kehabisan bekal!

Maka yang ada di desa ini/ atau yang dilaksanakan oleh muzakky (pembayar zakat) kepada mustahig (penerima zakat) yang keliru !

Kenapa keliru ? sebab mustahiqnya orang-orang mampu, dan kita bertanya apa kriteria mampu ? Gurunya lumayan atau kehidupan gurunya rata-rata di atas kemiskinan dan bukan di bawah kemiskinan, sedangkan orang-orang miskin yang hidupnya pas-pasan/ di bawah kemiskinan, mereka tidak mendapat zakat, karena haknya sudah diambil oleh-oleh guru-guru tersebut.

Maka ada istilah, lebaran Puasa, panen buat Gurunya, hingga orang miskin merana.

Kalau gurunya juga ingin menerima, yach kelompoknya paling tidak ‘fisabilillah’ tapi perlu diingat, kelompoknya urutan keberapa ? Orang fakir-miskin prioritas urutan pertama yang bermukim di desa itu, bukan kelompok Guru/fisabillah yang dapat diklassifikasikan (kelompok pendatang) dan mendapat bagian yang lebih banyak dari fakir-miskin yang bermukim di daerah tersebut.

Oleh sebab itu, kewajiban para Guru, Da’I dan Petugas Penyuluh Hukum serta hal-hal yang terkait memberikan kesadaran Hukum (darkum) terhadap masyarakat desa dalam menunaikan zakat, khususnya zakat fitrah, agar pendistribusiannya benar sesuai dengan syara’ dan tepat sasaran.

Apalagi kalau dikaitkan dengan Undang-Undang Zakat No. 38 tahun 1999, ini menjadi renungan ! Sebagai solusi awal terhadap gejala yang ada di masyarakat kita dewasa ini, para guru boleh saja penerima, tapi Sebagai AMIL kemudian disalurkan kepada yang mustahiq.

Kalau hal seperti Ini terjadi, maka insya Allah. sesuai dengan syara’ dan tepat sasaran. Dan kalau perlu di desa ini dihentuk LAZ (Lembaga Amil Zakat) atau BAZ (Badan Amil Zakat) dalam mengkoordinir zakat.

Apalagi kalau melihat potensi di daerah ini, bukan hanya zakat fitrah yang menjadi objek sasaran dan lebih besar lagi zakat mal (zakat harta) yang langka terdengar di daerah ini, padahal daerah ini para aghniya (orang-orang kaya cukup bertebaran banyak nya), kalau ini dikoordinir insya Allah akan membantu pertumbuhan perekonomian rakyat khususnya yang bersifat produktif.

(Sampai dimana usaha para Guru atau yang dianggap tahu dan mengerti masalah ini berbuat), wallahu a’lam bisshawab !

Bagian

(4)

LEBARAN, LEBARAN

Suasana lebaran di desa Ini sangat meriah, sebab ketatnya kultur sosial-keagamaan memberikan warna terhadap warna dan tabiat warganya.

Menyambut lebaran dengan suasana demikian pemberikan kesan dan penilaian tersendiri, sebagai untaian sampai yang melekat dari generasi ke generasi.

Ada kebanggaan di daerah ini, mulai anak kecil hingga lansia, betapa gigih melaksanakan ibadah puasa. Dan mereka malu kalau tidak berpuasa, yach walaupun puasanya yang sekedar puasa.

Hal ini dapat dirasakan, betapa banyak arang yang berpuasa, tapi tidak shalat, juga tidak melaksanakan amaliah-amaliah sunnat lainnya. Inilah sekilas gambaran puasa di desa ini.

Rasul saw mengingatkan : “banyak di antara kalian yang berpuasa tapi tidak dapat dikelompokkan berpuasa, puasanya hanya sekedar menahan lapar dan dahaga”.

Setelah sebulan penuh berpuasa, waka tibalah suasana lebaran (Idul Fitri). Lebaran di desa ini lebih spesifik kalau tidak boleh dikatakan sebagai eksklusif.

Mengapa demikian? Sebab melihat cara mereka memakai busana/pakaian. Pakaian kebesaran semua dikeluarkan, orang yang haji lengkap dengan pakaian kebesaran haji, seolah-olah hari raya ajang ‘modeling’ pakaian haji.

Berbicara mengenai pakaian ini, tidak ada rumusan pakaian haji yang benar pakaian Arab, lucunya kita lebih Arab dari orang Arab.

Bahkan dahulu ada tokoh agama bilang di desa ini, dengan sedikit fatwa, siapa memakai kopiah haji (maksudnya songkok putih = Arab) selama 40 hari berturut-turut, dianggap melaksanakan haji kecil !

Fatwa seperti ini sungguh keliru dan menyesatkan ! Sebab kopiah/songkok itu, bukan menyangkut ibadah tapi hanya adapt-kebudayaan atau orang Arab menyebutnya ‘tsaqafah ‘.

Dan tidak ada dalam buku-buku figih mengatakan, memakai songkok/kopiah apapun, putih, hitam, kuning, hijau dan lain-lain hukumnya sunnat. Atau memakai baju ghamis ala Arab, sunnat, semua itu kita tidak temukan dan bahkan tidak akan ditemukan dalam figih manapun juga. Silakan berpakaian ala Arab atau ala apapun tapi jangan menetapkan hukumnya. Kalau sudah haji tidak lepas dengan songkok putihnya, kalau lepas songkoknya (tidak dianggap haji)? Kebiasaan kita kalau sudah haji (maksudnya menunaikan ibadah haji) identik dengan pakaian kebesaran (tsagafah) Arab, itu boleh-boleh saja. Ingat ! haji bukan title atau gelar, tapi haji adalah ibadah.

Jadi kalau haji diartikan gelar/titel maka Gimana nilai ibadahnya ?

Oleh sebab itu Allah mengingatkan kita : “Sempurnakanlah haji dan umrah benar-benar hanya karena Allah” (OS.al-Bagarah : 196).

Tapi kalau gelar haji dijadikan sebagai ‘remote control ‘ kegiatan/aktivitas kita dalam menangkal perbuatan-perbuatan keji dan mungkarat lainnya, mungkin boleh-boleh saja, tapi kalau gelar haji / hajjah dijadikan sebagai prestise (gengsi), sebagai mengangkat Status sosial maka ini kita perlu beristighfar dan berlindung kepada Allah.

Hal ini dapat kita rasakan,kalau di kampong sendiri, tidak lepas dengan songkok putihnya, tapi kalau berada di luar (kampung lain) dia bebas bergaya sebebas-bebasnya.

Inilah gaya haji mendua yang dalam bahasa agama di sebut munafiq.

Haji adalah rukun Islam terakhir, sebagai perlambang bahwa kita sudah berusaha menjadi seorang Muslim yang kaffah (secara formal). Tapi pada kenyataannya, kita masih menemukan haji yang shalatnya masih belang kambingan, bahkan tidak shalat-shalat.

Juga masih ada haji yang kita temukan tidak puasa, karena lantaran alasan kerja juga kita masih jumpai haji yang belum atau bahkan tidak membayar zakat, maka dimanakah nilai haji itu ?

Oleh sebab itu, kalau mau naik haji, jadilah haji yang komprehensif yakni benar-benar sudah menyelesaikan rukun Islam, dimulai syahadat yang  benar yakni hanya pasrah dan tawakkal kepada Allah, jangan sudah haji masih percaya kepada dukun, percaya kepada azimat, percaya kepada kuburan, percaya dan percaya dengan berbagai macam kepercayaan yang menimbulkan khurafat dan lain-lain. maka dimana letak syahadat kita?

Demikian juga pelihara shalat, dalam suasana situasi dan kondisi bagaimanapun, seorang haji mesti shalat dan tidak ada alasan untuk tidak shalat kecuali yang memang dibenarkan syara’

Terus puasa, zakat, khususnya zakat mal (harta) hitung apakah sudah masuk nisab, kalau ya segera keluarkan zakatnya. Jangan haji menjadi haji bakhlul (pemalar = kikir).

Kalau sudah keempat rukun tersebut kita berusaha maksimall untuk memenuhinya, baru haji (mudah-mudahan mabrur).

Inilah hakikat tertinggi haji, urutan kelima rukun Islam sudah dijalankan dengan benar (usaha maksimal) menuju kearah itu, insya Allah.

Maka kalau ini belum sempurna, perlu kita haji sekali lagi dengan melaksanakan manasik haji yang baik dan benar.

Jangan haji dilambangkan dengan pakaian. tapi lambangkan dengan kegiatan/ sikap dan keteladanan.

Alangkah malunya kita, berpakaian haji, menyandang titel haji, tapi perbuatan kita suka memeras orang lain, menzalimi orang lain, makan riba, manis di mulut tapi di hati penuh dengan karatan-karatan penyakit yang menyakitkan, menumpuk harta dengan berbagai cara, songkok tidak pernah terlepas, tapi kibir (kesombongan) masih juga melekat, apalagi kalau sudah haji masih menjual/membeli minuman keras, nomor undian dan lain-lain yang tercela lainnya, dimana nilai hajinya ? Masya Allah !

Pantaslah Allah mengingatkan kita via Rasulnya, bahwa “Allah tidak akan melihat pakaianmu, bentuk tubuhmu, status kekayaanmu, tapi Allah hanya melihat hatimu dan ketakwaanmu!”

…bahwa pakaian yang terbaik, ialah pakaian takwa…” (QS.AI-A’raf :260)

WALLAHU A’ LAM BISSHAWAB!

Bagian

(5)

JANTUR BERTUTUR

(SURAT UNTUK SEORANG SAHABAT)

danau jempang danau melintang

danau semayang banyak iwaknya

hatiku rindu terkenang-kenang

rindu bertemu itu obatnya

Sobat,

Kutulis surat ini kepadamu. sebagai rasa rindu atas berbagai peristiwa yang kau alami, bukan ingin membangkitkan luka hati, apalagi menjadikanmu sedih, tapi hanya ingin mengingatkanmu beberapa nostalgia sebagai Simpai kehidupan kita.

Apa kabarmu sekarang ? Lebih kurang 20 tahun yang lalu kita berpisah, suatu rentang waktu yang cukup panjang tapi kalau kita jalani. rasanya baru kemarin pagi.

Sobat,

Aku merasa bangga dapat menelponmu walaupun susah payah aku mencarinya, namun berkat keuletanku, akhirnya aku bisa bercakap denganmu walaupun hanya lewat udara. Ada keseriusan, keterbukaan dalam menatap masa depan.

Sobat,

Dua puluh tahun sudah kau meninggalkan kami, dua puluh tahun berlalu adalah waktu yang cukup panjang terlewati. Kali ini aku akan mengingatkanmu tentang Jantur, kampung halaman, Sebuah desa yang cukup padat dan dinamis menyesuaikan tuntutan dinamika zawan.

Desa ini terletak di antara dua danau yakni sebelah barat dengan danau Jempang dan sebelah timur dengan danau Tempatung, kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kalimantan Timur.

Sobat,

Dua puluh tahun berlalu, terlihat wajah desa ini seperti biasa, hampir tak berubah tidak seperti layaknya kita semakin usia bertambah, semakin berkerut ruas wajah, menggambarkan terpaan nuansa kehidupan yang kadang-kadang melambangkan wajah yang lebih tua dari usia sebenarnya.

Sobat.

Dua puluh tahun berlalu, bias berarti namun bias pula menjadi sia-sia seperti sia-sianya embun yang tercurah di dedaunan, lenyap ditelan mentari pagi, semuanya tergantung kepada kita, an maju selangkah demi selangkah atau mundur setapak demi setapak.

Bukankah Tuhan telah malansir peringatan, bahwa tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kalau mereka tidak mau merubahnya. (OS. 13 : 11).

Sobat,

Kau wasih ingat gemuruh ketinting jukung nelayan berlomba merebut rezeki Tuhan, bak burung yang terbang pagi sekali, mencari sesuap wakanan dan pulang petang memberikan harapan.

Keindahan gemuruh ketinting memberikan Insprirasi memecah keheningan subuh yang menstinya sepi, berubah menjadi hiruk-pikuk  yang gaduh.

Azan subuh berkumandang, bertaut antara gemuruh ketinting, melanda kekejaman watak manusia yang sibuk dengan urusan dan tuntutan dunia. Masjid yang satu-satunya terletak di Murung yang cukup besar, sebagai saksi bisu kesibukan senusis berjamaah subuh bisa dihitung insan pilihan. sebagai gambaran dalam meniti kehidupan.

Konon desa ini cukup potensial, dinamis dari sekian desa yang ada di kecamatan ini. Letak yang strategis serta kerukunan warganya yang semuanya beragama Islam sampai hari ini belum ada tempat ibadah lain di desa ini selain masjid.

Jantur, memang desa yang cukup pesat dalam mengembangkan misi Islam, sehingga guru-guru agama silih berganti, menyusur sungai – menyimpai ranai, berpacu rasa, memecah kegemuruhan sunyi, meniti tangga membawa pelita.

Sobat,

Kau masih ingat madrasah Ibtiyah “Al-Ikhlas” yang terletak bersebelahan dengan Masjid Jam ‘iyatuqtaqwa, aku langsung teringat dengan ucapanmu ketika kita belajar tempo hari, walaupun anekdot tapi terasa pikiranmu jernih dalam menangkap sebuah makna yang tersirat dari tersurat.

Kau bertanya, kawan tahukah arti al-ikhlas ? kujawab tegas “tulus” kau giling-giling kepala, bukan itu maksudku, tapi diberikan nama alikhlas, maksudnya setiap ustadznya diminta satuk ikhlas beramal dan mengajar di madrasah ini.

Sobat ,

Dua puluh tahun yang lalu, Jantur memang desa tidur, khususnya dalam bidang pendidikan. Ada yang beranggapan untuk apa anak bersekolah tinggi. kalau sudah selesai mereka lari dari kita. memang kenyataan masih terasa, tapi tugas kita yang utama sebagai orang tua ialah ingin menjadikan putra putri kita/ generasi yang akan datang lebih baik dari kita terdahulu.

Sedangkan asumsi nada waktu Itu anak adalah kekayaan, sehah anak itu membantu Orang tua bekerja, khususnya jadi nelayan.

Lebih-lebih lagi anak perempuan. jangankan tamat SD yang masih ingusan saja sudah dijodohkan biar tidak menjadi “perawan tua” berangkali !

Sobat,

Itu dua puluh tahun yang silam dan kini dua puluh tahun ke depan, Jantur desa indah yang penuh parabola, warganya sudah menikmati arus informasi dunia, bisa menonton sandiwara negara tetangga. Singapura, Malaysia, bahkan Australia. Juga nonton freen show alat Barat. tapi benyolan terjadi, menonton hanya menerjemahkan sendiri gambar yang dilihat, tanpa mengerti teks asli yang sebenarnya. Sebab zaman boleh berkembang, teknologi boleh canggih, duit boleh bertumpuk tapi ilmu adalah harta yang paling amat berharga.

Anak kecil boleh bercerita tentang dunia, tapi apa arti cerita dunia itu yang menjadi masalah.

Sobat,

Jantur sekarang sudah lebih maju, bahkan di desa ini anak-anak muda sudah biasa mojok dengan HT (handy talky), menjangkau keseluruh wilayah Kaltim bahkan sampai ke Kalsel. Demikian juga di desa ini sudah ada aliran telkom, waluapun menggunakan HP satelit.

Gadis-gadisnya sudah mulai berani mejeng di pinggir jalan dan cowok-cowoknya sudah berani mentrakter malam hingga mabuk kepayang. Gemuruh pajar di desa Jantur, menyingkap tabir arti kehidupan melambangkan arus perubahan sekaligus menjadi renungan !

Sobat,

Benar katamu, setiap pergantian pajar, merentangkan peristiwa, membentang problema, hidup baru terasa, kalau diisi jiwa dengan setetes embun pagi yang jatuh di padang – menghilang, kemudian menjelma menjadi hakikat masa.

Warga Jantur yang selalu berkonsentrasi mencari ikan dan pandai membuat berbagai jenis alat penangkap ikan yang sesuai dengan kondisi dan tuntutan yang sukar ditandingi oleh masyarakat pedesaaan lainnya di Nusantara ini.

Tapi sobat, Jantur juga sudah latah dengan pengaruh-pengaruh luar, nomor undian/judi di daerah ini juga marak, demikian juga cerita yang berbau porno balikan praktiknya juga sudah mulai terdengar dan pemudanya sudah tidak tabu lagi membicarakannya.

Sobat,

Gemuruh pajar, menyingsing peradaban, memberikan etos kerja setiap warganya, khususnya kaum mudanya itu yang pernah kau ucapkan sobat, kau bangga bahwa dulu di desa ini tidak ada istilah pengangguran, tidak seperti masyarakat perkotaan yang selalu

bergejolak dengan pengangguran dan kebejatan moral, tapi di desa ini katamu sobat. anak-anak di bawah usia kerjapun sudah turut bekerja membantu orang tua mereka dengan sopan dan patuhnya.

Tapi sobat, sekarang etika itu sudah mulai berubah, berubah dengan gejala alam. menggeser nilai tatanan peradaban, menggeser sebuah wawasan, wenggeser dimensi sosial sebagaimana tergesernya usia tua menggilas masa remaja.

Dua puluh tahun berlalu, gemuruh pajar menyibak keterlenaan masa. berpacu dalam ijtihad alam, berlomba mencari arti. penyejuk hati, sabar dan tawakkal tinggi, ciri khas masyarakat ini.

Gemuruh pajar, memberikan harapan indahnya nuansa alam, harus berpacu membangun kampung halaman. sekaligus merubah persepsi tendensi zaman. yakni harus merubah pola pemikiran. memajukan sistem pendidikan kepada generasi mudanya.

Karena dengan pendidikanlah seseorang mengerti hakikat alam, dapat mengikuti perkembangan dan tidak latah dengan arus sampelan.

Mengerti tujuan, mengerti arti pembangunan, mengerti tentang wawasan dan yang lebih penting lagi mengerti tentang diri.

Pendidikan yang berarti dapat membaca alam sekaligus menciptakan nuansa harapan yang penuh realita dan bukan khayalan belaka.

Kini dan masa mendatang pendidikan putra-putri Jantur perlu mendapat perhatian dari semua lapisan, khususnya terhadap orang tua yang masih berpikiran klassik, perlu mendapat sorotan dari tokoh-tokoh dan pemuka masyarakat , untuk menciptakan Jantur yang dinamis, estetis dan praktis wenuju pembangunan yang harmonis dan diridhai Tuhan.

Putra-putri Jantur yang sudah berhasil, baik di bidang pendidikan maupun karier, hendaknya tidak melupakan gemuruhnya pajar, tidak melupakan jukung dan pengayuhnya dan tidak melupakan kenangan-kenangan waktu kecil yang menyimpan dalam kenangan masa.

Bukankah kenangan itu suatu nostalgia yang indah, tatkala di kenang walaupun pahit tatkala merasakan.

Sobat,

Jantur gemuruh menyingsing pajar, kini sudah mulai berbenah diri, desa yang cukup tua ini Sudah mulai dipoles dengan makeup, memberikan warna cerah, laksana gadis remaja yang selalu bersolek diri, hal ini ditandai dengan listrik masuk desa, jembatan ulin terpanjang yang mengitari desa, melingkar laksana warna pelangi yang membantang di danau Jempang dari Muara Ohong sampai Tanjung Isuy.

Jantur desa besar yang terdiri empat bagian yakni Kampung Lama Kadangiring Kampung Tengah dan kampung Baru dan kini dibagi menjadi dua desa yakni Jantur Utara dan Jantur Selatan, Kecamatan Muara Muntai-Kabupaten Kutai Kertanegara.

Dan menurut pengamatan Jantur sudah Jayak menjadi sebuah Kecamatan, kapan dan bagaimana usaha ke arah itu, terserah Pemda, khususnya Muspika Kecamatan dalam memasang kacamatanya untuk efeiensi pemerintahan dalam tuntutan dan kemajuan pembangunan.

Dan bagaimana kesiapan warganya, Jantur sudah mempersiapkan putra-putrinya menyongsong regenerasi tersebut.

Menurut data dana pengematan, putra-putri Jantur sudah banyak yang sarjana, sudah banyak yang menjadi pegawai negeri. Tinggal partisipasi aktif mereka, apakah Jantur bak perungguk merindukan bulan ? atau menunggu percaturan bintang dan bulan ? hal ini sudah tentu diperlukan kesadaran dan dedikasi perbuatan.

Untuk membenahi persepsi seperti ini, tidak berarti putra-putri Jantur yang sudah berhasil untuk turun ke Jantur secara serempak atau meninggalkan identitas keterkaitannya, tapi diharapkan sebuah sumbangan pemikiran, menuju perbaikan dan itu harapan.

Sobat.

Jantur akan tertawa lebar, kalau cucu-cucunya tanggap dan melirik serta memperhatikan dimensi kepekaannya. Dan Jantur akan menangis tersedu, kalau cucu-cucunya sombong, tak menegur sapa dan mementingkan kepentingannya saja.

Dan kalau adda kesempatan/liburan cucu-cucunya enggan untuk pulang, karena ketuannya, bahkan melupakan dan membiarkan ia bangka, jeritan pilu dan renta, doa di malam gulita, gemuruh guntur di siang terang, sembumihanguskan laksana kuburan dan sudah tentu ini tidak diharapkan.

Jantur gemuruh pajarmu menyimpai nuansa, melintas nostalgia, membangkitkan putra-putrimu untuk maju menyususr liku-liku, meninggalkan romantika indah, menjadikan dewasa dalam tatanan pahit dan getirnya kehidupan.

Jantur,

Kerinduan ini ingin menuntunsu, bersama dengan tuntunan masa, biar renta-weronta. kau tatap tebah meniti dan membimbing setiap insan yang mengerti arti kehidupan.

Berkembanglah dalam nuansamu dan jangan terpengaruh oleh arus yang bukan milikmu. Berdoalah. karena setiap doa mempunyai imbas dalam meniti arus, memilah antara hak dan bathil, serta menjamah tawar dalam bunga rampai kehidupan.

Gemuruh menyingsing pajar, kemudian terangb benderang dan kitapun sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *